Headlines News :

The Winners Are......???!!!

The Winners Are......???!!!
Caricatures by Amir Taqi, Irak

Latest Post

Kolom-kolom Iseng Tandi Skober

Written By Admin on Monday, June 8, 2009 | 4:00 PM

MENEBAK ARAH LANGKAH MANOARAH
Wawancanda dengan Saut Poltak Tambunan

Huru hara berita Manoarah masuk kantong Pemred Foeza Hutabarat. “Kamu wawancarai dengan cara apa saja tentang berita apa saja yang bicara Manohara!” Aku nunut. Tapi ini hal mustahil! Jauh panggang dari api, Manoarah bisa kuwawancarai. “Coba kamu cari akhli Manoarah,” saran Redpel Kardy Sayid,”Cari di facebook!” Facebook? Buku berwajah banyak orang? Aku nunut. Benar, ada banyak wajah di FB. Dari sekian banyak wajah itu aku tertarik dengan potret unik SAUT POLTAK TAMBUNAN. Berikut wawancanda tersebut usai disensor redpel Kardy Syaid.

Tandi: Elok tak elok, apa pula yang terpikir di benak awak nih soal akar masalah Manoarah?
Poltak: Buruk ranjang, cermin pun berlari. Itulah pula arah langkah Manohari.
Tandi: Apa betul soaL kekerasan seksual?
Poltak: Alah mak jangggggg! Dari 63.436.234 wanita bersuami di Indonesia hampir tiap malam merasakan kekerasan seksual. Tak ada yang protest. Tidak pula raun-raun lapor televisi. Elok kau lihat di Rumah Sakit Korban Lelaki, kau tengoklah itu wanita-wanita berbadan elok akibat kekerasan seksual. Tak satu jua yang melapor ke Komnas Ham. Tak ada jua yang datang ke Komisi Perempuan Kesakitan KPK.
Tandi: Kalau bukan kekerasan seksual, apa pula latar belakangnya?
Poltak : Latar belakangnya yah sudah jelas lahhh. Berakir-rakit ke Kelantan, berenang-renang ke Jawa menyebrang. Bersakit-sakit di Kelantan, bersenang-senang masuk infotainment kejar tayang.
Tandi: Mantap! Itulah yang hendak aku tanya. Sikit-sikit bisakah awak bercerita?
Poltak: Manoarah dan Sultan Jawer berbeda rasa dalam hal bersantap malam. Sultan Jawer lebih berharap makan bersulang jemari. Akan halnya Manoarah lebih suka bersendok garpu. Sultan lebih suka bangau.
Tandi: Apa pula maksud awak ni?
Poltak:Setinggi-tinggi terbang bangau akhirnya kembali ke kubangan ranjang juga.
Tandi: Bila Sultan suka bangau. Bagaimana pula kesukaan Manoarah?
Poltak: Manoarah lebih suka ikan.
Tandi: Ikan?
Poltak:Iyalah ikannnn. Lain lubuk lain ikannya, lain sultan lain rasanya.
Tandi: Salah lah itu. Yang benar lain lubuk lain ikannya, lain belalai lain rasanya.
Poltak: Macam mana pula kau, Tandi! Sultan Jawer juga manusia. Pastilah dia punya belalai.

(Saut Poltak lahir di Ambalat, 31 Pebruari 1963. Seorang pembuat lakon cerita sekaligus askar Departemen Keuangan Kerajaan. Maka tak aneh, manakala card yang terjepit di sakunya itu berlabel dua. Siang berlabel Departemen Keuangan. Sore hingga malam berlabel Redaktur Majalah Kuncung. Salah satu lakon cerita bertajuk “Hargailah Diriku’ telah diproduksi menjadi lakon wayang. Alkisah, berkat lakon Hargailah Diriku itu, lakon-lakon Saut Poiltak Tambunan dihargai mahal.)

Tandi:Konon menurut berita burung sultan suka main silet tehadap Manoarah.
Poltak: Itu juga betul.
Tandi: Kenapa bisa begitu?
Poiltak:Alkisah, selalu sahaja, sultan tak bisa tidur sebelum mendengar sandiwara radio bertajuk Api Di Bukit Manoreh.
Tandi:Ya! Yang pernah disarkan televisi-televisi Indonesia. Itu kan cerita silat.
Poltak: Betul kau bilang itu cerita silat. Tapi didengar sultan itu cerita silet.
Tandi:Silat? Silet? Beda lah antara silat dan silet.
Poltak:Di situlah akar masalahnya. Sultan rasa bila bisa bermain silet maka jadilah sang pejantan tangguh. Tanpa silat silet tak bisa pula hentak-hentak bersetubuh. Pokoknya, cam mana ada berlaku di lakon Api di Bukit Manoreh, berlaku pula terhadap sang istri Manoarah. Silet sana, silet sini, silat lidah, silat silit…. Bergaulah suami istri itu seperti layaknya lakon Api di Bukit Manoreh.
Tandi: Bergaul apa pula?
Poltak: Bergaul berguling-guling lah…
Tandi: Alah makkkkk itu kan biasa.
Poltak:Tapi hal biasa itu menjadi luar biasa yang lama-lama bila tak dicegah bisa menjadi binasa.
Tandi:Kenapa pula luar biasa menjadi binasa?
Poltak: Manorah tidak bisa bergaya melayu. Dia bilang ke aku “Oalah, Poltak….Poltak! Piye kowe itu, Tolle! Yah ndak bisa loh. Masa bergaul suami istri disuruh mlayu-mlayu. Alias lari-lari. Udan sing gede nyembeleh gajah kurang banyu, gajahe mlayu-mlayu. Iya ndak bisa.”
Tandi: Oh….. Itu karena Manoarah orang Jawa.
Polta:Padahal Sultan selalu bilang “Tak kan Melayu hilang ditelan Jaman.”

(Saut Poltak Tambunan dikenal manusia Jawa sebagai novelis yang humanis. Suatu saat ketika Tandi Skober berbaju kumuh tidak bermerk bagus, dibelikannya hem-hem lembut bermerk arrow yang bila dipakek…..lembut di kulit. Hmm, baju itu sekarang entah dimana. Juga dia pintar bertetangga. “Pas Hari Raya Iedul Fitri,”ucap Iing Somantri tetangga Poltak,” Mau mudik tak ada duwit. Eh, Pa Poltak bawa mobil toyota yang mirip kaleng kerupuk itu. Ia mengajak kami sekeluarga mudik ke kampung. Dia yang jadi supir, yang isi bensin yang beli ini itu” Konon amalan baik inilah yang membuat cinta Poltak tidak ditolak gadis Menado berdarah Indonesia.)

Tandi:Sekarang ke mana sebenarnya arah langkah Manoarah setelah ada di Indonesia?
Poltak: Kuda Troya Ambalat!
Tandi : Jadi gara-gara Manoarah akan terjadi perangggggggggg?
Poltak: Salah itu! Sultan Jawer bicara sama aku ,”Ambilah Manoarah itu, tapi ambalat aku ambil, gimana?”
Tandi: Loh? Ambalat ditukar dengan Manoarah?
Poltak: Kenapa tidak? Sisi lainnya, implikasi Ambalat dan Manoarah akan membuat adanya peningkatan anggaran angkatan perang Indonesia.
Tandi: Aku kurang mengerti.
Poltak: Begini Tandi jelekkkk! Ambalat dan Manoarah adalah kartu truf! Angkatan Perang Sultan Jawer jauh lebih berkualitas dibandingkan angkatan perang Indonesia. Jadi tanpa anggaran yang proporsional maka di atas kertas Indonesia kalah.

Tiba-tiba……Kardy Syaid berteriak”Stoppppppppppppppppp!”
Aku diam! Saut Poltak Tambunan malu-malu kucing, permisi mau kencing.
Langit redup di atas Ambalat.
Seorang penjual jamu gendong bernama Reni Teratai Air sodorkan puisi kuliner:
Secangkir kopi pahit (bukan sisa kemarin)
Sekerat rendang warung makan padang
Sekepal nasi putih pulen
Sebentuk hati yang terbelah
Ke arah mana angin Ambalat membawa langkah Manoarah…

Bandung.6/3/2009 8:20:27 PM



UMI…. OMNI ITU YAHAT YA UMI

Airmata Pemred Foeza Hutabarat mengalir linier membasahi keyboad laptop. Di sudut ruang, Redpel Kardy Syaid menunduk memeluk dengkul. Metro TV tayangkan sujud syukur ibu muda bernama Prita berjilbab hitam. Aku? Mengkorek-korek asbak barangkali masih ada sisa puntungan rokok yang masih bisa diisap barang dua atau tiga sedotan.
“Tulis! Tulis! Tulis,”ratap Foeza,”Wawancarai Dewi Justitia, Pritha, JK, SBY, Direktur RS OMNI semua,semua,semua… cepatttttttt!”
Aku nunut! Aku tumpahkan semua puntungan rokok dalam saku baju berlogo PWI.
***
Mentari pagi merangkak naik, memajati pagar rumah Pritha. Bocah manis berusia satu tahun lebih sikit, menggigiti pentil botol susu.

