Headlines News :

The Winners Are......???!!!

The Winners Are......???!!!
Caricatures by Amir Taqi, Irak

Latest Post

Ketika Humor Tidak Lagi Sekadar Lucu

Written By Admin on Monday, February 5, 2018 | 12:16 PM




Salam ihik-ihik-ihik!
       Tunai sudah, salah satu janji Ihik3 kepada Ibu Pertiwi.
       Ya, janji Institut Humor Indonesia Kini (Ihik3) untuk merealisasikan salah satu sumbangsihnya: mendirikan perpustakaan.

       Jika pada tahun 1778, Pemerintahan Hindia Belanda melalui Bataviaasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen mendirikan perpustakaan yang mengkhususkan diri pada bidang kebudayaan dan ilmu pengetahuan, maka Ihik3 pada 1 September 2017 lalu mendirikan perpustakaan pertama di Indonesia yang mengkhususkan diri pada bidang humor dan diberi nama  The Library of Humor Studies. Ide unik didirikannya perpustakaan ini adalah bertolak dari ungkapan cerdas yang berunyi: knowledge is not power, sharing the knowledge is. Ilmu pengetahuan bukanlah power, karena power yang sesungguhnya adalah penyebarannya.
       Meski memakai embel-embel nama humor, akan tetapi Ihik3 berani jamin bahwa kegiatan ini adalah kegiatan yang serius. Terbukti dari koleksi buku-buku Ihik3 adalah buku-buku yang berusaha menguak humor dengan perspektif  beragam, maka tak perlu heran jika ditemukan ada kajian humor yang bertolak dari sudut pandang filsafat, psikologi, komunikasi, medis, periklanan, dll.
       Dengan modal 400-an judul buku di tahap awal dari 1200-an koleksi pribadi, perpustakaan ini berusaha untuk bisa memicu semangat menulis, mengkaji, meneliti dan berdiskusi tentang humor. Budaya baca tulis bukan budaya baru di Indonesia, bangsa ini sejak lama telah mengenal peradaban baca tulis. Prasasti Yupa di Kutai Kalimantan Timur yang diperkirakan berasal dari abad ke-5 Masehi, merupakan bukti tentang keberadaan peradaban tersebut. Artinya semangat menulis dan membaca ada dan tetap harus dipertahankan hingga kini sesuai dengan semangat mencerdaskan kehidupan bangsa.
       Humor sendiri sebagai bentuk kajian belum banyak digali, padahal punya potensi daya tarik yang kuat sebagai  bahan kajian. Seperti misalnya, bagaimana bahagia lewat tawa adalah kegiatan yang murah, menyenangkan dan sekaligus menyehatkan (psikologi dan kesehatan) atau humor yang digunakan dalam dunia kerja (komunikasi) dan masih banyak lagi. Hal itu tentunya akan dapat terwujud jika masyarakat memaksimalkan perpustakaan ini dan melakukan kajian dari perpektif disiplin ilmu atau profesi-nya.
      Membangun sebuah perpustakaan tentunya bukan sebuah tindakan tanpa cibiran. Bagaimana tidak! Di tengah rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, yaitu di posisi 60 dari 61 negara berdasarkan studi dari Most Literate Nation in The World 2016, tindakan membangun perpustakaan seperti memutihkan arang. Tindakan yang seolah-olah sia-sia… akan tetapi Ihik3 selalu yakin bahwa inisiasi yang dilakukannya adalah sebuah bentuk investasi budaya yang hasilnya akan dapat kita lihat di masa mendatang.
       Pada akhirnya Ihik3 berharap perpustakaan ini nantinya tidak hanya menjadi tempat membaca saja, namun diharapkan bisa menjadi tempat berdiskusi para akademisi (dosen, mahasiswa, peneliti, dll), praktisi (insan televisi, pelaku industri kreatif, dll) atau masyarakat umum yang ingin menambah wawasan humor.
       Untuk itu, ihik3 berencana akan rutin membuat kegiatan seperti penelitian, diskusi, pemutaran film dan kegiatan lainnya seputar humor sehingga nantinya akan terbentuk sebuah komunitas yang punya kepedulian tinggi terhadap perkembangan humor di Indonesia. Karena kami yakin sekali bahwa budaya humor punya efek yang luar biasa untuk bangsa ini. Dengan humor kita bersatu, dengan humor kita berkarya dan dengan humor kita sehat sentosa. Terakhir diharapkan “read humor, and you’ll think humor, and you’ll create humor”.  Salam Humor! *)






Endorsements Buku Republik Badut

Written By Admin on Thursday, April 10, 2014 | 3:50 PM



Judul: Republik Badut
Penulis: Darminto M Sudarmo
Genre: Satir - Humor Dosis Tinggi
Cetakan : Beranda
Tebal : 240
Ukuran : 14 x 17 cm
Kertas : Book Paper
ISBN : 978-602-99277-8-8
Harga : Rp. 52.000,-

