Headlines News :

The Winners Are......???!!!

The Winners Are......???!!!
Caricatures by Amir Taqi, Irak

Latest Post

Komedi Manusia karya Tiyok

Written By Admin on Monday, January 19, 2009 | 12:11 PM

Dulu dan Sekarang karya Tiyok

Jalan ke Sorga karya Tiyok

Pilihan dan Risiko karya Tiyok

Perdamaian di Mana Kau karya Qomar Sosa

Written By Admin on Wednesday, January 14, 2009 | 1:27 AM

Minta Disuapin Sampe Tuek Karya Jitet Koestana

Written By Admin on Wednesday, December 31, 2008 | 12:08 AM


Kemiskinan Rasa Humor

Oleh Darminto M Sudarmo


GAUNG isu pemberantasan kemiskinan tampaknya masih akan relevan hingga beberapa dekade mendatang. Persoalan kemiskinan, ternyata tidak hanya berkaitan dengan kasus ekonomi, namun juga menyangkut persepsi individual dan pola pikir kultural. Termasuk bagian yang disitir Jacob Soemardjo (Hikayat Si Miskin, Kompas, 26 November 1994), kemiskinan rohani, yang hingga kini belum disentuh setajam kasus kemiskinan jasmani.
Kemiskinan yang diderita masyarakat dunia berkembang memang lengkap. Dari kemiskinan materi, informasi, referensi, partisipasi dalam ajang perebutan peluang global, hingga ke hak-hak privasi selaku warga negara dan anggota masyarakat sebuah komunitas.
Akumulasi dari keseluruhan kasus di atas umumnya hanya menghasilkan penderitaan, ketertinggalan, keminderan, ketergantungan dan ketidakberdayaan. Masyarakat dalam strata peran yang demikian, memerlukan waktu yang cukup untuk membenahi diri. Banyak teori dan solusi kunci yang dimajukan para ahli untuk mengurai kasus kemiskinan, namun watak dan ciri kemiskinan yang beragam, ternyata tetap memerlukan fleksibilitas dan fisibilitas pendekatan dalam praktek di lapangan. Upaya-upaya general dan mengabaikan ciri lokal, lebih banyak terjebak pada hasil yang spekulatif dan krusial.

*

SEMENTARA itu, di bagian lain dari percaturan kemiskinan yang tidak sederhana masalahnya itu, kita dihadapkan lagi pada persoalan "kemiskinan" attitude atau eleganitas sikap dalam pergaulan masyarakat global yang -- konon -- sudah terpola oleh satu kriteria cara bertata krama yang santun tapi demokratis sesuai asas peradaban masyarakat internasional. Dalam arti memuat substansi, selain luwes dan elegan, juga memiliki rasa humor (sense of humour) yang memadai.
Kepemilikan rasa humor, diwujudkan dalam ekspresi-ekspresi yang sederhana. Tidak mudah tersinggung oleh stimulasi minor pihak "rival" dan fakta-fakta otentik di luar prediksi. Tidak membuat persoalan menjadi menggantung, sehingga pihak lain menjadi bingung lalu mengambil manfaat dari kondisi yang "konterapung" itu. Tidak gampang terjebak oleh agresivitas emosi primordial dan agitasi yang tidak fair. Sanggup melihat sisi "lucu" dari kekurangan dan ketidaksanggupan diri. Sanggup mengapresiasi, bahwa kekurangan dan kelebihan; kejahatan dan kebaikan; bukan monopoli pihak tertentu.
Kepekaan rasa humor juga muncul karena kemampuan melihat "sesuatu" yang dapat merangsang perasaan intelektual sehingga tercipta proses netralisasi. Ekspresi orang-orang yang memiliki peradaban humoristis, akan bernuansa lain dari yang berkecenderungan anarkis. Meskipun, keduanya sama-sama hendak melakukan "upacara" pelepasan katub penyumbat.