Tandi: Udah ketemu bunda lagi yah yaya…
Yaya : Iya, tapi bunda kenapa sih bawa banyak-banyak olang. Telus ada kamera ada, lampu, ada banyak oom-oom dan tante-tante. Telus kakek siapa?
Tandi : Panggil opung! Opung Tondi Matolu.
Yaya : OIpung Tondi bau okok Opung bau okok… opung bau okok…
Tandi :Iya deh. Opug matikan okoknya.
Yaya : Opung… opung….. OMNI itu yahat ya Opung. Yahat. Masa yaya nenen ama botol. Halusnya kan yaya nenen amat bunda ya Opung.
Tandi : Iya sayang. Terus kalau rindu sama bunda, yaya ngapain aza?
Yaya: Yaya cari potret bunda. Yaya cari cari dan telus cari. Yaya jalan ke sana kemali. Eh, potret bunda ada di atas meja.
Tandi: Yaya ambil potret itu?
Yaya :Yahhhhh…. Yaya ngga bisa ambil. Mejanya kan tinggiiiii banget. Tapi, pas yaya lihat televisi, ada potret bunda….eh, bunda sedang menangis. Yaya lihatin aza bunda. Yaya deketin televisi. Yaya bilang…. Sinih bunda…sinih bunda… Yaya males nenen ama botol. Ayo bunda keluar dari televisi, bunda. Bunda pasti bisa keluar dari televisi. Pokoknya Yaya ngga marah kok mama sakitnya lamaaaaaaaa sekali. SAyo bunda…. Keluiar dari tivi. Satu….dua….tiga….
Tandi: Ohhhhhh gitu…. Bundanya ngga bisa keluar dari tivi ya, yaya?
Yaya : Iya…bunda hanya nangis nangis nangis saja. Harusnya loncat hop hop keluar dari tivi. Telus yaya berpikir. Telus yaya ambil rimot. Yaya pijiti rimot supaya bunda keluar dari televisi. Eh bunda hilang…. Yang ada gambar tante-tante. Yaya sedih. Yaya bilang…bunda…. Yaya mau nenen… yaya ngga mau susu botol…. Yaya mau memeluk bunda. Yaya mau bunda ga kemana-mana…
Tandi :Yaya tahu ngga kenapa bunda ngga ada di rumah lamaaaaaa sekali
Yaya: Kata teteh sebelah itu gara-gara milis…… Opung bau okok, kalau milis itu apa sih?
Tandi :Milis itu surat.
Yaya: Surat itu apa, Opung?
Tandi:Surat itu…tulisan.
Yaya: Oh…. Iya yaya ngerti. A….b….c….d… horeeeeeee yaya pintar…
Tandi: Iya yaya pinter.
Yaya:Jadi gara-gara nulis A….B…..C….D bunda ga pulang-pulang?
Tandi: Benar sayang.
Yaya :Telus mama bobonya di mana? Hmmm, kata teteh tetangga di bui. Betul ga opung?
Tandi: Tapi bunda sekarang sudah sama yaya lagi kan?
Yaya: Iya, bunda pulang! Bunda pulang bawa orang. Bunda pulang bawa orang

Yaya tampak amat berbahagia. Ia lari-lari kecil berputar-putar sambil terus bernyanyi “Bunda pulang bawa orang. Bunda pulang bawa orang.” Di luar pagar, mobil berhenti. Pengacara Bundanya Yaya turun dari mobil. Sang Bunda, papahnya dan beberapa orang keluar dari rumah. Puluhan wartawan elektronik bergerak cepat mengambil gambar.
Mata yaya memandangi bundanya.
Sang bunda memeluk Yaya.
“Bunda pergi dului ya yaya…”
“Pelgi ke mana bunda?”
“Hmmm kerja.”
“Pasti lamaaaaaaaaaa ya bunda?”
“Ngga sayang…. Sebentar saja. Sore Bunda pulang…”

Yaya kembali menari sambil menai “Bunda pulang bawa orang. Bunda pulang bawa orang”
Dan ketika satu demi satu, bunda, papah, pengacara, para wartawam, semua-semua meninggalkan dirinya, bocah manis bermata indah itu mendadak berhenti menari dan menyanyi. Ia memandang ke sudut ruang, ia lihat botol susu itu. Ia berjalan tertatih-tatih. Ia ambil botol susu itu. Ia lihati botol susu itu terus menerus…. Terus menerus…Terus menerus!
Aku trenyuh! Mata bocah itu seperti khabarkan kecemasan tak berujung.
“Allah huma Ya Allah, siapa yang mencuri mimpi bocah manis bermata elok itu, ketika hukum dan keadilan berada di ruang gelap?”

Bandung,Thursday, June 04, 2009 09:45:15



OBAMA, OSAMA, OH SAMA-SAMA O

Sinar bulan jatuh di ruang Redaksi Bu Letin. Foeza Hutabarat tertidur lelap di atas sofa. Di dadanya ada tasbih putih. Kardy Syaid tidur tersenyum di atas sajadah hijau lumut yang tebal. Di jemarinya masih tergenggam Kitab Al Quraan ukuran saku baju. Sementara aku? Klepas-klepus merokok bersandar pada dinding dingin memandangi gambar Barack Husien Obama dan Osama Bin Laden.
Aneh! Obama dan Osama yang sama-sama o(rang) itu saling bertukar amarah. Tak hanya itu, dua nama yang hanya berbeda pada huruf /b/ dan /s/ itu merengkuh tubuhku dan aku didudukan di kursi biro redaksi.
“Berkhotbahlah tentang kita orang, Wahai Opung Tondi,”ucap Osama dan Obama berbarengan.
“Yahh, ndak mungkin. Aku ini repoter yang repot sana-sini mewawancarai sana-sini.”
Obama dan Osama marah! Sama-sama menodongkan pistol ke arahku. Aku nunut! Ngerti! Amerika maupun Al Qaedah sama-sama lebih suka menodongkan pistol ketimbang botol.
“Manusia ada dan menjatidiri menjadi manusia bila ada dialek¬tika,”ucapku agak gemetar,” Adalah komunitas perbincangan baik bersifat horisontal maupun vertikal yang terus menerus diposisikan sebagai substansi humanisme. Soalnya, Allah menciptakan manusia tidak untuk berkesen¬dirian, tapi berpasangan, berkelompok, berbangsa, membineka dan terjembatani lewat dialektika global.”
“Ok! It’s right! Apa itu prinsip Islam?” tanya Obama.
Tiba-tiba Kardy Syaid bangun langsung bacakan Al'Quraan 49:13 “Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah oran yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. “
“Wow! Ok! Banget,” respon Obama,” Dengan demikian manusia bisa didefinisikan sebagai mahkluk kultural. Ia dihadirkan tak cuma sebagai fenomena supernatural yang jatuh dari Surga, juga bisa jadi merupakan gejala kultural yang multi dimensi “
“Itulah Islam, Tuan Presiden,”ucap Foeza Hutabarat, yang mendadak bangun. Masih ada air liur di sudut bibir Foeza,” Manusia adalah mahkota serta puncak alam semesta! Manusia adalah makhluk yang bertanggungjawab, yang diciptakan dengan sifat-sifat Ketuhanan. Seperti sebuah samudra maha luas, manusia adalah penghubung antara Zat Mutlak dan segala penciptaanNya. Alam mikro kosmos yang mengungkapkan alam makro kosmos. Seperti halnya air menjadi penghubung antara ombak dan laut. Sebagai pangkat terakhir penjelmaan Zat Mut¬lak, maka manusia bisa diposisikan sebagai titik balik bagi perjalanan kembali kepada Allah. Secara potensial manusia adalah tempat pertemuan antara pengaliran keluar dan pengaliran kembali.”
“Anda dengar apa kata Indonesianis Foeza Hutabarat wahai Obama?” ucap Osama.
“Yah! Pada hakekatnya Amerika berpihak pada opini itu!”
“Lantas kenapa Amerika suka dar-der-dor di negeri orang?”tanya Osama.
“Hmm begini, Al Muhkharom Osama Bin Landen,”ucap Foeza melerai,” Ini berawal dari dialektikia Amerika bersifat internal! Mereka dipenjara akal, dipenjara naluri, dipenjara indera, dipenjara oleh otoritas superpowernya! Pada saat bersamaan Amerika juga dintervensi dialektika bersifat eksternal! Ini lebih gawat lagi! Adanya materi, alam, sejarah bahkan struktur kultural peradaban anti Amerika yang mengglobal! Amerika akhirnya bagai sekrup-sekrup mesin dari sebuah proyek raksasa yang diciptakannya sendiri! Celakanya Amerika tidak pernah lepas dari berhala-berhala pemikirannya sendiri. Dan dengan pongah Amerika amat yakin bahwa hanya cukup dengan berbisisk selembut bisikan semut, ia akan mampu membuat perubahan-perubahan mendasar peradaban manusia di belahan dunia lain. Bahkan dengan pidato hanya satu menit yang disebarluaskan mass media. ia akan mampu menggonjlang-ganjlingkan dunia lewat intervensi, pembantaiaan-pembantaian bahkan konon untuk kebiadaban ini selalu saja berkata: Demi perdamaian dan kelestarian kebudayaan universal! “
Obama menangis! Ia memeluk diriku. Aku usapi kepalanya yang mendekati gundul itu. Aku elusi hidungnya yang mirip penggaris segitiga itu. “Dengar Obama,”tuturku,”Manusia selalu saja diguncang dilema-dilema rumit. Dan inilah dilema abad ke abad yang tak pernah selesai. Potensi yang dimiliki untuk memperluas kesempurnaan sebagai bayang-bayang nyata kebesaran Allah justru diobrak-abrik rudal-rudal brutal duniawi. Dan manusia selalu ceroboh !”
“Oh Opung Tondi….andai kau mau pindah ke Amerika. Kau akan menjadi penasihat spritualku,”ucap Obama.
"Oh Obama, “tuturku lembut,”Sadarilah, bahwa apa yang selama ini engkau sangka sebagai dirimu itu hanyalah ramuan dari keyakinan-keyakinan orang lain yang dijejalkan ke dalam dirimu, tetapi ingatlah, itu bukan dirimu yang sebenarnya"
“Oh Opung Tondiiiiii, ajari saya, Presiden Amerika tentang satu hal yang membuat saya mengerti sebenarnya melangkah ke arah mana umat Islam itu?”
“Berkendaraan dunia untuk menadapatkan alam langgeng bernama surga ukhrawi!”
Kardy Syaid yang bersuara bagus itu kembali membacakan Surat Al Baqarah ayat 3,4 dan 5 ,”"Mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan sholat, yang menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah ditu¬runkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan merekalah orang-orang yang beruntung."
“Wow! Simpel! Sederhana! Tidak serumit yang saya bayangkan.”ucap Obama seraya garuk-garuk kepala gundulnya,”Tenyata Islam bukan hanya mengajarkan kebenaran-kebenaran serta tata nilai universal yang kekal, yang mampu memberi petunjuk bagaimana memerdekakan diri dari penjara harta, dunia, struktural sosial dan bayang-bayang dirinya, tetapi Islam pada hakikatnya, juga memiliki kapasitas solusif untuk menampung segala dilema dunia. “
“Mantap itu!”ucapku.
Kini Obama memandangi Osama. Saling pandang yang luarbiasa! Obama menaruh pistol di meja redaksi. Osama, demikian juga! Ia letakan pistol di atas sofa. Terus? Keduanya saling berangkulan.
“Aku sudah siap untuk berpidato di Mesir tentang Islam!”ucap Obama
“Aku akan mendengar pidato anda, Tuan Presiden Barack Obama,”balas Osama
“Tolong sebut namaku secara lengkap, Osama,”balas Obama,.” Namaku Barack HUSEIN Obama!”