Darminto M Sudarmo melalui “Republik Badut” ini menulis esai-esai tentang berbagai isu, terutama masalah-masalah sosial-politik yang sedang aktual di negeri ini. Esai-esai itu tidak ditulis semata-mata dengan pretensi mau “melucu”; karena dia sebenarnya menuangkan gagasan yang serius tetapi dengan gaya bercanda. Kalaulah kita mendapati kata-kata yang menggelikan hati di sana-sini, itu adalah suatu pilihan gaya menulis yang disebut parodi; tetapi terminologi itu tidak dimaksudkan sebagai “samaran” atau untuk berlindung dari tanggung jawab.
Seperti nama “Republik Badut”; itu tak lain dan tak bukan adalah Republik Indonesia. Pilihan julukan itu pastilah karena sang penulis menganggap situasi di Indonesia saat ini persis panggung dagelan. Dari kacamata komik, situasi sosial-politik Indonesia sekarang, di satu sisi, dipenuhi ulah dan perilaku manusia-manusianya, tak ubahnya pelawak yang mengundang rasa geli; tetapi di sisi lain sesungguhnya itu merupakan tragik kemanusiaan, serba memprihatinkan.
Lewat “Republik Badut”, Darminto mengupas secara kritis, tajam, jernih, dan segar terhadap berbagai persoalan sosial-politik yang karut marut dan nilai-nilai  kemanusiaan yang secara umum mengalami degradasi. Dalam format parodi yang membebaskan penulisnya, tak hanya soal diksi tetapi juga imajinasi, banyak kata dan idiom tak lazim yang muncul di sana-sini. Semua itu bermuara pada pembahasaan persoalan – seserius apa pun – dalam pemaknaan dan pembacaan yang cair.  Esai parodi kiranya menjadi bentuk alternatif karena dianggap lebih bebas, lebih menohok persoalan, dan relatif “tanpa beban”. Spirit itu tak kita temukan pada esai yang ditulis dengan format konvensional; bahasa yang tertib, santun dan efeumistik.
Barangkali ada yang menganggap, esai-esai dalam “Republik Badut” terkesan “main-main” atau seperti bermain kata-kata. Tetapi, Darminto menulis esai-esainya dengan “serius”; artinya, isu, materi dan datanya bisa dipertanggungjawabkan. Fakta-fakta yang dia kutip otentik, dan datanya nyata. Sebutlah isu tentang kenaikan harga BBM, isu redenominasi (“pengerdilan” rupiah), tentang parlemen (DPR) yang ikut “main bola”, dan menyebut kementerian sebagai kapling mesin dana bagi parpol. Atau maraknya “Robinhood” (=koruptor) yang ironisnya justru ‘diapresiasi’ masyarakat. Isu-isu aktual itu diungkap secara lugas dilengkapi dengan datanya.
 “Republik Badut” adalah esai berisi kritik terhadap kondisi riil Indonesia saat ini. Ia seperti merefleksikan suara hati rakyat kebanyakan yang jujur dan apa adanya. Namun, dengan gaya parodi yang ndagel (lucu), esai-esai yang ditulis Darminto justru memperlihatkan bobotnya yang terasa intelek, cerdas dan komprehensif. Ia, misalnya, menerangkan makna Liberalisme, Kapitalisme, Sosialisme, Komunisme, Pragmatisme dll lewat perbedaan perlakuan terhadap “dua sapi”, yang memberikan edukasi bagi awam sekaligus menerbitkan senyum.
“Republik Badut” niscaya sebuah kumpulan esai yang langka. Ditulis oleh seorang pakar humor Indonesia, bukan untuk melucu apalagi “mentertawakan” kondisi bangsa dan negaranya sendiri; tetapi sebaliknya merupakan wujud empati dan nasionalismenya. (Dst, dst, dst, dst.)
Ardus M Sawega, Mantan Wartawan Kompas.
*
Jangan percaya pada apapun yang ditulis Darminto M Sudarmo. Dia bukan penulis idiot yang menulis segala sesuatu dengan sederhana. Dia sama sekali tidak menulis hal-hal gila dan kurang ajar, tetapi justru sesuatu yang serius dan getir. Dan jika percaya segala yang sedang Anda baca adalah dagelan, segeralah ke rumah sakit jiwa.
Triyanto Triwikromo, Jurnalis dan Sastrawan.
*
RepublikBadutadalahreportasepolitikalaDarminto M Sudarmo.Iatrampilmembuatisyu-isyupolitikaktualmenjadilucu. Isyuimporsapimisalnya, dibuatuntukmendefinisikanberbagaiistilahpolitik-ekonomidenganterminologibaru.Contoh, kapitalisme: Andapunyaduaekorsapibetina. Andajualsatudanmembeliseekorsapijantan.Sosialisme: Andapunyaduaekorsapi, Andaberikansatuuntuktetangga. Ha-ha, pendidikanpolitiklewat humor. Sapitenan (inilebihhalus, daripadakitamengumpatpejabatkitadengan: asutenan…).
Bre Redana, wartawan Harian Kompas
*
Darminto M Sudarmo, pakar humor yang sangat kaya data, informasi, dan rujukan. Tulisan-tulisannya menganalisis setiap kejadian apa pun di Indonesia – dengan cara pandang humor. Gaya bahasanya lincah, cekatan, dan dinamis berpelantingan. Menertawai kondisi zaman, untuk mengajak Pembaca memandang kehidupan berbangsa Indonesia, dengan perspektif maha luas.
Buku “Republik Badut” – bukunya yang kesekian ini – mencubit tanpa sakit, mengkritik secara menggelitik. Lebih dari melucu, humornya memiliki kedalaman filosofis, sekaligus kontemplatif. Sangat tepat jadi referensi para akademisi maupun praktisi. Cocok sebagai acuan bagi para politisi, pelaku usaha, pakar sosiologi, hukum, psikologi, komunikasi, serta para mahasiswa segala jurusan.
Semoga penulisnya tidak segera dipanggil Presiden, Mahkamah Konstitusi, DPR, Mabes TNI, Mabes Polri, Kejaksaan Agung, karena telah mengubah nama NKRI menjadi NKRB, Negara Kesatuan Republik Badut.
Prasetyohadi Prayitno, Sasterawan, staf pengajar “Interstudi” dan pemimpin redaksi majalah “Kicau Bintaro”
*
Untukdapat membacasebuahtulisanlucu,dibutuhkanpengetahuandankemampuanmelucu.Sehinggauntukmenilaikelucuandalamtulisanpolitik, sosial, ekonomi, seseorangjugaharuspunya ‘reference’ tentangpolitik, sosial, ekonomi yang memadaisehinggamampumenangkapkelucuanitu.

Mengikutitulisan-tulisanDarminto M Sudarmo, bukan main terseok-seokakibatperhatianpolitik, sosial, ekonominegeriinitelah lama sayakendorkan.Sayaterbahak-bahaksetelahsayamendudukkanperistiwa-peristiwaitudenganbenar, yaitudi sebuahnegara yang namanya REPUBLIK BADUT. Pas, taklebihtakkuranghanya di negarasemacamitulahperistiwainibisaterjadi.

Sayaamatgembiralakon-lakoninitelahterekamdenganbaik, saatmanakitamasihmemaknaisebagaisebuahkelucuan.Karenasayapercaya, satudekadelagikehidupaninidiputarmakasesungguhnyakelucuan-kelucuanituadalah KEBIADABAN.

Heru S Sudjarwo, PenelitiRupa&KarakterWayangPenulisdanperupa‘agak’ idiot
*
REPUBLIK BADUT adalah sebuah ikhtiar menjaga kewarasan jiwa di zaman edan: zaman yang memanjakan keserakahan, zaman yang membiarkan otak bertahta di dengkul. Jika Anda masih bisa menemukan kelucuan-kelucuan kemudian tersenyum dan tertawa, meskipun pahit, membuktikan Anda masih "gila" tingkat pemula alias waras jiwanya.
Butet Kartaredjasa, aktor alias pengecer jasa akting.
*
Setelah membaca buku ini, ada dua kemungkinan reaksi Anda. Pertama, Anda akan tertawa terbahak-bahak tanpa henti, karena sulit melupakan kelucuannya. Atau, kedua, Anda akan tertawa sejenak, lalu berhenti dan menangis. Karena bahan lelucon buku ini bukan hasil fantasi dan imajinasi penulis, melainkan realitas faktual, benar-benar terjadi di sebuah negeri yang telah terkoyak oleh nafsu keserakahan sebagian (besar) pemimpinnya. Selamat membaca, tertawa dan menangis!
Winarto, jurnalis, trainer dan dosen komunikasi.
*
''Tak ada humor yang  lewat tanpa kehadiran Darminto. Menyebut kata humor tanpa menyebut namanya adalah sebuah kesalahan. Lebih-lebih saat  humor kini  sedang buka cabang di mana-mana ini: ada ironi, ada parodi, ada satire, kehadiran Darminto sungguh makin tegas kedudukannya. Ia adalah Penjaga Gawang Humor Indonesia, tempat seluruh anak cabang humor dicatat, dirawat dan dimaknai.''

Prie GS, penyuka humor. Murid kehidupan Darminto.
*
"Kenapa orang tertawa? Ada macam-macam teorinya. Juga ada macam-macam cara untuk membat orang tertawa. Karena tertawa juga banyak maknanya, tergantung konteksnya. Tapi yang pasti, Darminto M. Sudarmo, termasuk satu dari sedikit orang yang mampu membuat orang 'tertawa' melalui tulisannya. Kadang tulisan yang agak panjang pula. Dan membaca tulisan Darminto memang perlu ada referensi agar kita bisa tertawa, lalu merenungkannya. Darminto adalah Art Buchwald-nya Indonesia."
Kemala Atmojo, Pencinta Humor, Mantan Pemred Majalah MATRA.
*
Negera ini memang pantas disebut sebagai Republik Badut. Buku ini mencatat berbagai kekonyolan yang terjadi di negara ini, dan menyajikannya dengan aroma yang kocak sekaligus cerdas dan mencerahkan.
Ahmadun Yosi Herfanda, pengajar dan pelayan sastra.
*
"Dagelan paling sesuai faktaisasi, dipenuhi kisah kudetaisasi, dijamin bikin labilisasi republik ini. Wassalam."
Toni Masdiono, seniman galau.
*
Himpunan dagelan yang cerdas, tajam, sekaligus mengharukan.
Jika dagelan lahir dari kedalaman qalbu, hasilnya paduan kekocakan dan kemirisan yang sama-sama menguras air mata
Kisah Negeri Dagelan yang dengan cantiknya menohok semua lapisan, sekaligus edukatif.
Rini Clara, akitivis seni-budaya.
*
Hahaha.. STOP! Melarang orang ketawa itu kejahatan kemanusiaan terbesar, melanggar hak asasi mendasar manusia. Juga, ketawa perlu alasan kuat, pemikiran mendalam, referensi cukup, dan kematangan jiwa. Tersenyum asam, itu akibat langsung dari ekspresi ketawa yang tersendat. Ada tekanan psikologis kompleks sebagai penyebabnya. Oleh karena itu ketawa adalah hasil proses pemikiran mendalam, jauh ke depan, visioner sekaligus reaksioner pasif. Oleh karena itu ketawa tanpa alasan kuat sudah masuk ranah psikiatri.