*

OLEH karena itu, manfaat yang dapat dipetik dari "kekayaan" rasa humor, bukan saja ketika harus berurusan dengan masalah-masalah individual, melainkan juga masalah sosial dan budaya dalam pengertian seluas-luasnya. Fakta-fakta yang dipaparkan di media massa dan cenderung sulit dilacak nalarnya, dapat ditemukan dengan menyediakan pendekatan lewat dimensi humoristis.
Masyarakat humoristis tak akan bingung lagi kalau mendengar usulan seorang pakar komunikasi yang bunyinya, pintar-pintarlah masyarakat membaca berita yang tak terbaca. Siaran yang tak disiarkan. Bahkan, iklan yang tak diiklankan.
Masyarakat demikian juga tak mungkin bingung mengakses komentar pejabat yang kadang terlalu luas dan berbau jargon untuk masalah-masalah yang sederhana dan kasuistik. Ashadi Siregar pernah menyindir pers yang cenderung ngublek-ublek fakta lunak namun lembek ketika berhadapan dengan fakta keras. Darmanto JT merasa aneh melihat sikap sementara pihak yang mencemaskan pengaruh buruk televisi: kalau itu benar, berarti sudah banyak orang Indonesia yang pandai karena pengaruh televisi pula.
Fakta-fakta humoristis, bahkan dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa kita punya istilah: pengusaha jago kandang, yang gigih memohon proteksi tapi keok dalam kompetisi terbuka? Mengapa ada anjuran: penegak hukum agar tidak menari di atas "bangkai" si pelanggar? Tentu saja semua itu menyiratkan kondisi yang di dalamnya memuat ketidakwajaran-ketidakwajaran antara konsep dan praktek di lapangan. Adanya pelecehan fungsi profesi. Adanya sikap jalan pintas yang menyepelekan sistem, mekanisme. Dan ini semua menjadi "santapan" lezat bagi masyarakat humoristis untuk menakar apresiasi dan daya nalarnya agar tidak kecebur dalam lumpur anarki. Tidak nyasar ke kemiskinan akal budi.

Darminto M Sudarmo, penulis dan pengamat humor.

