Headlines News :
Home » , , » MARI MEROKOK DAN NGOPI, MBAH SURIP

MARI MEROKOK DAN NGOPI, MBAH SURIP

Written By Admin on Wednesday, August 5, 2009 | 1:36 PM

Oleh Tandi Skober

Pemred Foeza lesu memegangi segelas susu. Kardy tak jua berhenti meratapi baris-baris huruf Mbah Surip. Reni Teratai Air menulis luka di dinding facebook. Ketiganya, tersentak saat Indonesia khabarkan seniman beraroma tembakau itu fawat. Aku? Memandangi rokok kretek gudang merah dan segelas kopi. “Dua hal ini disukai mbah Surip,”bisikku,”Dan dua hal ini yang membuat kematian tidak bikin repot bagi anak dan keluarga yang ditinggalkan.”
“Tandi,” Foeza menepuk bahuku,”Kamu wawancarai siapa saja yang bisa ngerti alur hidup seniman low profile beraroma tembakau berbibir sehitam kopi.”

***

Ini tak sulit! Aku langsung masuk dalam ruang rumah produksi Ginsa. Di sini ada Sultan Jawer. Berikut wawancaraku dengan yang air seninya juga beraroma tembakau.
Tandi : Ko, pakek baju hitam?
Sultan: Ini warna belasungkawa atas kematian Mbah Surip.
Tandi :Loh kenapa hitam? Apa mau ndoain agar di alam barzah, Mbah Surip bakalan tinemu alam hitam, gelap yang bikin sesak napas? Harusnya pakek baju serbah putih. Doain agar Mbah Surip di alam barzah akan ditempatkan di ruang bercahaya putih, luas, indah. Dan digendong para malaikat menuju alam abadi ukhrawi.
Sultan: Aih...aih... kamu itu mau mewancarai simkuring atau mau berdebat soal alam barzah?
Tandi: Hmm, punten. Maaf. Begini, bagaimana pendapat anda soal khusnul khotimah?
Sultan: Kasihan dia itu. Cacad. Tiap kali saya melihat Khusnul Khotimah di layar teve one, saya jadi sedih. Wanita itu adalah korban bom bunuh diri di Bali....
Tandi: Loh? Ini bukan mbak Khusnul Khotimah korban bom bali. Ini soal detik-detik kematian. Bagaimana sikap anda sebagai seniman unik, nyentrik yang dikantongya ada deposito mencapai empat miliar rupiah pada saat bersua dengan detik-detik kematian itu?
Sultan Jawer berhenti menangis. Ia isap rokok kretek gudang garam merah. Asap bersinergi dengan rambut keriting kering. Dan dari bibirnya itu mengalun tembang lama cirebonan” Gedong ana koncen nana, Wong mati masa wurunga”
Tandi :Kok nyanyi? Apa pas mau mati harus ada nyanyan?
Sultan:Loh? Yah ngga tahu, wong aku belum pernah mati kok. Gini saja lah! Tinggalkan tempat ini dan wawancarai seniman yang sudah mati. Kamu itu wartawan atao apa ah?!
Untung ada Choking Susilo Sakeh. Konon, ilmu beliau soal isyarat-isyarat halus yang diinformasikan Allah SWT seputar kematian, sudahpun mumpuni.
Choking: Kita tidak bisa lari dari detik-detik kematian,Tandi. “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS al-Jumu’ah, 62: 8) Kematian telah ditentukan waktunya, tidak dapat ditunda atau dipercepat Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS, Al-Munafiqun, 63:11)
Tandi: Loh itu mah di google saja sudah ada. Tinggal ketik Al Quraan. Munciul deh firman Allah tersebut. Maksud aku itu loh detik-detik...
Choking : Sakaratul maut tidak bisa dihitung dalam detik! Tiap manusia menggendong sakaratul maut, itu pasti! Tapi tak jelas berapa lama ia akan gendong proses kematian itu. Sebut saja Mustafa Kemal Attaturk. Dia dicatat sebagai tokoh sekuler yang mengganti Turki dari negara bersyariat Islam menjadi negara sekular. Konon, ia mengalami proses sakaratul maut selama 6 bulan.
Tandi: Konon?
Choking: Hmm begitulah itu. Begitulah, dilaporkan oleh salah satu keturunannya melalui sebuah mimpi. Meski begitu ada juga yang berpendapat bahwa rasa sakit sakaratul maut merupakan suatu proses pengurangan kadar siksaan akhirat kita kelak.
Tandi: Intinya sakaratul maut itu wow seremmmmmm
Choking: Wallahu a’lam bi shawab. Imam Ghozali mengutip sebuah riwayat yang menceritakan tentang keinginan Ibrahim as untuk melihat wajah Malaikatul Maut ketika mencabut nyawa orang zhalim. Allah SWT pun memperlihatkan gambaran perupaan Malaikatul Maut sebagai seorang pria besar berkulit legam, rambut berdiri, berbau busuk, memiliki dua mata, satu didepan satu dibelakang, mengenakan pakaian serba hitam, sangat menakutkan, dari mulutnya keluar jilatan api, ketika melihatnya Ibrahim as pun pingsan tak sadarkan diri. Setelah sadar Ibrahim as pun berkata bahwa dengan memandang wajah Malaikatul Maut rasanya sudah cukup bagi seorang pelaku kejahatan untuk menerima ganjaran hukuman kejahatannya, padahal hukuman akhirat Allah jauh lebih dahsyat dari itu.
Tandi: Hebat! Ini kalimat bagus.
Choking: Ini aku kutip dari www.arrahmah.com Kisah ini menggambarkan bahwa melihat wajah Malakatul Maut saja sudah menakutkan apalagi ketika sang Malaikat mulai menyentuh tubuh kita, menarik paksa roh dari tubuh kita, kemudian mulai menghentak-hentak tubuh kita agar roh yang masih cinta dunia dan enggan meninggalkan dunia lepas dari tubuh kita ibarat melepas akar serabut-serabut baja yang tertanam sangat dalam di tanah yang terbuat dari timah keras. Itulah wajah Malaikatul Maut yang akan mendatangi kita kelak dan memisahkan roh dari tubuh kita. Itulah wajah yang seandainya kita melihatnya dalam mimpi sekalipun maka kita tidak akan pernah lagi bisa tertawa dan merasakan kegembiraan sepanjang sisa hidup kita.