Membaca Republik Badut karya Darminto M. Sudarmo cukup aman dari ancaman dokter jiwa, sebab ia menyuguhkan fakta-fakta aktual, tak terelakkan, sulit dibantah atas negeri ini. Ia seorang humoris yang saya kenal lama, baik lewat tulisan maupun tatap-muka. Dan, kata Arwah Setiawan, humor itu serius, jadi membaca bukunya dan ketawa atau tersenyum masam, menjadi “ijazah” bahwa Anda sebagai orang yang paham masalah. Tidak membeli buku ini sebuah dosa terbesar yang tak terampunkan hingga Hari Kiamat ke-II!

Adji Subela, jurnalis senior, aktivis seni-budaya.

*
Politik lebih sederhana bisa disebut cara, tepatnya taktik, dan seindah-indahnya “cara” disampaikan secara menggelitik. Itu sebabnya politikus yang taktis ialah mereka yang mempunyai kemampuan komedik, sebagaimana Soekarno pernah menjadi bintang indah di sidang PBB. Usai makan siang di perjamuan meja bundar di Gedung PBB, Bung Karno mengisap rokok kretek. Asap rokok tentu saja membuat semua batuk-batuk, terutama Perdana Menteri Belanda yang duduk di sampingnya. Kepada Sang PM dengan kalem Bung Karno berkata, “ini tembakau yang membuat bangsa anda dulu menjajah bangsa kami...” Kalimat tragik-komik politik ini membuat semua tertawa tergelak, termasuk Sang PM yang sontak memeluk Soekarno.
Esei-esei tragik-komik Darminto M Sudarmo menggelakkan satu kesadaran, bagaimana menyikapi politik secara indah. Saya kira, terutama, para politisi kita yang masih mengalami ketegangan berpolitik, perlu membaca buku “Republik Badut” untuk mengendurkan syaraf-syaraf mereka. Meski, demi kejujuran saya mesti mengkritik judulnya, bahwa bukan republik ini yang banyol, tapi para politisinya yang konyol.
Eko Tunas, Sasterawan
*
Bicara tentang Republik, konon katanya kata itu berasal dari  kata Re = kembali,  dan Public = rakyat. Oleh karenanya,  semua hal  kembali kepada rakyat . Semua milik rakyat, semua oleh rakyat, dan semua untuk Rakyat. Jadi ya mestinya tidak ada yang disebut maling, koruptor, perampok, kalau sebagian rakyat yang `kebetulan` sedang berada pada posisi dan waktu yang tepat, duduk  dalam struktur jabatan masyarakat yang disusun oleh rakyat, mengambil harta rakyat. Toh.. dia kan juga rakyat.
Mungkin begitulah sebagian besar alur logika dalam Republik Badut ini, semua serba boleh, tidak ada salah,tidak ada benar, karena semua sudah manunggal dalam kawulo dan Gusti. Yang mengatur dan yang diatur sudah jadi menyatu, sehingga tidak perlu ada aturan lagi. Karena semua sudah teratur...teratur dalam ketidak teraturan. Yah..begitulah namanya Republik Badut.
Agus Sulistiyo, Pandagan - Character Building Society.
*
“REPUBLIK BADUT” ….? Mungkininihanyaakankitatemukandipanggungteater, ketoprak humor, panggungsrimulatataucerita film komedisaja. Bagaimanatidak, hanyadi “REPUBLIK BADUT” elitpenguasanyamulaidaripresiden,menteri,penegakhukumnya,aparatkemanan, dananggotadewan yang katanyaterhormat alias DPRbisadijabatolehsekelompokbadut-badut.Tapisemuainimenjadinyatadisajikandalam“REPUBLIK BADUT” yang ditulisolehjuragan joke danceritakonyolmasDarmintoMSudarmo, yang manapolahtingkahpenguasarepublikini, yang sangatkonyol, tolol, dangakmasukakaldiceritakandenganguyonan yang segar.Terusterang “REPUBLIK BADUT” membukamatakitabetapalucunyanegeritercintakitaini……selamattertawaaaa……..
TIYOK BUDI SETYO WIDODO, Kartunis/Ilustrator Harian Media Indonesia.
*
Humor dan satir senyatanya aksi agresif. Buku ini memprovokasi Anda untuk melakukan hal yang sama, beramai-ramai, dengan sasaran para penguasa yang korup dan gerombolan politikus yang hipokrit. Karena rasanya setiap hari mereka semakin beranak-pinak saja di negeri kita ini.
Tawa ejekan dan olokan kita pantas dilakukan karena humor senyatanya juga merupakan senjata bagi rakyat yang berbudaya dan masih memiliki akal sehat. Bukankah negarawan Inggris Winston Churchill pernah berujar, “Lebih baik adu olok daripada adu golok ?” Jadi, bagi Anda yang sudah siap-siap menghunus golok, tahan dulu. Buku ini harus Anda baca dulu. Begitu Anda sudah tamat membacanya, silakan tamparkan sekeras-kerasnya ke wajah-wajah mereka yang kita percayai untuk berkuasa tetapi mengingkarinya !
Bambang Haryanto, penulis buku Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010) dan Komedikus Erektus : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau (2012). Facebook : bbharyanto.
*
Buku ini sangat pas terbit menjelang tahun pemilu di Republik Badut. Sangat tepat karena semua orang sedang membicarakan politik dari soal partai politik, caleg sampai siapa calon presiden periode mendatang. Namun bisa jadi buku ini akan kalah lucu dengan keseharian politisi yang kita saksikan di spanduk, baliho atau berita di media massa. Tetapi daripada Anda penasaran mana yang lebih lucu, buku ini atau di media massa, sebaiknya Anda membeli (jangan meminjam apalagi mencuri) buku ini di toko buku terdekat. Bacalah dan Anda akan membuktikan buku ini lebih lucu dari keanehan politisi kita di media massa. Mengapa? Karena buku mengupas setiap peristiwa politik dengan pisau analisa humor. Bahkan peristiwa politik yang biasa saja bisa menjadi lucu. Jika Anda masih tak percaya dengan komentar saya ini, sekali lagi saya sarankan membeli buku. Jangan meminjam, karena kata Gus Dur: meminjamkan buku kepada orang lain adalah perbuatan bodoh, tetapi mengembalikan buku yang kita pinjam adalah perbuatan orang gila!
Tri Agus Susanto Siswowiharjo, dosen di Prodi Ilmu Komunikasi STPMD "APMD" Yogyakarta.
*
Republik Badut sudah aku baca....keren..! Mencerahkan...ternyata satiris/humoris itu orang yang jenius ya....!
Muhammad Subarkah, Wartawan Harian Republika.

 *

Baru membaca judulnya saja, buku ini sudah membuat kita tersenyum. Republik Badut, entah di mana republik ini berada. Kalau ada nama, tempat, dan cerita yang sama, itu sebenarnya disengaja, biar kita bisa ber-cangar-cengir sambil membacanya. Dan, untuk target ini, sang penulis benar-benar berhasil.

Lewat tuturan-tuturannya yang satire, santai, dan di sana-sini terkesan main-main, tetapi sesungguhnya sang penulis tidak sedang bermain-main.

Sungguh, ini sangat jauh lebih baik ketimbang ada sebuah negeri yang seharusnya ditangani secara serius namun justru ditangani secara main-main.