Perdamaian dan Kedamaian, Ada Apa denganmu? Karya Jitet Koestana

Written By Admin on Tuesday, December 9, 2008 | 8:51 AM


Catatan Kajian Humor Dua Dekade Terakhir, Berpiknik ke Wilayah Instrinsik


Oleh Darminto M. Sudarmo

Apa boleh buat; kajian humor mau diringkas dalam satu tahun terakhir, ternyata tidak ada wacana apa-apa; negeri ini memang demikian; suka makan kue tapi ogah repot bagaimana membikin kuenya; apalagi ribet soal ilmu tentang membikin kue. Naik motor, mobil, kereta, kapal laut, pesawat terbang, ya untuk mobilitas. Seni di balik otomotif, di balik semua transportasi darat, laut dan udara, mungkin menarik; tetapi yang lebih menarik lagi adalah soal bisnisnya. Mau apa lagi?
Kendaraan rusak sudah ada bengkel, semua transportasi sudah tersedia maintenance-nya. Mau romantik sedikit soal kendaraan dan mobil kuno, yang punya sejarah dan kenangan sangat pribadi atau tak tergantikan oleh apapun, tetap saja dianggap sebagai persoalan yang kurang kerjaan dan buang-buang waktu. Pola pikir prgmatis memang berpendapat demikian, tetapi bahwa ilmu tentang otomotif dan alat transportasi darat laut udara tetap harus selalu ada, itu diperlukan agar peradaban tidak punah. Humor juga.
Ia bukan soal lelucon dan kata benda saja. Karena ada humor yang dimaknai sebagai lucu yang berarti kata sifat. Ada humor sebagai terminologi yang ternyata memiliki sejarah perubahan makna cukup lucu; dalam bahasa Latin, humor berarti cairan, anehnya dalam perkembangan waktu terjadi metamorfosa makna yang sangat mengagetkan, menjadi berarti: lelucon, lucu, guyon dan sebagainya.
Situs Wikipedia memberikan gambaran humor secara umum sebagai berikut: Humour or humor is the tendency of particular cognitive experiences to provoke laughter and provide amusement. Many theories exist about what humour is and what social function it serves. People of most ages and cultures respond to humour. The majority of people are able to be amused, to laugh or smile at something funny, and thus they are considered to have a "sense of humour".
Lalu sense of humor itu apa? Mengapa orang dengan latar belakang pendidikan, pengetahuan, budaya dan lain-lain yang berbeda juga memiliki rasa humor yang berbeda pula? A sense of humour is the ability to experience humour, although the extent to which an individual will find something humorous depends on a host of variables, including geographical location, culture, maturity, level of education, intelligence, and context.
Setiap lapis strata, setiap lapis intelegensi , budaya, usia, konteks persoalan maupun geografi berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam mengapresiasi karya humor. Itulah mengapa ada kelompok masyarakat yang merasakan kelucuan dari humor jenis slapstick (kasar) atau bahkan baru ketawa setelah melihat karya humor yang sarat berolah logika.
Arwah Setiawan, salah seorang humorolog serius dan ketua Lembaga Humor Indonesia berpendapat, humor adalah sebuah gejala yang secara mental mendorong orang untuk ketawa. Ia membagi humor menjadi dua. Pertama humor tak sengaja, peristiwa yang lucu; dan kedua, humor yang disengaja, karya humor hasil kreasi manusia. Lepas dari itu, pada akhirnya berbagai tokoh di dunia juga membuat definisi humor yang ternyata berbeda antara satu dan lainnya.
Sementara para praktisi lebih melihat bahwa humor adalah sebuah energi budaya. Energi yang mengandung pengertian sangat rumit. Begitu rumitnya, sehingga ia sekaligus memuat rajutan yang bertali-temali antara kekuatan rasa dan intelektualitas. Menikmati seni an sich, biasa dilakukan orang dengan otak kanan; menikmati kehebatan dan ke-genuine-an gagasan atau konsep, dengan otak kiri; lha, dalam karya humor , dua wilayah itu bertemu dan ditemukan dalam suatu adonan yang kemudian berwujud sebuah sajian.
Dalam tahun-tahun dahulu kala (1980 ke 2000), di negeri ini cukup banyak terjadi event yang agak berbau “diskursus” tentang humor. Seminar tentang humor diselenggarakan di mana-mana. Di Semarang, Pertamor (Perhimpunan Pencinta Humor) lewat prakarsa Jaya Suprana , berkali-kali ia mengundang tokoh-tokoh penting untuk bicara tentang humor (lihat: SPA: Semarang Pesona Aneh-aneh di http://www.kolomhumor.com/) .
Sebelumnya di Jakarta, Arwah Setiawan lewat Lembaga Humor Indonesia, bukan saja menyelenggarakan berbagai seminar tentang humor, tetapi juga lomba musik humor, pentas seni humor yang diikuti pelawak atau grup lawak seluruh nusantara; dan tak terkecuali pameran karya humor: dari karikatur hingga humor multidimensi. Artinya, pada tahun itu, wacana tentang kartun instalasi (karya humor eksperimental) sudah ada mendahului berbagai pameran seni rupa modern atau instalasi yang sekarang tampak lagi marak dan jadi pusat pergunjingan estetika.
Senyapnya wacana tentang humor, justru makin terancam oleh bergugurannya media-media (majalah) tentang humor , ditambah belum lama ini KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) melarang sebuah talkshow yang berbasiskan host pelawak (Tukul Arwana/Empat Mata) yang memuat adegan kurang layak sehingga mengundang protes para penonton dari berbagai wilayah di Indonesia (lihat: Kontroversi Ruang Katarsis di http://lawakindonesia.blogspot.com/). Ada persoalan inti yang agak kurang sreg setelah menyimak aturan main yang diterbitkan KPI tentang acara TV, khususnya yang berkaitan dengan karya humor. Dari pasal-pasal dan ayat-ayat yang jadi rujukan, nyaris mengerucut pada persoalan etika; dan hampir tak ada yang mengakomodasi ke persoalan estetika, khususnya estetika seni humor; sehingga untuk acara seperti “Suami-suami Takut Istri” atau “Extravaganza” yang nyata-nyata berbasiskan komedi/humor, tetap diteropong dari kacamata acara sinetron pada umumnya.
Salah satu estetika seni humor yang belum diakomodasi adalah persoalan salah-benar. Tak ada salah dan benar dalam seni humor; yang ada adalah lucu tidak lucu atau baik tidak baik. Dan itu sebenarnya juga merupakan persoalan dalam dunia kreativitas pada umumnya.
Catatan yang ditawarkan para ahli ini mungkin menarik menjadi bahan pertimbangan untuk para praktisi dan peminat kajian humor pada umumnya, bahwa humour occurs when: an alternative (or surprising) shift in perception or answer is given that still shows relevance and can explain a situation. Sudden relief occurs from a tense situation. "Humourific" as formerly applied in comedy referred to the interpretation of the sublime and the ridiculous, a relation also known as bathos. In this context, humour is often a subjective experience as it depends on a special mood or perspective from its audience to be effective. Two ideas or things are juxtaposed that are very distant in meaning emotionally or conceptually, that is, having a significant incongruity. And one laughs at something that points out another's errors, lack of intelligence, or unfortunate circumstances; granting a sense of superiority.
Sekian, salam humor selalu.

Darminto M. Sudarmo, penulis dan pengamat humor.

Amir Taqi's Works

Amir Taqi's Works

Popular Posts

Related Blog or Site

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kostum - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger | Distributed by Rocking Templates