Headlines News :

The Winners Are......???!!!

The Winners Are......???!!!
Caricatures by Amir Taqi, Irak

Latest Post

Humor Kontekstual – Universal, Sebuah Gurauan

Written By Admin on Friday, December 30, 2011 | 2:30 AM


Darminto M Sudarmo


HUMOR, dalam beberapa kasus, tak beda dengan karya sastra. Ia juga dikisruhkan oleh tema dan topik. Ada tema atau topik yang demikian tipikalnya sehingga hanya sekelompok orang tertentu saja yang dapat memahami persoalannya. Makin gawat lagi bila persoalan yang diangkat menyangkut masalah symbol atau local contents yang makin menyempit, maka ruang pemahaman terhadap konteks itu hanya dapat dipahami orang-orang tertentu pula. Namun dengan adanya penyebaran informasi yang amat luas, adakalanya humor-humor bermuatan lokal juga dapat diakses dan dipahami oleh orang-orang di luar konteks budaya tersebut.
Orang Jawa yang melepas selop saat masuk lift atau telepon umum, orang Sunda yang lebih fasih mengucapkan huruf p ketimbang f, maupun orang Bali dan Aceh yang mengucapkan huruf t dengan tekanan khusus, adalah hal-hal yang sudah menjadi pemahaman dan permakluman bersama. Sebagaimana gurauan Dr. George Aditjondro, t di Bali diartikan turis dan t di Aceh diartikan teroris, maka orang bisa saja memberi tambahan: di Tabanan dan Buleleng t juga diartikan tawuran!
Agar penyelaman ke dalam makna kontekstual-universal yang makin silang lilit ini tak nyasar ke mana-mana, tak ada salahnya kita menyimak tiga contoh humor di bawah ini, diambil dari buku GAM (Geerr Aceh Merdeka), hal. 81, 105, dan 109, terbitan Garba Budaya Sahabat Aceh, setidaknya untuk kajian perbandingan.

Kita mulai dengan humor yang berjudul Terimakasih untuk Tentara. Ada seorang petani dari Kabupaten Pidie, menulis surat ke anaknya di penjara Nusakambangan karena dituduh terlibat GAM; bunyinya: “Hasan, bapakmu ini sudah tua, sekarang sedang musim tanam jagung, dan kamu di penjara pula, siapa yang mau bantu bapak mencangkul kebun jagung ini?” Anaknya membalas beberapa minggu kemudian, “Demi Allah, jangan cangkul itu kebun, saya tanam senjata di sana.” Besoknya, setelah si bapak terima surat, datang satu peleton tentara dari Banda Aceh; tanpa banyak bicara, mereka segera ke kebun jagung dan sibuk seharian mencangkul tanah di kebun tersebut. Setelah mereka pergi, kembali si bapak tulis surat kepada anaknya, “Hasan, setelah bapak terima suratmu, datang satu peleton tentara mencari senjata di kebun jagung kita tanpa hasil, apa yang harus bapak lakukan sekarang?” Si anak kembali balas surat tersebut, “Sekarang bapak mulai tanam jagung saja, kan sudah dicangkul sama tentara, dan jangan lupa mengucapkan terimakasih pada mereka.”
Wartawan. Suatu hari, satu regu prajurit TNI menyeberangi sungai Krueng Aceh, yang membelah Banda Aceh. Di tengah sungai, buaya-buaya yang ganas menelan bulat-bulat prajurit tersebut. Apa boleh buat, senjata M –16 tidak mampu menghadapi buaya itu. Esoknya, dikirim satu kompi polisi . Nasib sama terulang lagi. Semua gugur di mulut buaya. Senjata SS – 1 tak berdaya menghadapi serangan membabi buta dari gerombolan buaya. Hari ketiga, giliran angkatan GAM yang diterjunkan ke sana. Lagi-lagi mereka pun mengalami nasib yang tragis. AKA – 47 milik GAM menjadi loyo melawan barisan buya krueng (buaya sungai). Hari keempat datang konvoi lain. Kali ini para buaya jadi keheranan. Konvoi ini tidak menyandang satu senjata pun. Yang tergantung hanya secuil kertas bertuliskan: Pers. Buaya pikir ini lebih mudah lagi untuk memakannya. Namun tiba-tiba komandan buaya berteriak, “Stop! Itu rombongan wartawan. Jangan diganggu. Mereka lebih buaya daripada kita!”
Intel Inside. Suatu ketika, militer menyerahkan seperangkat komputer kepada para pemuda di salah satu desa di Aceh. Namun apa lacur, mereka membuang komputer tersebut ke laut. Pasalnya, di komputer tersebut tertulis kalimat, “Intel Inside”.
Humor berjudul Terimakasih untuk Tentara dapat dijadikan model humor tipikal Aceh, sangat konteks dengan semangat Aceh; bahkan oleh orang Aceh sendiri itu diakui sebagai tipu ala Aceh. Kendatipun persoalannya sangat khas dan hanya ada di Aceh, namun pembaca dari latar belakang budaya manapun tentu dapat memahami humor tersebut, apalagi bila referensinya juga ditunjang oleh berita-berita di media massa cetak dan elektronik. Sementara itu, humor berjudul Wartawan dan Intel Inside, dapat saja dimodifikasi untuk dilekatkan pada humor dengan tema lain; misalnya: Humor Papua, Maluku atau Poso. Tidak ada yang spesifik di sana; kecuali wilayah konflik dan adanya pendudukan militer.
Lalu humor-humor universal, seberapa universalnya? Mungkinkah ia tak terkait dengan masalah konteks atau ikon lokal yang sangat tipikal dan tak terdapat di tempat lain? Pertanyaan ini pun mengundang jawaban yang kisruh. Dalam usia peradaban umat manusia yang sudah demikian tinggi mungkinkah kebudayaan suatu bangsa tidak mempengaruhi kebudayaan bangsa lain? Contoh-contoh lelucon yang diambil dari buku Humor SMS, Guyon Demokrasi dan Guyon SexGar, terbitan Kombat Publishers berikut dapat menambah ramainya persepsi yang berkembang dan simpang siur itu.