M. Djoko Yuwono (Jurnalis, pegiat seni dan budaya).

*
Buku karya salah satu empu humor di tanah air ini tak membuat saya tertawa lebar seperti saat menyaksikan dagelan panggung. Namun saya yakin bahwa Mas Darminto, sang empu humor, memang tidak bermaksud untuk membuat pembaca mengekspresikan tawa seperti itu.
Kepiawaiannya mengolah kata-kata dari sederet fakta, serta kepekaannya menangkap fenomena kehidupan negarawi yang diimbangi dengan ketajaman dalam melakukan interpretasi, telah memungkinkan Mas Darminto mendokumentasikan dagelan para elit politik yang makin menggerogoti rasion d’etre berdirinya Republik tercinta.
Membaca buku ini dari tanah seberang membuat saya tersenyum trenyuh,  mengalami mixed feelings antara rasa kangen tanah air dan rasa miris membayangkan sebagian besar rakyat jelata yang dijadikan mainan para politisi yang makin jauh dari tatakrama kenegarawanan.
Saya ingin mengajak siapa saja yang peduli masa depan negeri kita untuk melakukan kontemplasi dengan membaca buku ini. Salam.
Wisnu T Hanggoro, bekerja pada Southeast Asian Press Alliance [SEAPA], Bangkok, Thailand.
*
Buku “Republik Badut” ini mendapat penguatan oleh tertangkapnya Ketua Mahkamah Konstitusi oleh KPK. Sungguh tiada tandingan keadaan runyam yang dialami oleh bangsa Indonesia pada saat ini. Produk-produk MK bersifat final dan mengikat, tak mempan digugat, seperti keputusan juri yang meniadakan surat menyurat. Ibarat sopir bajaj di Jakarta, hanya dia dan Tuhan yang tahu kapan dan ke mana berbelok….. Jangan menangis kalau terlanjur beli buku ini seberapapun sedih dan kecewa dengan negerimu. Tertawalah, dijamin lebih sehat dan bermartabat.
Efix Mulyadi, Wartawan Senior (d/h Harian Kompas).
 
Tertarik mengoleksi: Langsung ke TKP!

Sem Lumbangaol - Memecah Keheningan Indonesia dengan Pesona Humor

Written By Admin on Monday, October 21, 2013 | 6:54 AM


Siapa Sem Lumbangaol? Pria asal Indonesia yang mikim di Kanada ini, tahun ini, 2013, memecah keheningan Indonesia dengan buku barunya yang berjudul Pesona Humor. Buku yang layak dikonsumsi karena ia akan mengembalikan kepenatan Anda dari berbagai masalah rutin yang sangat membebani. Politik, kasus korupsi, sampai lembaga tertinggi peradilan Mahkamah Konstitusi juga kebobolan perkara yang amat tidak mutu, dan banyak lagi lainnya. Setiap hari TV menayangkan berita tak sedap itu. Buku Pesona Humor hadir dengan caranya yang khas. Ia akan mengajak Anda melihat panorama lain dari Indonesia. Indonesia yang jenaka dan menumbuhkan harapan-harapan baru. Juga ia akan mengajak Anda mengunjungi Planet Humor yang sudah pasti sangat menyenangkan dan menghibur.

Siapa Sem Lumbangaol? Mari kita lihat sebagian profil penulis tersebut lewat tayangan image berikut ini.

Selanjutnya bagi Anda yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang Sem dan bukunya, silakan kilk PESONA HUMOR, BUKU YANG PENUH INSPIRASI.


D

Humor Kontekstual – Universal, Sebuah Gurauan

Written By Admin on Friday, December 30, 2011 | 2:30 AM


Darminto M Sudarmo


HUMOR, dalam beberapa kasus, tak beda dengan karya sastra. Ia juga dikisruhkan oleh tema dan topik. Ada tema atau topik yang demikian tipikalnya sehingga hanya sekelompok orang tertentu saja yang dapat memahami persoalannya. Makin gawat lagi bila persoalan yang diangkat menyangkut masalah symbol atau local contents yang makin menyempit, maka ruang pemahaman terhadap konteks itu hanya dapat dipahami orang-orang tertentu pula. Namun dengan adanya penyebaran informasi yang amat luas, adakalanya humor-humor bermuatan lokal juga dapat diakses dan dipahami oleh orang-orang di luar konteks budaya tersebut.
Orang Jawa yang melepas selop saat masuk lift atau telepon umum, orang Sunda yang lebih fasih mengucapkan huruf p ketimbang f, maupun orang Bali dan Aceh yang mengucapkan huruf t dengan tekanan khusus, adalah hal-hal yang sudah menjadi pemahaman dan permakluman bersama. Sebagaimana gurauan Dr. George Aditjondro, t di Bali diartikan turis dan t di Aceh diartikan teroris, maka orang bisa saja memberi tambahan: di Tabanan dan Buleleng t juga diartikan tawuran!
Agar penyelaman ke dalam makna kontekstual-universal yang makin silang lilit ini tak nyasar ke mana-mana, tak ada salahnya kita menyimak tiga contoh humor di bawah ini, diambil dari buku GAM (Geerr Aceh Merdeka), hal. 81, 105, dan 109, terbitan Garba Budaya Sahabat Aceh, setidaknya untuk kajian perbandingan.

Kita mulai dengan humor yang berjudul Terimakasih untuk Tentara. Ada seorang petani dari Kabupaten Pidie, menulis surat ke anaknya di penjara Nusakambangan karena dituduh terlibat GAM; bunyinya: “Hasan, bapakmu ini sudah tua, sekarang sedang musim tanam jagung, dan kamu di penjara pula, siapa yang mau bantu bapak mencangkul kebun jagung ini?” Anaknya membalas beberapa minggu kemudian, “Demi Allah, jangan cangkul itu kebun, saya tanam senjata di sana.” Besoknya, setelah si bapak terima surat, datang satu peleton tentara dari Banda Aceh; tanpa banyak bicara, mereka segera ke kebun jagung dan sibuk seharian mencangkul tanah di kebun tersebut. Setelah mereka pergi, kembali si bapak tulis surat kepada anaknya, “Hasan, setelah bapak terima suratmu, datang satu peleton tentara mencari senjata di kebun jagung kita tanpa hasil, apa yang harus bapak lakukan sekarang?” Si anak kembali balas surat tersebut, “Sekarang bapak mulai tanam jagung saja, kan sudah dicangkul sama tentara, dan jangan lupa mengucapkan terimakasih pada mereka.”
Wartawan. Suatu hari, satu regu prajurit TNI menyeberangi sungai Krueng Aceh, yang membelah Banda Aceh. Di tengah sungai, buaya-buaya yang ganas menelan bulat-bulat prajurit tersebut. Apa boleh buat, senjata M –16 tidak mampu menghadapi buaya itu. Esoknya, dikirim satu kompi polisi . Nasib sama terulang lagi. Semua gugur di mulut buaya. Senjata SS – 1 tak berdaya menghadapi serangan membabi buta dari gerombolan buaya. Hari ketiga, giliran angkatan GAM yang diterjunkan ke sana. Lagi-lagi mereka pun mengalami nasib yang tragis. AKA – 47 milik GAM menjadi loyo melawan barisan buya krueng (buaya sungai). Hari keempat datang konvoi lain. Kali ini para buaya jadi keheranan. Konvoi ini tidak menyandang satu senjata pun. Yang tergantung hanya secuil kertas bertuliskan: Pers. Buaya pikir ini lebih mudah lagi untuk memakannya. Namun tiba-tiba komandan buaya berteriak, “Stop! Itu rombongan wartawan. Jangan diganggu. Mereka lebih buaya daripada kita!”
Intel Inside. Suatu ketika, militer menyerahkan seperangkat komputer kepada para pemuda di salah satu desa di Aceh. Namun apa lacur, mereka membuang komputer tersebut ke laut. Pasalnya, di komputer tersebut tertulis kalimat, “Intel Inside”.
Humor berjudul Terimakasih untuk Tentara dapat dijadikan model humor tipikal Aceh, sangat konteks dengan semangat Aceh; bahkan oleh orang Aceh sendiri itu diakui sebagai tipu ala Aceh. Kendatipun persoalannya sangat khas dan hanya ada di Aceh, namun pembaca dari latar belakang budaya manapun tentu dapat memahami humor tersebut, apalagi bila referensinya juga ditunjang oleh berita-berita di media massa cetak dan elektronik. Sementara itu, humor berjudul Wartawan dan Intel Inside, dapat saja dimodifikasi untuk dilekatkan pada humor dengan tema lain; misalnya: Humor Papua, Maluku atau Poso. Tidak ada yang spesifik di sana; kecuali wilayah konflik dan adanya pendudukan militer.
Lalu humor-humor universal, seberapa universalnya? Mungkinkah ia tak terkait dengan masalah konteks atau ikon lokal yang sangat tipikal dan tak terdapat di tempat lain? Pertanyaan ini pun mengundang jawaban yang kisruh. Dalam usia peradaban umat manusia yang sudah demikian tinggi mungkinkah kebudayaan suatu bangsa tidak mempengaruhi kebudayaan bangsa lain? Contoh-contoh lelucon yang diambil dari buku Humor SMS, Guyon Demokrasi dan Guyon SexGar, terbitan Kombat Publishers berikut dapat menambah ramainya persepsi yang berkembang dan simpang siur itu.