***
Obama matikan rokok yang ia isap, Puntungan rokok itu ditaruhnya ke asbak.
Aku pandangi rokok itu! Hmm, rokok itu masih cukup panjang untuk dua hingga tiga kali isap.
Agak samar terdengar suara malam yang alunkan Surat Al Fajr ayat 27 s.d 30 dari sebuah surau yang terpencil: "Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam syurgaKU."
Aku terjaga dari tidur. Mataku langsung ke asbak rokok. Kukorek-korek asbak mencari sisa rokok Obama. Ohhhh nasib, tiada jua kutemui…..

Kairo, Mesir, Friday, June 05, 2009 8:05:37 AM


NINE (9) MISS INDONESIA 2009

Radio Citra Televisi Indonesia (RCTI) dipeluk erat Pemred Foeza Hutabarat. Penyiar radio bernama Imam Tantowi baru saja khabarkan Nine terpilih sebagai Miss Indonesia 2009. Redpel Kardy Syaid sibuk utak-atik arah antene radio. Bendahara Bu Letin bernama Reni Teratai Air buka kencleng kaleng. Maklum hari sabtu hari gajian. Aku? Terus menerus memandangi lembaran-lembaran uang itu .Dalam setiap lembaran uang tergambar: Rendang Warung Padang, Teh Es Tawar dan sebatang rokok kretek yang masih utuh. Kutelan air liur yang mengalir memasuki tenggorokanku.

“Tandiiiiiiiiiii!”tiba-tiba Foeza bicara keras,”Wawancarai Nine Miss Indonesia 2009! Cepat!”
“Ingat, bang”pesan Reni Teratai Air,”Yang kau hadapi ratu kecantikan! Mandi dulu. Pakek sabun. Sikat gigi pakek siwak agar mulut kau tidak bau rokok. Dan semprot dengan wewangian. Ngerti?”
Aku ngerti! Berikut wawancara dengan Nine si Miss Indonesia 2009.

***

Tandi: Nine itu bahasa inggris ya Nine. Itukah sebabnya anda bicara cas-cis-cus di depan juri?
Nina : Oh yes! That is that! Ini kan pemilihan miss indonesia 2009 yah pakek bahasa innggrislah. Kecuali pemilihan Ratu Indonesia, tentunya saya pakek bahasa Jawa.
Tandi: Loh kenapa?
Nine: Nyi Roro Kidul kan ada di Jawa. Ia suka pakek mahkota gemerlap di kepalanya. Bahkan kata Ibu Mentri Urusan Kewanitaan, sebenarnya ide pemilihan miss Indonesia itu diinspirasi cerita nyi roro kidul yang kerap dimainkan Suzana. Lihat mahkota aku? LIhat? Mirip Nyi Roro Kidul kan?
Tandi :Oh yesssss. I think show! Waktu kamu kecil apa pernah bemimpi jadi miss Indonesia?
Nine: Pas kecil aku lebih kepingin jadi kupu-kupu.
Tandi : Kupu-kupu?
Nine: Ya! Kupu-kupu! Tiap siang aku selalu nyanyi kupu-kupu yang lucu, kemana engkau pergi. Aku kejar kupu-kupu itu. Oh, lihat sayapnya begitu indah! Banyak warna! Ada warna merah jingga hijau kunig biru nila…tra la la la (Nine menari lucu) kupu-kupu yang lucu kemana engkau pergi.
Tandi: Oh! Yes! I think show! Terus sampai sekarang masih ingin jadi kupu-kupu?
Nine: Ih! Ya ngga lahhhh! Emang sihhhh, kalau siang kupu-kupu itu lucu! Tapi pas malam, jadi kupu-kupu malam. Emang pelacur wanita itu lucu? Ya enggalah! Lebih enak jadi nyamuk, seburuk-buruk nyamuk disebut orang wartawan alias nyamuk pers.
Tandi: Oh! Yes! I think show! Sebenarnya wanta idola kamu siapa sih?
Nine : Ken Dedes!
Tandi : Ken Dedes?
Nine :Iyalah… Ken Dedes! Dalam diri dia ada dua hal yang mestinya dipunyai banyak wanita Indonesia. Yaitu inner beauty dan inner smart! Kecerdasan dan kecantikan yang memancar dari semua organ tubuhnya.
Tandi : Bisa kamu ceritaka lebih rinci?
Nine: Dalam mitos Jawa Kuno dituturkan inner beauty dan inner smart Ken Dedes terpancar dari gua garbanya. Ana ndeleng cahyaning putih car mancar sing gua turuk garba. Konon, itu pula yang bikin raja-raja Jawa yang akhirnya menjadi suami Ken Dedes itu takluk nunut apa yang diinginkan gua garba itu. Bahkan seorang Kardy Syaid dalam esainya bertajuk “Yen Ning Tawang Ana Wadon” memastikan inti suksesi raja-raja Jawa bukan disebabkan keinginan menjadi penguasa teritorial tetapi lebih disebabkan keinginan memasuki gua garba Ken Dedes.
Tandi : Oh! Yes! I think show! Itukah sebabnya saat kamu di panggung, meletakan telapak tangan kamu di depan mulut. Dan kamu monyongkon mulut hembuskan angin melalui telapak tangan kamu? Terus orang-orang tepuk tangan.
Nine : Yah! Memang itu simbol kecantikan gua garba gaya Ken Dedes. Salam sayang yang keluar dari lubuk mulut terdalam yang tersembunyi.
Tandi: Oh! Yes! I think show!
Nine : Sebenarnya salam sayang itu ingin aku apresiasikan lewat tangan yang diletakan di kepala terus dijulurkan ke arah penonton. Tapi ketua panitia ga setuju. Itu gaya tentara. Ini miss Indonesia bukan misil tentara.
Tandi : Oh! Yes! I think show! Kenapa dalam pemilihan miss Indonesia tidak ada yang pakek jilbab.
Nine: Hmmmm, aku tidak punya kompentensi untuk jawab itu.
Tandi : Kamu pasti punya opini hal itu. Dan ini penting! Kita tahu Indonesia itu disebut-sebut Obama sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.
Nine: Ini off the rord ya. Hmm begini! Emang sih, untuk menjadi ratu kecantikan ataupun ibu negara , sebaiknya, seharusnya, semestinya, searifnya…… yaaaaa gimana yaaaa?
Tandi :Ah! Bicaralah wahai Miss Indonesia,
Nine: Ohhhhh, aku ingat! Aku ingat! Gus Dur di TV One, pernah bercanda bahwa Nyi Roro Kidul tidak mau pakek jilbab makanya terjadi gempa. Artinya? Karena miss Indonesia ini diinspirasi oleh mahkota Nyi Roro Kidul, sementara Nyi Roro Kidul tidak pokek jilbab, makanya miss Indonesia ya engga pakek jilbab.
Tandi : Oh! Yes! I think show!
Nine: Lagi pula makna miss Indonesia itu dalam bahasa Indonesianya artinya kehilangan Indonesia! Jadi jangan pernah berfikir bahwa aku ini merupakan profil wanita berwajah Indonesia! Aku setuju banget dengan Tan Koh Ber dari Komunitas Saritem Bandung yang mengatakan di CNN bahwa Miss Indonesia itu tidak lebih dari “The Dark of Indolence Indonesia”
Tandi : Oh! Yes! I think show! Terakhir! Rokok apa yang paling kamu sukai?
Nine : Emang kamu ingin dirokok?
Tiba-tiba….. “Stopppppppppppppppppppp!”teriak Kardy Syaid,”Jangan diteruskan! Kamu itu sudah jelek eh jorok lagi, Tandi bego!”