Humor SMS
Sebagaimana lazimnya SMS (Short Message Service), maka bahasa yang digunakan pun singkat, padat, lugas dan bergegas. Kita mulai dari humor yang berjudul Pemabuk. Di mana rumahmu! Bentak polisi pada seorang pemabuk. “Itu!” sambil menunjuk rumah mewah, polisi tercengang, lalu sebuah mobil mewah masuk. “Itu mobil saya,” polisi tambah kagum. Seorang wanita cantik turun dari pintu kiri. “Itu istri saya.” Kemudian disusul laki-laki turun dari pintu kanan mobil itu juga. “Nha ..kalau itu saya, Pak.” Langsung pemabuk itu digiring ke kantor polisi.
Istri Setia. Istri saya setia, waktu saya masuk penjara dia hamil 6 bulan, begitu setahun saya keluar dia tetap hamil 6 bulan.
Dokter Gigi. Jangan mau punya suami dokter gigi dan pegawai telkom, soalnya kalo dokter gigi, goyang dikit saja, langsung dicabut, sedangkan pegawai telkom maunya cepat selesai, takut pulsanya tinggi.
Phone a Friend. Setelah nonton “Who Wants to Be a Millioner” suami ngajak making love istri tapi ditolak.”Oke,“ kata suami, “Saya gunakan fasilitas phone a friend.”
Alkohol. Hai orang-orang budiman, janganlah kau minum minuman beralkohol, karena alkohol itu minuman setan, kalau kau tetap minum terus, lha nanti setan minum apa.