***

Bulan purnama bercahaya surga memasuki ruang keraku. Sungguh, wawancara dengan Choking sulit aku alihtulis di komputerku. Kulihat Foeza tertidur. Di tangannya ada tasbih. Kulihat Kardy Syaid meski dalam tidur selalu kudengar awisik-wisik zikir. Kulihat Reni Teratai sandarkan tubuhnya di kursi. Matanya terpejam. Di tangannya ada banyak sajak cinta bertasbih luka.
Aku lihat itu semua. Tapi tak juga aku bisa tepis ketakutan hadapi sakaratul maut, kelak. Kadang aku pingin protest kepada Tuhan, kenapa tidak menjadi kecoa saja. Lihat proses matinya nga sulit-sulit banget. Cukup dijepit pintu wc, habislah nyawa kecoa.
Malam kian dirundung kelam.
Lagi sekali, kupandagi rokok kretekl gudang garam merah dan secangkir kopi di meja kerjaku. Aku pandangi wajah Mbah Surip di layar datar monitor. Aku tersenyum. Insya Allah, kematian Mbah Surip adalah kematian Khusnul Khotimah. Insya Allah, uang empat miliar Mbah Surip akan dinafkahkah di jalan Allah, hingga dicatat Allah sebagai kencleng akherat. Insya Allah, Mbah Surip akan digendong malaikat berwajah tampan menuju alam akherat.
Aku berbisik, lembut:“Mari merokok dan ngopi, Mbah Surip...”

Bandung, 8/5/2009 7:17:43 AM
Share this article :

0 comments:

Amir Taqi's Works

Amir Taqi's Works

BULAN PROMOSI BANYAK HADIAH

BULAN PROMOSI BANYAK HADIAH
Buruan Pre-Order Pasti Asyik

Popular Posts

Related Blog or Site

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kostum - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger | Distributed by Rocking Templates