***

Reni Teratai Air menyodorkan amplop honor minggu ini. “Kencleng uang makin seret. Jadi honor abang setelah dipotong utang sana-sini tinggal 5 ribu rupiah. Emang itu ga cukup untuk sepotong rendang, secangkir teh es tawar dan sebatang rokok ,”ucap Reni,” Tapi itulah takdir abang. Selamat berakhir pekan ya bang.”
Aku diam. Diam-diam mataku merayapi sepatu bagus milik Redpel Kardy Syaid. Dalam anganku, aku ambil sepatu itu, aku bawa ke pasar loak Cimol. Terus? Aku kantongi beberapa lembar uang. Terus? Aku hadapi dengan air liur yang meleleh :Sepotong Rendang Warung Padang, secangkjir teh es tawar dan sebatang rokok……

Bandung, 6 June 2009 @ 09:05:26



PIKNIK KE KEBUN BIN(A)TANG WHITE HORSE

Mobil mewah BMW 23i4 berhenti di depan kanto Bu Letin. Pria necis berkacamata hitam menyedot cerutu keluar dari mobil, melangkah ringan memasuki ruang redaksi. Pria perlente ini ternyata Pemimpin Umum Bu Letin. Nama beliau tertulis di dahinya A Rahim Qahar! “Kita piknik ke kebun binatang!” ucap Qahar.
Wow! Keren! Ahad, 7 Juni 2009 yang indah!
Reni Teratai Air sudah menyiapkan 5 rantang. Rantang 1 bersusun 5 untuk Pemimpin Umum A Rahim Qahar! Rantang 2 bersusun 4 untuk Pemred Foeza Hutabarat. Rantang 3 bersusun 3 untuk Redpel Kardy Syaid. Rantang 2 bersusun 2 untuk bendahara Reni. Rantang 5 bersusun 1 untuk aku. “Ini propoisional fungsional sesuai dengan jabatan,”kilah Foeza.
Aku ikhlas! Juga ridho, ketika aku harus duduk meringkuk di bagasi mobil, disebabkan mobil bagus itu hanya bisa menampug lima penumpang termasuk supir. Kalaupun aku tersiksa ini disebabkan dalam bagasi aku tidak bisa merokok.
Mobil berhenti. Aku keluar. Ternyata kami berada di depan gedung DPR Senayan.
“Ini kebun binatang?”taya Qahar.
“Bukan, bos,”ucap Kardy Syaid,”Tapi betul, bos. Para bintang film sinetron akan ada di gedung mewah ini. “
“Para bintang yang binatang?”ucap Qahar seraya memiringkan kepalanya ke kiri.
“Begini bos, “potong Foeza,”Maksud kami…. Hmm, mereka itu bintang yang dibina secara matang oleh parpol. Terus orang bilang yahhhh..binatang. Bina secara matang.”
“Bintang yang binatang! Ok! Kita piknik di sini.”
“Nuwun sewu, Kang Mas, “potong Reni,”Kita tidak akan mendapatkan seekor binatangpun di gedung DPR ini. Walaupun, emang sih ada beberapa ekor anggota DPR yang korupsi, maen perempuan, sikat-sanah-sikat sinih, tapi itu tidak berarti mereka itu masuk kelompok khewan.”
“Betul, Bos. Ada anggota DPR yang ditangkap KPK,”ucapku.
“Apa itu KPK?”tanya Qahar.
“Komisi Pemberantas Khewan!”
“Nah! Loh! Berarti di sini ada kumpulan khewan yang ditangkapi KPK. Iya kan?”
“Tak juga betul, Bos, “potong Foeza” Sebab kalaupun kita piknik di gedung ini, kita akan bingung. Kita tidak bisa membedakan mana binatang mana bintang. Mana khewan dan mana pula kawan. Soalnya penghuni gedung DPR ini yah mirip kita –kita ini Bos.”
“Kita cari kebun binatang lainnya. Cabutttttt!” teriak Qahar.
Maka, kembali aku meingkuk dalam bagasi.
Mobil berhenti. Aku keluar dari bagasi. Mobil berada di depan Istana Negara.
Foeza berkeringat dingin. “Ini Istana negara, Boss. Tempat berkumpulnya presiden, wakil presiden dan para mentri. Jadi sangatlah tidak bisa dimengerti kalau kita berada di di sini. Sebab ini istana negara. “
“Loh? Itu kan ada gambar khewan burung Garuda?” tanya Qahar.
“Betul bos,”sambung Kardy,” Garuda itu termasuk jenis binatang. Itu hanya simbol.”
“Artinya para penghuni istana ini akan belajar moral dari seekor binatang bernama Garuda Pamcasila?”
“Bos benar,”ucap Reni,”Dulu ada penataran P4. Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila. Tapi bukan berarti, mencoba mengamalkan bagaimana seekor khewan berpolitik, berekonomi, beretika, bermesra-mesraan. Ga mungkinlah…. Kita meniru gerak-gerik khewan agar disebut pancasialis.”
“Hmmmm kamu Tandiiiii?”tanya Qahar,”Apa second opinion kamu?”
“Emang kita harus belajar moral dari burung, bos! Khewan itu jauh lebih khewani ketimbang manusia. Burung gagak akan mencuri rendang dan tidak akan mengambil piring dimana rendang itu diletakan. Mencuri hanya untuk kepentingan sesaat. Kalau manusia lebih serakah dari binatang. Rendangnya dicuri berikut piring dan rokoknya! Seekor kucing hanya mengambil rendang di dapur terus pergi. Manusia yah ambil rendang ambil piringnya ambil kompornya ambil rokoknya.”
“Sableng kamu! Dari tadi rendang rokok rendang rokok rendang rokok melulu! Cabuttttttt”
Kembali aku masuk bagasi.
Mobil berhenti! Aku keluar! Bah! Kami sudah berada di beranda gedung putih Amerika Serikat!
“This is …white horse….”ucap Qahar
“Maaf bos… bukan white horse tapi white house…”ucap Foeza.
“Bego kamu! Toefel kamu berapa?”ucap Qahar,”Kita piknik di kebun binatang terbesar di dunia. Holiday in white horse”
Reni mulai menata rantang. Kami menggelar tikar bersiap-siap makan berjamaah menghadap white horse. Aku lihat Reni meletakan rantang bersusun satu di ujung jempol kakiku. Aku buka! Hmmm, setumpuk nasi, kerupuk keriting, mie goreng keriting dan sebatang rokok kretek.
“Tandiiiiiii,”teriak Qahar.
“Siap boss!”
“Sepanjang kami makan, kamu bacakan puisi apa saja hingga kami selesai makan.”
Aku manggut-manggut. Seraya melihat mie keriting, akupun berpuisi “Dari sabang sampai maroke, dari Deli sampai ke Dili, rakyat negeri cuma makan indomie…… SBY presidenkuuuuuuuuuu!”
“Lanjutkannnnn!” teriak Qahar sambil mengunyah rendang.
Seraya melihat mie keriting, akupun kembali berpuisi “Dari sabang sampai maroke, dari Deli sampai ke Dili, rakyat negeri cuma makan indomie…… SBY presidenkuuuuuuuuuu!”
“Lanjutkannnnn!” teriak Foeza Hutabarsat sambil mengunyah ikan kepala kakap.
Seraya melihat mie keriting, akupun kembali berpuisi “Dari sabang sampai maroke, dari Deli sampai ke Dili, rakyat negeri cuma makan indomie…… SBY presidenkuuuuuuuuuu!”
“Lanjutkannnnn!” teriak Kardy Syaid sambil menggerogoti sum-sum sop buntut.
Seraya melihat mie keriting, akupun kembali berpuisi “Dari sabang sampai maroke, dari Deli sampai ke Dili, rakyat negeri cuma makan indomie…… SBY presidenkuuuuuuuuuu!”
“Lanjutkannnnn!” teriak Reni TYeratai Air sambil mengunyah rendang jengkol
Seraya melihat mie keriting, akupun kembali berpuisi “Dari sabang sampai maroke, dari Deli sampai ke Dili, rakyat negeri cuma makan indomie…… SBY presidenkuuuuuuuuuu!”