Guyon Demokrasi
Beda dengan humor-humor SMS, humor-humor demokrasi agak menuntut pemikiran dan wawasan yang lebih. Paling tidak, pembacanya adalah orang-orang yang punya perhatian pada masalah sosial politik. Rajin mengikuti berita di koran/majalah atau televisi. Dengan kata lain, pembaca atau penikmat yang klop untuk humor-humor jenis ini adalah kalangan educated people dan up to date. Kita mulai dari humor yang berjudul Memutarbalikkan Fakta. Sambil marah-marah, seorang pengurus partai memasuki kantor redaksi sebuah suratkabar yang telah memuat beritanya pagi itu. "Kalian dengan sengaja telah memutarbalikkan apa yang saya katakan semalam! Koran kalian telah memuat kebohongan!" "Sabar, Pak! Anda tidak bisa marah-marah begini. Apa kata dunia nanti bila kami memuat sesuatu yang benar tentang Anda?!"
Uji Kasus Soal Pilihan. Seorang politikus dari Partai Republik dengan rajin mendatangi setiap rumah untuk memastikan memilih partainya. "Tidak," kata seorang laki-laki yang dikunjunginya, "ayah saya seorang demokrat, begitu juga kakek saya. Saya tidak akan memilih partai selain Demokrat." "Itu bukan alasan yang tepat," sahut si orang Partai Republik, "apakah kalau ayah Anda dan kakek Anda pencuri kuda, akan
membuat Anda jadi pencuri kuda juga?" "Tidak," jawab si Demokrat, "dalam kasus seperti itu, saya kira, saya akan menjadi pengikut Partai Republik!"
Politik Uang Salah Alamat. "Orang-orang asing ini sudah pasti tidak boleh ikut memilih, Pak," kata seorang penduduk melapor kepada anggota pimpinan partai. "Itulah yang membuatku bingung. Sepertinya, separuh dari mereka adalah orang-orang yang kuberi uang kemarin. Tapi yang mana, ya, aku tak ingat lagi."
Peramal dan Politikus. Seorang politikus muda berjalan-jalan di sebuah taman. Ketika dia melalui seorang peramal, dia berhenti. Si peramal langsung saja berceloteh. "Tuan, Tuan sudah menikah, bukan?" "Betul." "Anak Tuan dua, bukan? Laki-laki semuanya?" "Ya, betul." "Tuan pengikut Partai Republik?" "Nah, Anda sudah berbuat kekeliruan dalam ramalan Anda! Itu masih tergantung! Peramal lain mengatakan saya akan dapat suara lebih banyak bila di Partai Demokrat!"

Guyon SexGar
Berbeda dengan humor seks lain yang cenderung vulgar dan mengeksploitasi seks dalam pengertian sebanal-banalnya, humor-humor seks yang dicontohkan dalam kasus ini, sama sekali jauh dari motif itu. Yang ada adalah sport logika seputar seks atau para pelaku dalam bingkai humor dan tetap elegan.
Kita mulai dari humor yang berjudul Ranjang Kembar. John bercerita pada teman sekantornya. "Kehidupan seks kami semakin membaik sejak kami, saya dan istri, punya ranjang kembar." "Bagaimana kejadiannya?" "Kami mendapatkannya di rumah yang berbeda."
Cuma Seorang Suami. Broto menatap wajah pacar gelapnya yang sangat ia cintai.
"Saya sakit hati. Kemarin saya melihatmu berjalan dengan laki-laki lain." "Nggak usah cengeng, deh. Itu kan cuma suamiku. Percayalah, nggak ada laki-laki lain selain kamu."
Dua Lima Ribu Siap Apa Saja. Pria yang memakai mobil merah itu berhenti di pinggir jalan, ketika seorang bencong yang mengenakan pakaian ketat dan rias yang medok melambai-lambaikan tangannya. Bencong itu berbisik, menggoda, "Untuk dua puluh lima ribu rupiah, saya akan melakukan apa saja yang kamu minta." "Tolong catkan rumahku," kata laki-laki itu sambil memberikan uang.
Tiga Kata yang Menyebalkan. "Tiga kata apakah yang tidak ingin Anda dengarkan ketika sedang bercinta?" "Sayang, saya pulang!"
Bagaimana Bisa Mengganggu? Begitu mendengar pacarnya dirawat di rumah sakit, bergegaslah Joni ke sana dan bertanya pada dokter. "Sebaiknya jangan diganggu dulu, ia masih sangat lelah," sahut dokter, serius. "Bagaimana aku akan mengganggunya di tempat umum macam begini, Dok. Di rumah pun kami biasa mencari kesempatan baik, setelah orang tuanya tidur," ujar Joni dengan nada sinis.
Dari contoh-contoh humor di atas, akhirnya terbukti bahwa polarisasi antara kontekstual -universal sepertinya akan sampai pada tahap gurauan belaka. Transformasi di bidang komunikasi telah menjembatani berbagai kemustahilan dan kemuskilan. Setidaknya itu yang tampak pada contoh-contoh humor yang ada dalam artikel ini. Oleh karena itu, salah satu contoh humor paling kontekstual mungkin dapat digambarkan di bawah ini.
Tersebutlah sebuah komunitas yang beranggotakan tujuh orang peminat humor atau joke. Mereka punya jadwal yang sangat ketat untuk nge-joke setiap minggunya. Sehingga untuk joke-joke yang tergolong lucu dan kuat mereka sepakat memberi nomor. Misalnya joke nomor 1 tentang mincing, nomor 2 tentang pemabuk dan seterusnya. Hingga pada suatu ketika mereka berpisah karena tugas. Bertahun-tahun ketujuh orang ini tak pernah bertemu, sehingga mereka berencana mengadakan reuni. Ketika reuni tiba, masing-masing mendapat giliran untuk memberi sambutan (maksudnya: nge-joke). Dengan enteng Si A, maju dan berkata: Joke nomor 3! Dan enam orang lain langsung merespon dengan ketawa terbahak-bahak. Bagaimana dengan anak-anak dan istri-istri mereka? Hanya bengong tak mengerti, karena joke yang dibawakan Si A memang sangat kontekstual!