Humor SMS
Sebagaimana lazimnya SMS (Short Message Service), maka bahasa yang digunakan pun singkat, padat, lugas dan bergegas. Kita mulai dari humor yang berjudul Pemabuk. Di mana rumahmu! Bentak polisi pada seorang pemabuk. “Itu!” sambil menunjuk rumah mewah, polisi tercengang, lalu sebuah mobil mewah masuk. “Itu mobil saya,” polisi tambah kagum. Seorang wanita cantik turun dari pintu kiri. “Itu istri saya.” Kemudian disusul laki-laki turun dari pintu kanan mobil itu juga. “Nha ..kalau itu saya, Pak.” Langsung pemabuk itu digiring ke kantor polisi.
Istri Setia. Istri saya setia, waktu saya masuk penjara dia hamil 6 bulan, begitu setahun saya keluar dia tetap hamil 6 bulan.
Dokter Gigi. Jangan mau punya suami dokter gigi dan pegawai telkom, soalnya kalo dokter gigi, goyang dikit saja, langsung dicabut, sedangkan pegawai telkom maunya cepat selesai, takut pulsanya tinggi.
Phone a Friend. Setelah nonton “Who Wants to Be a Millioner” suami ngajak making love istri tapi ditolak.”Oke,“ kata suami, “Saya gunakan fasilitas phone a friend.”
Alkohol. Hai orang-orang budiman, janganlah kau minum minuman beralkohol, karena alkohol itu minuman setan, kalau kau tetap minum terus, lha nanti setan minum apa.

Guyon Demokrasi
Beda dengan humor-humor SMS, humor-humor demokrasi agak menuntut pemikiran dan wawasan yang lebih. Paling tidak, pembacanya adalah orang-orang yang punya perhatian pada masalah sosial politik. Rajin mengikuti berita di koran/majalah atau televisi. Dengan kata lain, pembaca atau penikmat yang klop untuk humor-humor jenis ini adalah kalangan educated people dan up to date. Kita mulai dari humor yang berjudul Memutarbalikkan Fakta. Sambil marah-marah, seorang pengurus partai memasuki kantor redaksi sebuah suratkabar yang telah memuat beritanya pagi itu. "Kalian dengan sengaja telah memutarbalikkan apa yang saya katakan semalam! Koran kalian telah memuat kebohongan!" "Sabar, Pak! Anda tidak bisa marah-marah begini. Apa kata dunia nanti bila kami memuat sesuatu yang benar tentang Anda?!"
Uji Kasus Soal Pilihan. Seorang politikus dari Partai Republik dengan rajin mendatangi setiap rumah untuk memastikan memilih partainya. "Tidak," kata seorang laki-laki yang dikunjunginya, "ayah saya seorang demokrat, begitu juga kakek saya. Saya tidak akan memilih partai selain Demokrat." "Itu bukan alasan yang tepat," sahut si orang Partai Republik, "apakah kalau ayah Anda dan kakek Anda pencuri kuda, akan
membuat Anda jadi pencuri kuda juga?" "Tidak," jawab si Demokrat, "dalam kasus seperti itu, saya kira, saya akan menjadi pengikut Partai Republik!"
Politik Uang Salah Alamat. "Orang-orang asing ini sudah pasti tidak boleh ikut memilih, Pak," kata seorang penduduk melapor kepada anggota pimpinan partai. "Itulah yang membuatku bingung. Sepertinya, separuh dari mereka adalah orang-orang yang kuberi uang kemarin. Tapi yang mana, ya, aku tak ingat lagi."
Peramal dan Politikus. Seorang politikus muda berjalan-jalan di sebuah taman. Ketika dia melalui seorang peramal, dia berhenti. Si peramal langsung saja berceloteh. "Tuan, Tuan sudah menikah, bukan?" "Betul." "Anak Tuan dua, bukan? Laki-laki semuanya?" "Ya, betul." "Tuan pengikut Partai Republik?" "Nah, Anda sudah berbuat kekeliruan dalam ramalan Anda! Itu masih tergantung! Peramal lain mengatakan saya akan dapat suara lebih banyak bila di Partai Demokrat!"

Guyon SexGar
Berbeda dengan humor seks lain yang cenderung vulgar dan mengeksploitasi seks dalam pengertian sebanal-banalnya, humor-humor seks yang dicontohkan dalam kasus ini, sama sekali jauh dari motif itu. Yang ada adalah sport logika seputar seks atau para pelaku dalam bingkai humor dan tetap elegan.
Kita mulai dari humor yang berjudul Ranjang Kembar. John bercerita pada teman sekantornya. "Kehidupan seks kami semakin membaik sejak kami, saya dan istri, punya ranjang kembar." "Bagaimana kejadiannya?" "Kami mendapatkannya di rumah yang berbeda."
Cuma Seorang Suami. Broto menatap wajah pacar gelapnya yang sangat ia cintai.
"Saya sakit hati. Kemarin saya melihatmu berjalan dengan laki-laki lain." "Nggak usah cengeng, deh. Itu kan cuma suamiku. Percayalah, nggak ada laki-laki lain selain kamu."
Dua Lima Ribu Siap Apa Saja. Pria yang memakai mobil merah itu berhenti di pinggir jalan, ketika seorang bencong yang mengenakan pakaian ketat dan rias yang medok melambai-lambaikan tangannya. Bencong itu berbisik, menggoda, "Untuk dua puluh lima ribu rupiah, saya akan melakukan apa saja yang kamu minta." "Tolong catkan rumahku," kata laki-laki itu sambil memberikan uang.
Tiga Kata yang Menyebalkan. "Tiga kata apakah yang tidak ingin Anda dengarkan ketika sedang bercinta?" "Sayang, saya pulang!"
Bagaimana Bisa Mengganggu? Begitu mendengar pacarnya dirawat di rumah sakit, bergegaslah Joni ke sana dan bertanya pada dokter. "Sebaiknya jangan diganggu dulu, ia masih sangat lelah," sahut dokter, serius. "Bagaimana aku akan mengganggunya di tempat umum macam begini, Dok. Di rumah pun kami biasa mencari kesempatan baik, setelah orang tuanya tidur," ujar Joni dengan nada sinis.
Dari contoh-contoh humor di atas, akhirnya terbukti bahwa polarisasi antara kontekstual -universal sepertinya akan sampai pada tahap gurauan belaka. Transformasi di bidang komunikasi telah menjembatani berbagai kemustahilan dan kemuskilan. Setidaknya itu yang tampak pada contoh-contoh humor yang ada dalam artikel ini. Oleh karena itu, salah satu contoh humor paling kontekstual mungkin dapat digambarkan di bawah ini.
Tersebutlah sebuah komunitas yang beranggotakan tujuh orang peminat humor atau joke. Mereka punya jadwal yang sangat ketat untuk nge-joke setiap minggunya. Sehingga untuk joke-joke yang tergolong lucu dan kuat mereka sepakat memberi nomor. Misalnya joke nomor 1 tentang mincing, nomor 2 tentang pemabuk dan seterusnya. Hingga pada suatu ketika mereka berpisah karena tugas. Bertahun-tahun ketujuh orang ini tak pernah bertemu, sehingga mereka berencana mengadakan reuni. Ketika reuni tiba, masing-masing mendapat giliran untuk memberi sambutan (maksudnya: nge-joke). Dengan enteng Si A, maju dan berkata: Joke nomor 3! Dan enam orang lain langsung merespon dengan ketawa terbahak-bahak. Bagaimana dengan anak-anak dan istri-istri mereka? Hanya bengong tak mengerti, karena joke yang dibawakan Si A memang sangat kontekstual!