Bandung 7 June 2009 09:59:57

Memilih Hidup Sebagai Kartunis

Written By Admin on Monday, May 25, 2009 | 2:15 PM


Perjalanan Menuju Dunia di Balik Cakrawala


Dikisahkan oleh GM Sudarta

Rabu Kliwon. Hari itu, malam takbiran menjelang Lebaran, 20 September 1945 dini hari, saya hadir di dunia. Konon, menurut cerita ibu, tamu yang berdatangan menjenguk kelahiran saya adalah barisan makhluk halus seperti genderuwo, pocong, dan glundhung pringis. Tamu-tamu istimewa yang tidak diundang itu membuat ibu pingsan. Entah benar entah tidak cerita itu, yang pasti sampai sekarang saya tidak pernah menjumpai makhluk seperti itu.

Anak yang lahir pada hari Rabu Kliwon, seperti saya, menurut ayah, berdasarkan hitung-hitungan pawukon, nantinya kalau dewasa akan menjadi pendhito. Bukan pendeta, melainkan pendhito dalam bahasa Jawa, misalnya seperti Pendhito Durno.

Tempat tinggal kami tidak begitu jauh dengan rel kereta api. Di masa kecil, saya senang
melihat kereta lewat dan sering main di rel. Bila melihat rel kereta api yang memanjang
dan kemudian hilang di cakrawala, selalu saya bayangkan bahwa di balik cakrawala itu
ada dunia lain. Dan, karena itu, saya sejak kecil berkeinginan untuk melihat dunia di balik
cakrawala itu. Itulah impian masa kecil saya, sehingga saya kepingin sekali menjadi masinis kereta api. Dengan menjadi masinis, saya bisa menikmati perjalanan jauh dan pergi ke dunia di balik cakrawala.

Saya masih ingat, saat Agresi Militer Belanda II yang sering disebut Clash II, tahun 1948, situasi begitu memprihatinkan. Zaman itu adalah zaman "malaise" bagi rakyat. Oleh karena Kota Klaten, tempat keluarga kami tinggal, diduduki tentara Belanda yang masuk kembali ke Indonesia ndompleng Sekutu, kami sekeluarga terpaksa mengungsi ke Desa Bayat, sebuah desa pegunungan yang terletak di sebelah selatan Klaten.

Diiringi dentuman mortir dan rentetan ledakan peluru, kami mengungsi lewat pinggiran desa. Ibu berjalan kaki dan saya naik sepeda roda tiga yang ditarik Ibu dengan menggunakan selen¬dang. Di pengungsian, saya sering melihat lewat lubang pintu para pejuang, bergerilya melintasi depan rumah. Pengalaman itulah yang antara lain mempengaruhi perkembangan imajinasi saya, yang kemudian saya wujudkan dalam gambar.

Setelah perang usai, kami sekeluarga kembali ke rumah di Klaten. Meski sudah kembali ke Klaten, tetapi kondisi sosial ekonomi belum pulih. Waktu itu, tidak jarang kami hanya bisa makan jagung, nasi aking atau tiwul. Tidak jarang pula kami makan nasi jagung yang keras, sehingga membuat saya sering menangis karena rahang kesakitan saat mengunyah nasi jagung yang keras itu. Untuk melupakan perut yang kosong, ke¬laparan, saya suka mencorat-coret tembok rumah dengan arang. Saya berusaha menggambar orang yang tengah berperang dan menggambar kereta api yang penuh penumpang. Kalau tembok sudah penuh dengan coretan gambar saya, yang menjadi tempat pelam¬piasan saya adalah jalan aspal. Saya menggambar dengan menggunakan kapur tulis.

Melihat hal itu, ayah membuat papan tulis dari bekas jendela yang sudah rusak. Papan tulis itu diletakkan di teras rumah. Jadilah saya menggambar apa saja di papan tulis itu. Saya menggambar bintang-¬bintang film yang saya tonton di bioskop (Ayah bersahabat dengan seorang pemilik bioskop. la suka iseng ikut menjaga pintu bioskop, sehingga meski masih di bawah umur, saya bisa nonton bioskop apa saja. Misalnya, Tarzan, Batman, Superman, hingga film "Niagara" yang dibintangi oleh Marilyn Monroe). Bintang-bintang film itulah yang saya gambar di papan tulis, termasuk Marilyn Monroe. Gambar-gambar saya itu banyak menarik perhatian orang, termasuk anak-anak sekolah yang sewaktu pulang sekolah lewat di depan rumah saya. Itulah, pameran lukisan saya yang pertama!!!

"Pinaringan"
Memang luar biasa, ayah yang kejawen dan boleh disebut "wong kuno", sangat mendukung kegemaran saya. menggambar. Sementara, ada anggota keluarga yang menganggap bahwa pekerjaan gambar-menggambar itu tidak akan menjamin masa depan. "Kamu itu, pinaringan," kata ayah, "yang artinya diberkati Tuhan. Kalau kamu laksanakan dengan baik, akan bermanfaat dalam hidupmu."

Dan, ini bukan hanya kebetulan. Mungkin, ini yang namanya "Jalan Tuhan". Oleh karena bisa menggambar, pendidikan formal SD, SMP, SMA bisa saya lalui dengan lancar, meskipun saya tidak pintar dalam berbagai pelajaran kecuali menggambar dan olah raga. Kesadaran akan pinaringan itu mulai terasa benar saat duduk di bangku SMPN I, pada tahun 1957. Guru kesenian saya, Bapak Mawaridi (alm) yang mengajar seni musik dan menggambar, setiap bulan memberi surat pengantar kepada saya untuk diberikan kepada petugas tata usaha sekolah. Surat pengantar itu digunakan untuk mengambil sekotak cat air merek PDK, kuas, dan kertas gambar. Dengan perlengkapan itu saya diberi tugas membuat lukisan apa saja untuk hiasan sekolah.

Itulah, pameran lukisan saya yang kedua!!!
Apa yang terjadi saat itu, memberikan kesadaran bagi saya akan "harga" sebuah gambar. Dengan sebuah gambar pemandangan permintaan guru aIjabar, membuat saya tidak masalah dengan nilai aljabar, meskipun saya sungguh sangat bodoh dalam ilmu itu. Waktu itu, saya beranikan diri untuk mengirim gambar ke majalah berbahasa Jawa, Penjebar Semangat, yang terbit di Surabaya. Kemudian ketika sudah duduk di bangku SMA, saya membuat komik dengan cerita Perang Aceh di koran Suluh Indonesia, terbitan Jakarta, dan komik cerita Saijah dan Adinda di Pos Minggu, Semarang.

Hasil dari kegiatan saya itu, bisa membantu untuk membayar uang sekolah. Itu sangat bermanfaat karena memang kondisi perekonomian keluarga saya sangat pas-pasan.

Merasa Menjadi Seniman
Saat duduk di bangku SMP, saya bergabung dengan APIK (Angkatan Pelukis Indonesia Klaten), yang dipimpin oleh pelukis Sri Suharto (alm). Bersama dengan Mas Sujio, pelukis asal Klaten, saya dalam keseharian setelah pulang sekolah pergi membawa map berisi kertas buram, berjalan ke mana saja, termasuk ke pasar untuk membuat sketsa. Saat itu, dada saya membumbung, serasa sudah seperti seorang seniman. Hasil dari latihan membuat sketsa masa itu, sangat bermanfaat di kemudian hari. Saya juga rajin mengunjungi pelukis nasional asal Klaten, Pak Rustamaji (aim). Waktu itu gaya lukisan Pak Rustam banyak yang hiper-realis, yang ternyata sangat mempengaruhi lukisan saya mendatang.

Pada tahun 1960-an, dengan maraknya kegiatan LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) dengan memasang poster-poster berukuran raksasa di tengah kota untuk kampanye politik, saya merasa tertantang. Saya kemudian menyaingi mereka dengan membuat poster berukuran raksasa pula yang digunakan untuk pentas drama teman-teman teater. Saingan saya tidak langsung waktu itu adalah guru menggambar saya sendiri sewaktu SMA. Meskipun kami berada di garis yang berlawanan, tetapi antara guru dan murid, kami tetap sangat bersahabat. Nasihatnya yang selalu saya ingat dan kenang adalah "Kita harus tidak bosan menggambar kapan saja, karena semakin lama, semakin tak terasa bahwa skill tangan akan bertambah terus."
Saya merasa sudah menjadi seniman. Apalagi, ditambah persahabatan saya dengan seniman-seniman seperti Agus Vrisaba, Deddy Sutomo, Arifin C Noer muda, dan WS Rendra muda, lengkaplah sudah dada membusung dengan pongah sebagai seniman tulen. (Bersambung...)