Malaysia Free Backlink Services

Peta Humor di Indonesia

Written By Admin on Tuesday, December 27, 2011 | 11:55 PM



Semangat berhumor sohib2 di berbagai wilayah di Indonesia; khusunya di Kompasiana sungguh mengharukan. Agar perjalanan teman2 makin lancar, sedikit saya coba bikinkan peta, bener lho asli, siang hingga sore tadi saya coba menyusun Peta Humor ini. Saya coba bikin sesederhana mungkin, agar mudah dipahami; tapi kalau masih ada yang bingung, sungguh itu kesalahan saya. Mohon dimaafkan.
Humor itu apa sih? Jujur aja, secara tradisi kita hanya mengenal humor sebagai lelucon. Lalu lucu itu apa? Pak Teguh (Srimulat) bilang, lucu itu aneh; Arwah Setiawan (nenek moyang peneliti humor Indonesia) bilang begini begitu; Freud bilang begini begitu; Arthur Koestler (penulis buku babon /mainstream tentang kajian humor berjudul “The Act of Creation” yang paling lengkap dan awal) juga bilang humor itu begini begitu.Pada titik keputusasaan orang mencari jawab tentang humor (karena demikian rumit dan supercomplicated), akhirnya mereka dengan skeptis bilang, ya sudah, biar aja, setiap orang boleh-boleh saja mau nyebut humor itu begini atau  begitu. Sehingga, anda pun, kalau punya argumen yang jelas dan mampu mempertanggungjawabkan kepada publik, boleh saja anda ciptakan teori tentang humor, menurut versi anda.
Kenyataannya setelah Arthur Koestler meninggal, ramai orang menulis teori tentang humor (di barat sana, di sini mah kagak), dan seperti kata teman Aussie saya (Rolf Heimann) yang memang udah menyantap hampir seluruh buku teori tentang humor akhirnya cuma bisa bilang, “Heran deh, buku judulnya aneh dan bagus-bagus setelah dibaca kok isinya yang satu ngutip yang lain, yang lain ngutip yang satu…jadi ya begitulah….”
Tapi tak apa, toh pada situasi kontemporer  ini, pengembangan yang terjadi ternyata juga menghasilkan derivasi-derivasi (cabang ranting) baru di seni humor itu sendiri. Dan peta yang saya sodorkan ini sekadar menyegarkan ingatan anda saja agar ada gambaran, bahwa makhluk yang bernama humor itu ternyata begitu toh….
Alkisah, di zaman baheula, ketika pola pikir masyarakat masih didominasi cara berpikir mitis (berdasarkan mitologi), dunia pertunjukan kesenian (mungkin juga kehidupan sehari-hari) dibagi menjadi 2 (dua) saja. Pertama tragedi; yang kedua, komedi. Gampangnya ngomong, tragedi urusannya sama yang nangis-nangis dan bersedih-sedih; komedi urusannya sama yang senyum-tawa dan bergembira ria. Di zaman itu pula, para ilmuwan kala itu juga menemukan kesimpulan bahwa orang yang kecenderungannya suka ketawa dan gembira, ternyata di dalam tubuhnya diketahui dominan cairan merah (cairan ini namanya humor); sedangkan yang penyedih, dominan cairan warna hitam, disebut melankolia — tentang cairan ini menurut mereka ada yang lain juga: kuning dan putih. Lha apa urusannya dengan cairan warna merah yang waktu itu disebut humor itu?
Inilah yang bikin kaget orang sekarang. Humor yang semula berarti cairan itu ternyata sekarang diartikan lelucon; nah, ajaib, kan? Karena ajaib itu maka  Jaya Suprana, salah seorang humorolog kita, membuat tesis berjudul “Metamorfosa Makna Humor dari Cairan Menjadi Lelucon” (ini kalau tidak salah ingat, soalnya hapalan di dalam kepala, kalau di luar kepala itu mah namanya  nyontek catatan atuh, he he he!).
Humor sebagai energi budaya yang merupakan Induk dari Seni Humor itu ternyata beranak-pinak dan bercucu-cicit segala. Upaya saya membuat Peta Humor di bawah ini adalah mencoba memberi gambaran umum duduk-berdirinya perkara tentang  hubungan dan silsilah “Nenek Moyang” Humor berikut keturunannya. Moga bermanfaat; seperti kata pepatah, tak ada gedung yang tak retak, tak semua warung jual martabak, sudilah anda berbagi pengetahuan agar yang tersesat bisa mendapatkan pencerahan.