Malaysia Free Backlink Services

Peta Humor di Indonesia

Written By Admin on Tuesday, December 27, 2011 | 11:55 PM



Semangat berhumor sohib2 di berbagai wilayah di Indonesia; khusunya di Kompasiana sungguh mengharukan. Agar perjalanan teman2 makin lancar, sedikit saya coba bikinkan peta, bener lho asli, siang hingga sore tadi saya coba menyusun Peta Humor ini. Saya coba bikin sesederhana mungkin, agar mudah dipahami; tapi kalau masih ada yang bingung, sungguh itu kesalahan saya. Mohon dimaafkan.
Humor itu apa sih? Jujur aja, secara tradisi kita hanya mengenal humor sebagai lelucon. Lalu lucu itu apa? Pak Teguh (Srimulat) bilang, lucu itu aneh; Arwah Setiawan (nenek moyang peneliti humor Indonesia) bilang begini begitu; Freud bilang begini begitu; Arthur Koestler (penulis buku babon /mainstream tentang kajian humor berjudul “The Act of Creation” yang paling lengkap dan awal) juga bilang humor itu begini begitu.Pada titik keputusasaan orang mencari jawab tentang humor (karena demikian rumit dan supercomplicated), akhirnya mereka dengan skeptis bilang, ya sudah, biar aja, setiap orang boleh-boleh saja mau nyebut humor itu begini atau  begitu. Sehingga, anda pun, kalau punya argumen yang jelas dan mampu mempertanggungjawabkan kepada publik, boleh saja anda ciptakan teori tentang humor, menurut versi anda.
Kenyataannya setelah Arthur Koestler meninggal, ramai orang menulis teori tentang humor (di barat sana, di sini mah kagak), dan seperti kata teman Aussie saya (Rolf Heimann) yang memang udah menyantap hampir seluruh buku teori tentang humor akhirnya cuma bisa bilang, “Heran deh, buku judulnya aneh dan bagus-bagus setelah dibaca kok isinya yang satu ngutip yang lain, yang lain ngutip yang satu…jadi ya begitulah….”
Tapi tak apa, toh pada situasi kontemporer  ini, pengembangan yang terjadi ternyata juga menghasilkan derivasi-derivasi (cabang ranting) baru di seni humor itu sendiri. Dan peta yang saya sodorkan ini sekadar menyegarkan ingatan anda saja agar ada gambaran, bahwa makhluk yang bernama humor itu ternyata begitu toh….
Alkisah, di zaman baheula, ketika pola pikir masyarakat masih didominasi cara berpikir mitis (berdasarkan mitologi), dunia pertunjukan kesenian (mungkin juga kehidupan sehari-hari) dibagi menjadi 2 (dua) saja. Pertama tragedi; yang kedua, komedi. Gampangnya ngomong, tragedi urusannya sama yang nangis-nangis dan bersedih-sedih; komedi urusannya sama yang senyum-tawa dan bergembira ria. Di zaman itu pula, para ilmuwan kala itu juga menemukan kesimpulan bahwa orang yang kecenderungannya suka ketawa dan gembira, ternyata di dalam tubuhnya diketahui dominan cairan merah (cairan ini namanya humor); sedangkan yang penyedih, dominan cairan warna hitam, disebut melankolia — tentang cairan ini menurut mereka ada yang lain juga: kuning dan putih. Lha apa urusannya dengan cairan warna merah yang waktu itu disebut humor itu?
Inilah yang bikin kaget orang sekarang. Humor yang semula berarti cairan itu ternyata sekarang diartikan lelucon; nah, ajaib, kan? Karena ajaib itu maka  Jaya Suprana, salah seorang humorolog kita, membuat tesis berjudul “Metamorfosa Makna Humor dari Cairan Menjadi Lelucon” (ini kalau tidak salah ingat, soalnya hapalan di dalam kepala, kalau di luar kepala itu mah namanya  nyontek catatan atuh, he he he!).
Humor sebagai energi budaya yang merupakan Induk dari Seni Humor itu ternyata beranak-pinak dan bercucu-cicit segala. Upaya saya membuat Peta Humor di bawah ini adalah mencoba memberi gambaran umum duduk-berdirinya perkara tentang  hubungan dan silsilah “Nenek Moyang” Humor berikut keturunannya. Moga bermanfaat; seperti kata pepatah, tak ada gedung yang tak retak, tak semua warung jual martabak, sudilah anda berbagi pengetahuan agar yang tersesat bisa mendapatkan pencerahan.


Catatan:
Di Indonesia, berbagai peran yang terlihat di relasi humor di atas
lazim juga dilakukan oleh satu orang; misal si X selain kreator
juga pemain dan eksekutor. Ini berbeda dengan tradisi kerja tim
di barat sana yang tiap individu menuju ke spesialis.

Konsep Awal Naskah Duet Dalang Kondang

Written By Admin on Saturday, November 19, 2011 | 4:47 PM


Durasi .............60 menit
Naskah............ Darminto M Sudarmo
Judul.................Duet Dalang Kondang Ki Manteb n Kang Asep
Setting..............(Blocking View Duet Dalang Kondang)
Broadcast........TPI th 2006(Sekarang: MNC TV)



Pemain:
1.      Jojon (seperti Mak Lampir)                                        Nyai Wewe Gombel
2.      Kang Ibing      ……………………………………       Mbah Dukun
3.      Misye Arsita …………………………………………  Pengamen
4.      Gogon ……………………………………….              Penganggur
5.      Asep ………………………………………………      Perantau asal Bandung
6.      Manteb ……………………………………………      Perantau asal Solo
7.      Parto ………………………………………………     Calo Mbah Dukun
8.      Malih & Kirun..........................................................    Kaum Terpelajar
9.      Bintang Tamu Wanita (Cantik) ……………………   Asisten Dukun
10.   Figuran Wanita Penari (6 org) ……………………    Penghibur Suasana

11.   Properties: (Boneka Bayi polos) dan perlengkapan efek2-nya: asap, petasan, suara tangis bayi, dll).
12.   Busana: Tradisional nakal dan metal.

Musik Pengiring:
Pengrawit Gamelan Jawa & Sunda

(Akan makin asyik kalo bisa diarransemen rada nakal dan dikolaborasi dengan unsur-unsur modern).


Adegan 1
Tampak para Penari wanita (6 orang ) membawakan tarian tradisional metal, diiringi lagu-lagu dan Gending Jawa/Sunda.

Adegan 2
Setelah tarian dan nyanyian berlangsung kira-kira 1,5 menit, tiba-tiba muncul sosok bayangan besar dan menyeramkan dari arah belakang. Sosok itu adalah Nyai Wewe Gombel Jojon yang datang sambil menggendong bayi telanjang dan salah satu tangannya memegang rokok siong dengan asap yang mengepul. Suara tawanya tidak menyeramkan, tapi terdengar lucu.

Para penari wanita kaget sekali, lalu satu persatu mundur. Nyai Wewe Gombel Jojon sebenarnya tertarik pada tarian dan nyanyian itu dan mau ikut nimbrung, tapi karena para penari keburu ketakutan, ia jadi bengong, tak mengerti mengapa para penari bubar. “Hi-hi-hi, padahal kita sama-sama cewek, lho!” kata Nyai Jojon.