Ancaman Flu Babi, Golput dan Album SBY 2014

Written By Admin on Wednesday, May 13, 2009 | 5:05 PM

Oleh : Bambang Haryanto

Email : humorliner (at) yahoo.com

Numerologi sembilan. Komisi Pemilihan Umum (9/5/2009) sudah mengumumkan hasil pileg 2009. Tercatat sembilan partai yang memperoleh kursi di DPR. Partai Demokrat, partainya Presiden SBY, tampil di puncak. Kemenangan partai berwarna biru ini seolah mengukuhkan perhitungan yang menjadi rumor hot di kalangan paranormal yang menekuni numerologi selama ini.
Bahwa pemilu yang dilaksanakan pada tanggal 9 April (atau bulan ke-4), diumumkan 9 Mei, akhirnya mendaulat partai dari tokoh yang lahir tanggal 9, bulan 9, tahun 1949 dalam posisi nomor 1.
Kebetulan menarik lainnya, partai urutan nomor ke sembilan adalah Partai Hanura, juga partainya pensiunan jenderal, Wiranto. Ucapan negarawan Winston Churchill (1874–1965) dari Inggris memperoleh relevansi di Indonesia saat ini. Ia yang pernah menjabat sebagai perdana menteri Inggris tahun 1940-1945 dan tahun 1951-1955 pernah berujar, “dalam perang Anda hanya dapat terbunuh satu kali. Dalam politik, bisa berkali-kali.”

Ucapan itu mungkin dapat menjadi inspirasi bagi Sutiyoso. Juga tokoh berlatar belakang militer lainnya. Bahwa bila seseorang jenderal purnawirawan ingin maju sebagai calon presiden, haruslah mendirikan partai politik terlebih dulu. Nasehat serupa juga berlaku untuk Jenderal Nagabonar.

Dr. Subharata Singh, pengamat politik dari Universitas Nasional Singapura, memiliki komentar menarik. “Batas atas dan batas bawah penguasaan kursi di parlemen didominasi oleh partai mantan militer. Ini menjadi perkembangan menarik bagi masa depan kehidupan demokrasi di Indonesia . Battle of generals kini merambah ke gedung parlemen. ”

Sementara itu kalangan industri musik berpendapat lain. “Lanskap politik Indonesia kini diwarnai para jenderal yang suka menyanyi. Jenderal SBY begitu menjabat sebagai presiden sudah menelorkan dua album. Hal serupa pasti akan segera diikuti oleh Wiranto. Industri musik kita akan lebih semarak, karena bertaburan artis-artis berbobot penuh bintang,” kata Richardo Salindehoy dari EMBB Records.

Mutasi genetik. Menjelang pengumuman KPU itu, di Yogya juga muncul bintang yang lain. Bintang politik gerakan pro-demokrasi sejak era Suharto. Sri Bintang Pamungkas. Acara pertemuan nasional yang ia gagas bersama para pendukung gerakan golongan putih (golput), dibubarkan dengan paksa oleh aparat keamanan.

Alasan fihak yang berwajib karena pertemuan itu tidak memiliki ijin polisi. Obrolan yang beredar di milis-milis politik menyatakan bahwa fihak keamanan turun tangan karena mengkuatirkan dampak samping dari gerakan Sri Bintang Pamungkas itu.

“Ia mendirikan Partai Uni Demokrasi Indonesia, pernah mencanangkan sebagai calon presiden, dan kini mengompori kembali gerakan golput di Indonesia. Sebagai negara demokrasi apa yang ia lakukan sebenarnya sah-sah saja. Tetapi kami berpikir dalam skala luas, yaitu mengkuatirkan mutasi genetika dari DNA politiknya tersebut akan menular ke sendi-sendi kehidupan lainnya. Misalnya menjadi gerakan yang bertujuan mendelegitimasi hasil pemilu. Termasuk potensi menyebarluaskan ancaman wabah flu. Kalau ia sedang flu dan berpidato ke mana-mana, apalagi di depan jutaan pendukung golput, apakah bukan berisiko mengancam kesehatan masyarakat?,” tegas seorang aparat keamanan berbintang dua yang tidak mau disebut namanya.

“Lihatlah apa yang terjadi dengan wabah flu babi dewasa ini. Beritanya jauh lebih menular daripada penyebaran penyakitnya sendiri. Kalau Anda membaca bukunya ahli pemasaran digital Seth Godin, The Unleashing IdeaVirus (2001), Anda akan tahu pilihan kami itu. Kami harus mewaspadai virus gagasan Sri Bintang dan kawan-kawan itu yang berpotensi mampu menyebar sebagaimana berita mengenai flu babi,” katanya memberikan alasan.

Proteksionisme terselubung. Begitulah, aparat berbintang dua itu tidak salah. Berita tentang Sri Bintang Pamungkas tersebut memang telah menyebar. BBC menyiarkannya. Yang kuatir berat kini justru pemerintah Meksiko. Beberapa hari yang lalu, terbetik kabar di BBC bahwa pemerintah menyatakan kesanggupan Indonesia untuk membantu Meksiko dalam mengendalikan ancaman flu babi.

Indonesia menurut duta besar Meksiko kepada Menteri Kesehatan RI, dipandang sukses mengendalikan wabah flu yang lebih ganas, yaitu flu burung. Meksiko ingin belajar dari Indonesia dan juga minta bantuan dari Indonesia. BBC mewartakan, bantuan itu bisa meliputi penyediaan masker. Tetapi tentang penyediaan masker tersebut dibantah oleh pejabat dari berwenang. Mexico pun jadi cemas.

Apalagi rumor pun kembali muncul dalam milis-milis politik. Terkait aksi pembubaran pertemuan aktivis golput di Yogyakarta semakin menimbulkan keyakinan kuat di kalangan aparat keamanan bahwa masker-masker tersebut lebih dibutuhkan oleh warga Indonesia saat ini. Demi alasan nasionalisme, demi aksi proteksionisme terselubung dan demi menjaga kestabilan ipoleksosbud dalam negeri.

“Dalam masa krisis ekonomi global dewasa ini, kita mau tak mau harus mendahulukan inward looking policy,” tutur Dr. Sumardiawan Jalingga, pengamat dari lembaga pemikir Hen, Cow & Swine Institute, Jakarta.

“Penguasa Indonesia cerdik. Dalam era pemerintahan Orde Baru yang represif selama 32 tahun, rakyat Indonesia sudah mampu terbungkam mulutnya hanya dengan pidato. Dengan mengangkat isu ekstrim kiri, ekstrim kanan, sampai isu organisasi tanpa bentuk, rakyat pun terdiam,” kembali analisis dari Dr. Subharata Singh, pengamat politik, dari Universitas Nasional, Singapura.

“Kini di era reformasi yang bebas, mereka yang vokal harus dibujuk untuk tutup mulut dengan cara yang lebih kreatif, edukatif, lateral, hieginis dan koersif. Ancaman wabah global flu babi manjur untuk tujuan politis semacam ini,” tegasnya lagi.

Di depan kamera televisi ia secara demonstratif menunjukkan sampul buku bergambar babi sebagai diktator dari novel Animal Farm-nya George Orwell yang diterbitkan pada tahun 1945. “Sama dengan tahun kemerdekaan negara Anda, bukan ?” katanya disambung senyum penuh arti.

Begitulah Indonesia . Sepertinya negara kita terancam tergelincir menjadi negara paradoks. Ketika tokoh yang berpeluang menjadi pemimpin nomor satu dan nomor dua adalah mereka yang suka membuka mulut, dengan menyanyi, rakyat yang kritis secara demonstratif justru terancam untuk menggunakan masker. Agar mereka tidak membuka mulut. Kepentingan untuk menjaga stabilitas politik dan menghindari ancaman wabah flu babi kini berkoalisi menjadi ramuan kimia pengambilan keputusan yang unik, sehingga menarik kajian para analis politik dan kekuasaan dari pelbagai negara..

Indonesia bernyanyi. Untung masih ada kabar baik. Richardo Salindehoy dari EMBB Records memberikan bocoran informasi Kalau saja nanti Presiden SBY akan terpilih kembali, tim suksesnya sudah mempersiapkan album lagu-lagu ketiganya. Album ini direncanakan diluncurkan pada tahun 2014, sebagai album kenangan untuk menandai akhir dari dua kali masa pemerintahan SBY.

Sebagai penggemar fanatik kelompok musik The Bee Gees di masa mudanya, SBY telah memilih salah satu lagu yang akan direkam dari milik kelompok Gibbs Bersaudara asal Australia itu. Judulnya : Swan Song. Memang lagu perpisahan.

Tetapi agar tidak mudah didakwa sebagai menjiplak, sebagaimana berita panas seputar lagu-lagu kelompok DeMassive dan Changcutters saat ini, lagu itu akan memperoleh intrepretasi, lirik, dan bahkan judul baru. Sayangnya, di negeri yang kaya pembajak ini, nomor lagu indah tersebut sekarang sudah beredar di luas masyarakat.