Catatan:
Di Indonesia, berbagai peran yang terlihat di relasi humor di atas
lazim juga dilakukan oleh satu orang; misal si X selain kreator
juga pemain dan eksekutor. Ini berbeda dengan tradisi kerja tim
di barat sana yang tiap individu menuju ke spesialis.

Konsep Awal Naskah Duet Dalang Kondang

Written By Admin on Saturday, November 19, 2011 | 4:47 PM


Durasi .............60 menit
Naskah............ Darminto M Sudarmo
Judul.................Duet Dalang Kondang Ki Manteb n Kang Asep
Setting..............(Blocking View Duet Dalang Kondang)
Broadcast........TPI th 2006(Sekarang: MNC TV)



Pemain:
1.      Jojon (seperti Mak Lampir)                                        Nyai Wewe Gombel
2.      Kang Ibing      ……………………………………       Mbah Dukun
3.      Misye Arsita …………………………………………  Pengamen
4.      Gogon ……………………………………….              Penganggur
5.      Asep ………………………………………………      Perantau asal Bandung
6.      Manteb ……………………………………………      Perantau asal Solo
7.      Parto ………………………………………………     Calo Mbah Dukun
8.      Malih & Kirun..........................................................    Kaum Terpelajar
9.      Bintang Tamu Wanita (Cantik) ……………………   Asisten Dukun
10.   Figuran Wanita Penari (6 org) ……………………    Penghibur Suasana

11.   Properties: (Boneka Bayi polos) dan perlengkapan efek2-nya: asap, petasan, suara tangis bayi, dll).
12.   Busana: Tradisional nakal dan metal.

Musik Pengiring:
Pengrawit Gamelan Jawa & Sunda

(Akan makin asyik kalo bisa diarransemen rada nakal dan dikolaborasi dengan unsur-unsur modern).


Adegan 1
Tampak para Penari wanita (6 orang ) membawakan tarian tradisional metal, diiringi lagu-lagu dan Gending Jawa/Sunda.

Adegan 2
Setelah tarian dan nyanyian berlangsung kira-kira 1,5 menit, tiba-tiba muncul sosok bayangan besar dan menyeramkan dari arah belakang. Sosok itu adalah Nyai Wewe Gombel Jojon yang datang sambil menggendong bayi telanjang dan salah satu tangannya memegang rokok siong dengan asap yang mengepul. Suara tawanya tidak menyeramkan, tapi terdengar lucu.

Para penari wanita kaget sekali, lalu satu persatu mundur. Nyai Wewe Gombel Jojon sebenarnya tertarik pada tarian dan nyanyian itu dan mau ikut nimbrung, tapi karena para penari keburu ketakutan, ia jadi bengong, tak mengerti mengapa para penari bubar. “Hi-hi-hi, padahal kita sama-sama cewek, lho!” kata Nyai Jojon.