Lalu ia mencoba menari sendiri; tentu dengan tarian lucu dan gamelan pengiring yang kadang menggoda dan menyesatkan gerakan Nnyai Jojon. Karena kesal dipermainkan para penabuh gamelan, Nyai Jojon lalu berhenti; apalagi bayi yang di gendongannya tiba-tiba menangis meraung-raung minta mimik.

Sebelum memberi mimik, Nyai Jojon menyedot rokok siongnya dulu; asap ditelan, lalu si bayi diberi ASI. Bayi itu tidak menangis lagi. Beberapa saat kemudian, bayi itu selesai, dan wajahnya mengarah kamera, dari mulut bayi itu keluar asap rokok: mengepul. Nyai Jojon kaget.

Asap habis, bayi itu merengek lagi. Nyai Jojon memberi mimik lagi. Selesai nyedot,  tak lama kemudian dari dubur Bayi itu keluar asap rokok. Nyai Jojon makin kaget!

Asap habis, bayi itu merengek lagi. Nyai Jojon memberi mimik lagi. Usai nyedot, dari dubur bayi keluar petasan cabe yang meletus beberapa kali. Nyai Jojon makin kaget sampai melompat-lompat!
“Dasar anak setan, lo! Untung masih kecil, kalo gede, be-ol kamu kayak gunung meletus!”


Adegan 3
Mbah Dukun (Kang Ibing) muncul dan menatap Nyai Jojon sejenak lalu menggeleng-gelengkan kepala. “He-he-he! Dengar Nyai, sebagai makhluk halus, kamu harus tidak kelihatan. Jangan sering melakukan penampakan, ketahuan orang TV, jadi program kamu! Sana, masuk ke tempat biasa. Jangan muncul kalo nggak dipanggil, ya?!!!”

“Hi-hi-hi, baik, Bos!” Nyai Jojon out frame.

Dukun (Kang Ibing) lalu monolog, bercerita riwayatnya dulu yang pernah merantau dari kampung ke kota, ternyata nasibnya justru tambah terlunta-lunta. Ia kemudian melakukan Tirakat, puasa 40 hari ditambah sehari semalam melakukan puasa Pati Geni, tidak makan tidak minum, tidak tidur.

Akhirnya ia ketemu Seorang Mbah yang misterius dan memberinya segelas air putih. Setelah air segelas itu dia minum, Mbah tadi langsung gaib, hilang. Dan tiba-tiba ia merasakan diikuti oleh sebuah bayangan yang menyeramkan. Ternyata bayangan itu adalah Nyai Wewe Gombel Jojon yang mengaku telah menjadi hambanya dan siap membantu apa saja bila Kang Ibing mau berprofesi sebagai seorang Dukun.

“Apa saja? Gile Bener!” Dukun (Kang Ibing) inget kata-kata itu. Dan ia ngetes Nyai Jojon berkali-kali ternyata memang terbukti. Sejak itu, ia lalu mendeklarasikan diri sebagai Dukun Sakti Mandraguna.

(Pada bagian di atas  ini, bila bisa diselingi dengan insert: fragmen Kang Ibing (layar lebar, jika ada) waktu merantau dan ketemu Mbah Misterius maupun Nyai Jojon, mungkin tambah seru).


Adegan 4
Muncul Parto, Si Calo Dukun. Ia melaporkan kepada Dukun (Kang Ibing) kalo dirinya sudah dapat empat pasien. Satu pasien seorang wanita pengamen yang ingin jadi pesinden top dan kedua, seorang pria sudrun, pengangguran, yang ingin jadi dalang top; ketiga, seorang pria bernama Asep, perantau asal Bandung pingin jadi pelawak terkenal; dan keempat, laki-laki, perantau asal Solo pingin jadi Pelawak Solo atau Pelawak Tunggal.

Parto pesan supaya Mbah Dukun menyiapkan diri karena sebentar lagi kedua pasien itu akan sowan ke sanggar Mbah Dukun. Dukun (Kang Ibing) lalu buru-buru out frame dan bersiap-siap dengan seragam kebesarannya. Sementara itu Parto mengeluarkan kalkulator dari saku lalu tampak  sibuk menghitung komisi yang bakal diterimanya.


Adegan 5
Muncul Misye Arsita dan Gogon. Misye mengagetkan Parto yang lagi sibuk menghitung keuntungan yang bertebaran di udara. Misye dan Gogon lalu mendesak soal janji Parto mau mempertemukan dengan Dukun Sakti.

Menurut Parto, ketemu orang sakti itu ada aturannya. “Lihat matahari. Setelah dia agak condong ke barat, baru boleh nemuin Mbah Dukun (Kang Ibing).”

Parto lalu Tanya ke Misye maupun Gogon, bagaimana manusia-manusia culun macam mereka berani punya nyali mau jadi pesinden dan dalang top? Misye Arsita lalu pamer soal bakatnya yang luar biasa. Gogon juga, bahkan ia memperagakan kemahirannya mendalang.

Tapi semua yang ditunjukkan ke Parto itu gombal, tidak mutu. “Tunggu saatnya, nanti setelah disentuh oleh mantra sakti Mbah Dukun, kalian pasti tak percaya pada kehebatan yang akan kalian miliki!” kata Parto.

Misye dan Gogon sangat gembira, sehingga hampir saja mereka berpelukan kayak baru aja lolos audisi.


Adegan 6
Muncul Asep dan Manteb. Dengan bahasa Sunda yang medok, Asep mengingatkan Parto bahwa mereka berdua (dan Manteb) juga pingin ketemu Dukun Sakti itu.

Parto pura-pura menggertak, “Emang kalian bisa apa? Mau jadi pelawak top? Emang ngelawak gampang? Ikut API dulu, masuk seleksi audisi dulu, bisa masuk kagak?”

“Tapi Mas Parto,” sahut Manteb, “katanya Dukun Sakti itu bisa menyulap kita jadi pelawak top dalam waktu singkat, makanya kita tertarik banget. Lihat nih! Duit hasil mbobok celengan kerja setahun, nih, cukup, kan buat ongkos?”

Parto blingsatan begitu melihat kemilau duit; ia lalu minta Asep dan Manteb bergantian memperagakan keterampuilan mereka melawak.

Melihat penampilan dua orang udik itu, baik Parto, Misye maupun Gogon tertawa terpingkal-pingkal. Bukan karena lawakannya lucu tapi karena keluguan dan kepolosan  mereka yang bikin penonton ngetawain.

“Sudahlah! Kalian berdua masuk waiting list! Antre kloter berikutnya setelah dua orang cowok dan cewek yang genit itu!” (menunjuk ke Gogon dan Misye). Mereka berempat (Misye, Gogon, Asep dan Manteb) out frame. Parto mengambil kalkulatornya lagi, masih menghitung komisi yang belum rampung dan terganggu kedatangan Misye tadi.


Adegan 7
Muncul Malih dan Kirun. Dari pakaian keduanya ketahuan kalo keduanya mahasiswa. Tasnya gede dan bawa buku tebal-tebal.

“Ini dia biangnya! Dapat mangsa gede ya, To?” Tanya Malih pada Parto dan Kirun menatap Parto  dengan mimik sinis.

“Yah, lumayan. Namanya orang yang lagi daripada nyari nafkah, dst.dst.” jawab Parto.

“Asyik juga ya dengan adanya dukun sakti, orang tidak dapat menyanyi, datang ke sana, asal mau bayar sejumlah uang, diberi mantra dan air putih, tak lama kemudian langsung pintar nyanyi. Tak perlu belajar. Tak perlu kuliah. Tak perlu ikut masuk test perguruan tinggi. Kalo gitu, misalnya aku ke sana pingin pinter kayak professor langsung bisa?” Tanya Kirun dengan nyindir.

Parto tampak blingsatan, “Ya, begitulah…!!! Namanya juga ilmu gaib.”

“Supaya pintar korupsi? Juga langsung bisa?” Tanya Kirun lagi.