Bahkan ada kelompok musik baru The Fake Changcutters merilis parodi dari lagu itu dan ditayangkan di situs berbagi video YouTube. Salah satu bintang tamunya adalah Miss Piggy-nya Jim Henson. Kermit Si Kodok Hijau tidak nongol, konon sedang sakit flu babi. Lihatlah, judul lagu parodi tersebut sungguh aktual dengan realitas masa kini : Swine Song.

Siapa saja boleh secara gratis mengunduh video itu. Demi menghindari kejadian penularan virus flu babi yang bermutasi menjadi virus komputer, maka komputer dan penggunanya harus tetap mengenakan masker. Juga harus mengaktifkan peranti lunak anti virus yang mutakhir.

Ada sedikit warning tetapi simpatik : seluruh warga Indonesia dianjurkan bisa menyanyikan lagu itu bersama-sama. Asal, dan asal, tetap mengenakan masker yang menutupi mulut-mulut mereka.

Wonogiri, 9 Mei 2009

Tangga Langit by Zerinski

Written By Admin on Monday, May 11, 2009 | 6:23 AM

Pelawak dan Daerah Bebas Pretensi

Oleh Atin Supriyatin


SEBUAH bangsa boleh tidak punya koruptor, penjahat, debt collector, penipu dan lain-lain; tapi pelawak, harus punya. Bangsa yang tidak memiliki pelawak, akan terkena malapetaka. Demikian salah satu "gurauan" budayawan Emha Ainun Nadjib ketika menjadi pemandu "Saresehan Lawak" di Ancol, pertengahan Oktober '94 mendampingi Mensesneg Moerdiono (waktu itu), sang pembicara tunggal.

Pelawak dalam pengertian comedian menurut tradisi rasa dan pemahaman orang luar negeri (baca: barat), berbeda dengan badut, sang penggeli hati. Di Indonesia, dalam etnis Jawa, dikenal istilah punakawan atau pembantu -- biasanya berjumlah dua, tiga atau empat -- yang selain melayani tuannya; juga bertugas menghibur dengan cara berlelucon atau membuat dagelan. Tidak berhenti sampai di sini, punakawan juga mengemban fungsi penasihat, pembimbing dan kontrol sosial terhadap setiap kebijakan para tuannya (bendara).

Empat punakawan yang sangat populer adalah Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Dalam makna mistis-filosofis, para punakawan ternyata juga menyimpan energi instrinsik yang amat dahsyat. Mereka bukan saja pembantu namun juga sekaligus dewa yang turun ke bumi. Artinya, bila para tuan atau bendara yang mereka abdi mulai menyimpang dari garis-garis keutamaan seorang satria dan tak mempedulikan lagi nasihat dan piweling (peringatan) yang diisyaratkan, maka tak segan-segan lagi para punakawan berunjuk gigi.

Berbagai model unjuk gigi dilakukan. Adakalanya dengan cara tiba-tiba melakukan "desersi" atau mbalelo. Kala lain menyaru sebagai raja atau tokoh dadakan yang kontroversial. Yang intinya melakukan suatu "gerakan" untuk memberi pelajaran kepada para penentu atau pengambil keputusan kerajaan. Ending dari friksi atau situasi yang seakan mencekam ini, baik fisik maupun argumen, selalu diakhiri dengan terbukanya, siapa "biang" di balik setiap "kekacauan" itu. Pada saat itulah, para punakawan itu membuka tabir motivasinya. Bukan mau melawan atau menjadi "oposan", namun semata-mata memberi pelajaran. Mereka siap membantu dan mendukung para satria, asal para satria segera memperbaiki kelalaian yang dibuatnya. Lalu para satria dan penentu negeri meminta maaf karena telah mengabaikan asas-asas keutamakan yang pernah diisyaratkan kepada mereka. Karena faktanya, kebijakan yang diluncurkan itu membawa keruncingan-keruncingan yang bisa mengancam persatuan dan kesatuan negeri.



CONTOH di atas hanya ingin menampilkan sisi banding sekilas mengenai latar belakang budaya, tradisi, dan pemahaman rasa antara pelawak (baca: komedian) di luar negeri dan pelawak (baca: punakawan) di salah satu etnis kita; yang seakan-akan sulit dilacak di mana titik persamaannya. Namun, bila diusut soal fungsi dan peran mereka dalam beraktualisasi diri, akan ditemukan beberapa kesamaan menarik. Keduanya sama-sama mengemban kewajiban -- dalam refleksi profesi -- sebagai penghibur. Sama-sama pemantul fenomena yang terjadi di masyarakat. Sama-sama mengemban fungsi kontrol sosial. Sama-sama punya komitmen perlunya menjunjung muatan daya didik dan kobaran wabah optimisme di masyarakat.

Dalam konteks ini, pelawak, lepas dari rujukan sosio terminologinya: luar negeri atau bukan luar negeri, tetap saja menampilkan sosok yang mengemban fungsi luhur. Ia mampu menyampaikan kebenaran dengan ketawa. Mampu berdiri dalam garis bebas pretensi. Mampu menjadi jembatan antara rakyat dan penguasa; betapa posisi yang amat langka dan spesifik. Kepemilikan akses untuk bisa "berlalu-lalang" di dua wilayah yang amat istimewa.

Jadi, rasanya amat kurang bisa diterima akal kalau belakangan ini tumbuh semacam "kekhawatiran" sejumlah pelawak yang seakan sedang "goyah" kepercayaan dirinya dengan mengeluhkan, bahwa pelawak itu malang karena tidak punya pensiun di hari tuanya; tidak punya asuransi kesehatan; menjadi warga negara kelas dua; tidak punya pelindung birokrasi; dan lain-lain. Bukankah ini sangat bertolak belakang dengan fakta yang sebenarnya, bahwa saat ini pelawak sangat disukai, digemari, dan dicintai penggemarnya -- dari kalangan mana pun.

Menjadi pelawak adalah sebuah pilihan. Seperti halnya menjadi aktor/aktris, seniman, karyawan swasta, atau profesi lain yang kenyataannya belum tentu masa tuanya terjamin, belum tentu dapat pensiun. Apakah masalah -- yang menurut hemat saya -- sangat "intern" dan hanya soal keterampilan hidup ini layak diangkat sebagai tema mayor dalam isyu-isyu pertemuan dan saresehan berikutnya?

Upaya pertemuan dan saresehan -- yang melibatkan baik birokrat maupun bukan -- tetap saja penting dan sangat bermanfaat sejauh targetnya menuju pada penajaman dan peningkatan aspek instrinsik maupun ekstrinsik bidang keprofesian. Dengan demikian, upaya-upaya itu jadi relevan bagi masyarakat, baik dari kalangan birokrasi maupun bukan birokrasi. Ini bukan meragukan iktikad baik penyelenggara pertemuan maupun pihak yang menjadi pembicara, namun lebih dari itu adalah upaya mendudukkan posisi dan proporsi yang sebenarnya, bahwa pelawak adalah tetap saja salah satu agen kontemplasi. Bukan agen praktis dari kepentingan apa pun.

Ia tetap harus berdiri dengan adil. Memihak kepada garis yang sudah difitrahkan kepadanya: sebuah atmosfir yang bebas dari kepemihakan praktis. Dengan demikian fungsinya terasa optimal baik bagi penguasa maupun rakyat. Toh, dua-duanya memiliki peluang untuk benar dan khilaf (termasuk pelawaknya sendiri). Tak lucu lagi kalau pelawak harus "memohon-mohon" proteksi birokrasi atau "menebak-nebak" posisinya ditempatkan sebagai warga kelas dua oleh masyarakat.

Semangat independensi pelawak dan upaya membangun rasa percaya diri yang sewajarnya adalah satu-satunya harta berharga untuk bisa tetap survive dalam meniti tangga profesionalisasi karier. Seperti halnya seniman yang lain, pelawak akan membuat kursi, kerajaan, dinasti atau "konglomerasi" sekalipun semata-mata atas upayanya sendiri. Bukan jatuh dari langit, bukan anugerah sebuah SK. Bing Slamet, Johny Gudel, Gepeng, Bagyo, dan lain-lain nama yang tak dapat disebutkan satu persatu adalah barisan sejarah pelawak yang inspiratif untuk dikaji dan direnungkan tahap-tahap perjalanan kariernya.

Atin Supriyatin, pengamat sosial budaya, tinggal di Jakarta.

The Sinking by Thomdean

Written By Admin on Tuesday, April 28, 2009 | 5:16 AM

Wahai Instan Permata

Oleh Darminto M Sudarmo

Mie instan, minuman instan, gelar instan dan banyak hal instan lain yang berlalu-lalang di sekitar kita, terasa tidak aneh lagi. Sebagian masyarakat bahkan menyikapi gejala itu dengan santai dan masa bodoh. Memang ada instan yang secara temporer dapat menjawab kebutuhan-kebutuhan mendadak kita; namun sebagian lain, kecenderungan instan justru makin menandai semakin merosotnya komitmen kita pada kualitas dan proses. Akan menjadi seperti apa bangsa kita ke depan bila kredo serba mau cepat dan tidak sabaran itu makin menjadi-jadi?

Jawabannya, mari kita lihat bersama-sama!

Dalam beberapa dekade yang lalu masyarakat banyak dikejutkan oleh peristiwa-peristiwa mengagetkan. Dari kasus mie instan yang beracun, penutupan tiga media massa cetak, debt collector yang menggila, ekspor fiktif, kenaikan tarif listrik, sampai gugat-menggugat perkara seputar sosok seorang pahlawan. Media massa ramai. Masyarakat pun, di tempat-tempat yang representatif: restoran, café kedai kopi, pub, kantin, dan lain-lain tak bosan-bosan menggosipkannya.

Salah satu fenomena yang menarik dari kecenderungan ini adalah tampilnya informasi sebagai power yang dapat menggiring tingkah laku dan kebiasaan masyarakat di komunitas tertentu. Lebih-lebih masyarakat metropolitan, yang secara esensial tak dapat "hidup" tanpa aktualisasi informasi.

Masalah satu belum tuntas, masalah-masalah berikutnya sudah timpa-menimpa. Head-line suratkabar, laporan utama majalah berita, silih berganti berteriak saling berebut pembaca. Demikian, terus-menerus, sampai akhirnya secara pelan tapi pasti, sementara masyarakat yang jeli, perlu menempatkan skala prioritas dalam menghadapi sergapan-sergapan informasi itu. Bagian-bagian informasi mana yang dianggap relevan dan perlu diakses. Informasi-informasi mana yang perlu ditempatkan dalam prioritas pelengkap.

Uniknya, dalam bioritme masyarakat informasi yang nyaris sudah terpola itu, ternyata juga dikagetkan oleh "dadakan-dadakan" lain yang tak kalah hebohnya. Yakni, lewat munculnya ledakan popularitas sejumlah "figur" instan yang tiba-tiba juga "berteriak" merampok perhatian masyarakat. Dunia kriminalitas, dikejutkan oleh munculnya kekerasan dan kekejaman yang kadang sampai membuat ngilu rasa sosial masyarakat karena si pelaku adalah orang yang sebelumnya tak pernah punya indikasi atau reputasi di bidang itu. Dunia perbankan dihebohkan oleh kasus kredit macet, yang buntutnya belum tuntas hingga kini. Dunia usaha, dunia kesenian, dunia selibritis, bahkan hingga kemunculan sejumlah "pakar" baru yang begitu mendadak di berbagai bidang dan sesudah itu lalu "lenyap" tak tentu rimbanya, praktis membuat masyarakat jadi cingak dan bingung meletakkan sikap dan tingkah lakunya.


Fenomena di atas adalah fenomena instan. Kecenderungannya serba sekejap dan kurang menggugah kesan mendalam. Makin beragamlah warna tradisi metropolitan. Tak beda dengan kesibukan lalu-lintas yang melintas laju maupun lambat dalam mekanisme keseharian, namun tidak membekaskan kesan berarti bagi warga sekitarnya. Kesan dan perhatian warga baru muncul ketika mekanisme itu tiba-tiba koyak karena adanya tabrakan kendaraan atau distorsi-distorsi temporer lainnya.

Apa sesungguhnya yang tengah terjadi di negeri ini, khususnya di kota metropolitan ini? Setiap hari ribuan orang dalam unit-unit kendaraan bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Pagi, siang, sore, bahkan malam. Semua bergerak dalam mobilitas sebagai manusia ibukota yang selama ini dikenal dinamis dan berdaya hidup tinggi. Apa yang dicarai dan didapatkannya? Mungkin tak penting benar untuk dipertanyakan atau dicari jawabannya. Tradisi ini adalah buah dari kesepakatan, bahkan kebutuhan komunitas masyarakat setempat.

Kalau di kemudian hari masyarakat menyadari, bahwa mereka telah menjadi "objek" dari permainan informasi, permainan image hasil rekayasa doktrin bisnis atau politis, apa itu perlu benar dipersoalkan. Berondong-bondong ke toko serba ada dan memborong barang sebanyak-banyaknya -- direncanakan atau tidak; dibutuhkan atau tidak -- toh mereka bisa menikmatinya. Semangat super konsumtif terhadap segala macam barang -- dari parfum sampai apartemen -- toh mereka senang, bisa menikmati, mampu dan apa salahnya menggunakan hak sebagai seorang warga negara yang dilindungi undang-undang.

Di banyak jalan, mobil-mobil pribadi yang memuat hanya satu atau dua orang dan masih baru, berderet-deret rela macet. Rela terhambat perjalannya. Toh meskipun macet, mobil ber-AC, jadi apa persoalannya? Apa urusannya dengan anjuran naik kendaraan umum di hari efektif kerja dan berkendaraan pribadi di hari libur? Pemilik mobil tak selamanya karena memiliki banyak uang. Ada yang harus menempuh lewat kredit, lalu mengangsur tiap bulan dengan konsekuensi mulut anak-istri-suami di keluarga harus betul-betul "puasa". Apakah kendaraan umum mampu menjamin keamanan dan gengsi? Sementara "tradisi" yang terlanjur hidup di metropolitan, hanya memandang dengan sebelah mata orang-orang yang penampilan fisik dan sarana mobilitasnya berada di kelas unprofitable

Ini mungkin gila Namun pelan tapi pasti, fenomena-fenomena itu kian mengkristal. Menambah kompleks dan tegangnya nilai-nilai sosial yang berlaku di masyarakat metropolitan, meskipun di sejumlah komunitas etnis tertentu, masih kuat memegang nilai-nilai sosial "lama" yang nyaman dan murah hati.
Andaikata harus dipertanyakan, kecenderungan nilai "baru" yang biasanya bergegas dan serba sekejap itu kian melebar dan mencengkeram tatanan-tatanan "lama", bagaimana masa depan nilai moral sosial dan budaya kota ini? Bagaimana kalau ditiru oleh kota-kota lain, bahkan diidolakan sebagai "proyek percontohan" yang mengundang pesona dan kharisma? Kita tunggu saja, apa yang akan terjadi lagi di ibukota tercinta ini.

Partai-partai instan, politisi-politisi instan, caleg-caleg instan, capres-cawapres instan, makin menambah riuhnya suhu udara yang sudah sangat pengap ini. Ketambahan lagi oleh harapan-harapan instan mereka yang setinggi langit, segede gunung, seluas samodra; lalu kenyataan sebaliknya pun datang mendadak secara instan. Sepertinya kita lagi berada di tahap mencari-cari jati diri, kendati ujung dari semua ujung itu tak lebih tak kurang hanya: mencari penghasilan. Tak peduli penghasilan itu berupa duit atau puji sanjung dan tepukan tangan.
Karena capek, maka mendadak saya tak dapat mengetik lagi. Ini namanya buntu instan!

More About Amir Taqi's World

Written By Admin on Sunday, March 22, 2009 | 8:34 AM









Amir Taqi
Amir Mohammed Taqi Ajam
Date of Birth 28th January 1973
Nationality: Iraq
EDUCATION
Bachelor Degree of Fine Arts � Drawing Faculty - Academy of Fine Arts �
Babylon, Iraq. 1991 - 1995
Training in comic drawing, illustration,
Inking � Disney Academia �
Milan, Italy 2002
FIELDS OF ACTIVITY
Painting, illustrator, cartoonist, caricaturist
Character Design

CAREER HISTORY
Experience:
Freelance Artist
Comics drawing for children's magazines. Portrait drawing for several publications (Newspapers & magazines).
Character Designer and Cartoonist
Disney � Jawa Enterprises � Dubai, UAE Oct 2002 � Jan2005
covers for Magazines and comic
Princess Magazine
Aladdin Magazine
SOFTWARE EXPERIENCE
Corel Painter
Adobe Photoshop
Adobe Illustrator
Adobe In design
Macromedia Flash

Amir Taqi and Doddy Iswahyudi

Written By Admin on Sunday, March 8, 2009 | 4:21 PM



Keunggulan seorang kartunis dapat ditentukan karena beberapa hal; di antaranya karena ide-idenya yang dahsyat dan menyengat. Dapat pula karena kemampuan teknik drawing-nya yang luar biasa dan bercitarasa khas. Luar biasa dalam arti, mencapai stilisasi yang utuh dan tuntas.

Sekadar contoh, dua orang kartunis dengan karyanya masing-masing, yaitu Amir Taqi dari Irak, yang menggambar wajah Steven Spielberg dan Doddy Iswahyudi dari Indonesia dengan gambar mobil, yang dalam kasus ini memiliki daya tarik tersendiri karena teknis pengolahan gambarnya sangat memikat; dua kartun tersebut dapat menjadi bagian dari model; bahwa dalam bekerja seorang kartunis juga punya tanggung jawab mengantarkan visual hingga titik tinta paling akhir. (Odios)

Tsunami dan Peniup Seruling by Zerinski, Ukraina

Written By Admin on Sunday, March 1, 2009 | 2:30 AM




Amir Taqi's Works

Amir Taqi's Works

Popular Posts

Related Blog or Site

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kostum - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger | Distributed by Rocking Templates