Parto makin merasa kalo dirinya disindir. Ia mau mencoba berkelit supaya bisa kabur, tapi Malih dan Kirun terus mendesak dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Parto ketakutan setengah mati.

Apalagi Kirun menyebut-nyebut pasal KUHAP segala. Yang menipulah, yang menyesatkan oranglah.

Malih menegur Kirun, “Urusan gaib mah kagak ada hubungannya ama pasal-pasal begitu, Run. Santet aja ampe sekarang tak bisa dibuktikan di pengadilan!”

“Iya kalo gaib beneran, kalo boongan?” balas Kirun. Keduanya berdebat seru.

Kesempatan itu dimanfaatkan Parto untuk kabur dan segera menyusul keempat pasiennya yang udah jalan duluan.

Malih dan Kirun masih berdebat. Setelah mereka menengok, baru sadar kalo Parto berhasil kabur. Maka sambil membuktikan kenyataan yang terjadi, mereka bertekad ingin melihat langsung di lokasi dukun sakti berpraktek. Keduanya pun out frame, menyusul Parto.

Adegan 8
Tiba-tiba terdengar bunyi musik magis yang cukup heboh. Bumi seperti diguncang dan langit seperti kencing.

“Ini pertanda bahwa Mbah Dukun siap ditemui! Kalian sudah siapkan sarat-saratnya?” ujar Parto. Baik Misye maupun Gogon mengangguk dengan gemeteran. Parto ternyata tidak ikut masuk. Ia hanya mengantar. Lalu out frame.

Misye dan Gogon pun menghadap Mbah Dukun. Tapi orang yang pertama menyambut adalah seorang gadis cantik (Bintang Tamu Wanita) yang mengaku sebagai Asisten Mbah Dukun.

Gadis Cantik itu mengajukan beberapa pertanyaan yang tidak lazim, misalnya: berapa kali dalam seminggu melirik ke lawan jenis?

Mengapa tertarik menjadi pesinden dan dalang wayang kulit? Mengapa bukan satpam atau tentara?

Pernahkah waktu lapar makan kembang dan kemenyan?

Bagaimana pendapat mereka tentang kebiasaan orang yang meludah dan kentut di sembarang tempat?

Dst. Dst.

Adegan 9

Mbah Dukun (Kang Ibing) muncul. Ngomongnya ngaco dan seperti orang kesurupan. Kemudian kepada Asistennya ia bertanya, “Apa mereka sudah melengkapi administrasi? Bayar uang, jelasnya!?”

Asistennya dengan gemetar mengatakan sudah.

“Baik! Kesini kalian dua orang sontoloyo! Kalian pengin ngetop? Seberapa ngetop? Nah! Ini ada dua gelas air. Masing-masing minum satu gelas, sampai habis!”

Misye dan Gogon meraih gelas dan meminumnya. Tak lama kemudian keduanya merasa agak pusing, kepala seperti berputar-putar.

Adegan 10

Tak lama kemudian, muncul sosok Nyai Wewe Gombel Jojon; ia mencolek lengan Misye Arsita dan kemudian mengajarkan cara nyanyi/nyinden yang benar.

Dimulai dari do re mi fa sol la si do dan latihan vokal: a i u e o, auoooo, aueeee, auiiiiii, dan seterusnya.

Kepada Gogon, Nyai Wewe Gombel Jojon mengajarkan cara mendalang yang benar, tentu saja dalang wayang Sunda. Semuanya dilakukan secara cepat, tapi kedua orang itu langsung bisa dan percaya diri.

Misye selain mahir nyinden, ternyata juga mahir nyanyi ndangdut. Gogon yang diajari mendalang wayang golek, ternyata malah mahirnya mendalang wayang kulit (Jawa). Keduanya dianggap cukup, lalu dibolehkan out frame. Nyai Gogon, juga sememtara out frame.

Adegan 11

Giliran Asep dan Manteb in frame. Dukun menatap dua orang ini dengan mata melotot. Berkali-kali menggosok-gosok matanya. “Heh! Kalian mau apa sebenarnya?”

“Kami pingin jadi pelawak, Mbah Dukun. Pelawak top. Supaya cepat kaya dan terkenal!” sahut Manteb dengan mantap.

“Puih! Orang-orang sontoloyo macam kalian mana bisa jadi pelawak. Tapi berhubung menurut laporan Asisten saya, sodokan dananya agak kenceng, oke, nih, air putih diminum!”

“Nggak pake racun kayak dukun Iskandar yang di Tegal itu, kan?” Tanya Asep, takut-takut.

“Enak aja! Emang gua dukun apaan? Cepat minum, keburu kesaktiannya habis!”

Keduanya minum air putih; masing-masing satu gelas, langsung habis; maklum kehausan.

Setelah itu mereka merasa kepalanya juga puyeng.

 Adegan 12

Tak lama kemudian, muncul sosok Nyai Wewe Gombel Jojon; ia mencolek lengan Asep dan Manteb, kemudian mengajarkan cara melawak yang benar.

Dimulai dari monyongin mulut. Menekuk-nekuk muka, njulingin mata, berjalan seperti orang bego dan lain-lain.

Nyai Jojon juga ngajarin ngomong di depan orang banyak di atas panggung. Dia mulai buka suara, “Saya mo ngomong; mo ngomong saya, saya mo ngomong; ngomong dong, sayang….????!!!!” Sambil monyongin bibir.

Maka Asep dan Manteb menirukan adegan itu; persis seperti iklan Telkom.


Adegan 13
Tepat pada saat Asep dan Manteb latihan ngomong dan ternyata tak juga bisa, masuk  Malih dan Kirun.

Mbah Dukun dan Nyai Jojon sangat kaget, melihat kehadiran dua orang yang selonong boy itu.

Kirun makin curiga melihat kenyataan itu. Kenyataannya, Manteb dan Asep nggak bisa ngelawak.

Kirun bahkan meneliti dengan seksama wajah Mbah Dukun yang tampak diam tak berkutik dan Nyai Jojon yang juga diam beku kagak bisa menghilangkan diri.

Kirun lalu bilang ke Malih, “Nah, kamu lihat sendiri kan? Ternyata dua orang bernama Asep dan Manteb  yang katanya pingin jadi pelawak top itu ternyata tidak becus pidato; apalagi ngomong pake bahasa gaul? Bagaimana mau jadi pelawak top? Padahal keduanya sudah dikasih air putih sama Mbah Dukun. Berarti ini penipuan!”

“Mana mungkin penipuan? Ini pasti gaib benaran. Tadi kita lihat sendiri Misye sudah mahir nyinden dan Gogon juga pinter mendalang!” sahut Malih.

Kang Ibing dan Jojon memanfaatkan situasi itu untuk pelan-pelan kabur.


Adegan 14
Kirun nemu akal. Ia lalu membuka kedok nama-nama: Misye, Gogon, Kang Ibing, Jojon dan dua orang yang bernama Asep dan Manteb.

Kirun kaget, “Siapa? Misye? Terang aja, emang dari dulu Misye udah pinter nyinden dan Gogon selain ngelawak juga pinter mendalang.”

“Tapi…mereka bisa karena minum air putih… Asep dan Manteb belum mahir, mereka kan lagi dilatih ngelawak….” bela Malih dengan tergagap gemas.

Ending

“Alaaaaaa! Itu kan temen-temen kita juga. Sudahlah! Yang pelawak ya ngelawak; yang dalang ya mendalang. Ayo dong Kang Asep dan Mas Manteb, jangan gresek-gresek job sampingan gitu dong, harap kembali ke habitat Anda semula!” teriak Kirun dengan ketawa.

Kang Asep dan Ki Manteb segera bergegas ke tempatnya masing-masing dengan wajah agak tersipu.



TUUUAAAAMMAAAT!!!

 


Amir Taqi's Works

Amir Taqi's Works

Popular Posts

Related Blog or Site

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kostum - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger | Distributed by Rocking Templates