Lalu ia mencoba menari sendiri; tentu dengan tarian lucu dan gamelan pengiring yang kadang menggoda dan menyesatkan gerakan Nnyai Jojon. Karena kesal dipermainkan para penabuh gamelan, Nyai Jojon lalu berhenti; apalagi bayi yang di gendongannya tiba-tiba menangis meraung-raung minta mimik.

Sebelum memberi mimik, Nyai Jojon menyedot rokok siongnya dulu; asap ditelan, lalu si bayi diberi ASI. Bayi itu tidak menangis lagi. Beberapa saat kemudian, bayi itu selesai, dan wajahnya mengarah kamera, dari mulut bayi itu keluar asap rokok: mengepul. Nyai Jojon kaget.

Asap habis, bayi itu merengek lagi. Nyai Jojon memberi mimik lagi. Selesai nyedot,  tak lama kemudian dari dubur Bayi itu keluar asap rokok. Nyai Jojon makin kaget!

Asap habis, bayi itu merengek lagi. Nyai Jojon memberi mimik lagi. Usai nyedot, dari dubur bayi keluar petasan cabe yang meletus beberapa kali. Nyai Jojon makin kaget sampai melompat-lompat!
“Dasar anak setan, lo! Untung masih kecil, kalo gede, be-ol kamu kayak gunung meletus!”


Adegan 3
Mbah Dukun (Kang Ibing) muncul dan menatap Nyai Jojon sejenak lalu menggeleng-gelengkan kepala. “He-he-he! Dengar Nyai, sebagai makhluk halus, kamu harus tidak kelihatan. Jangan sering melakukan penampakan, ketahuan orang TV, jadi program kamu! Sana, masuk ke tempat biasa. Jangan muncul kalo nggak dipanggil, ya?!!!”

“Hi-hi-hi, baik, Bos!” Nyai Jojon out frame.

Dukun (Kang Ibing) lalu monolog, bercerita riwayatnya dulu yang pernah merantau dari kampung ke kota, ternyata nasibnya justru tambah terlunta-lunta. Ia kemudian melakukan Tirakat, puasa 40 hari ditambah sehari semalam melakukan puasa Pati Geni, tidak makan tidak minum, tidak tidur.

Akhirnya ia ketemu Seorang Mbah yang misterius dan memberinya segelas air putih. Setelah air segelas itu dia minum, Mbah tadi langsung gaib, hilang. Dan tiba-tiba ia merasakan diikuti oleh sebuah bayangan yang menyeramkan. Ternyata bayangan itu adalah Nyai Wewe Gombel Jojon yang mengaku telah menjadi hambanya dan siap membantu apa saja bila Kang Ibing mau berprofesi sebagai seorang Dukun.

“Apa saja? Gile Bener!” Dukun (Kang Ibing) inget kata-kata itu. Dan ia ngetes Nyai Jojon berkali-kali ternyata memang terbukti. Sejak itu, ia lalu mendeklarasikan diri sebagai Dukun Sakti Mandraguna.

(Pada bagian di atas  ini, bila bisa diselingi dengan insert: fragmen Kang Ibing (layar lebar, jika ada) waktu merantau dan ketemu Mbah Misterius maupun Nyai Jojon, mungkin tambah seru).


Adegan 4
Muncul Parto, Si Calo Dukun. Ia melaporkan kepada Dukun (Kang Ibing) kalo dirinya sudah dapat empat pasien. Satu pasien seorang wanita pengamen yang ingin jadi pesinden top dan kedua, seorang pria sudrun, pengangguran, yang ingin jadi dalang top; ketiga, seorang pria bernama Asep, perantau asal Bandung pingin jadi pelawak terkenal; dan keempat, laki-laki, perantau asal Solo pingin jadi Pelawak Solo atau Pelawak Tunggal.

Parto pesan supaya Mbah Dukun menyiapkan diri karena sebentar lagi kedua pasien itu akan sowan ke sanggar Mbah Dukun. Dukun (Kang Ibing) lalu buru-buru out frame dan bersiap-siap dengan seragam kebesarannya. Sementara itu Parto mengeluarkan kalkulator dari saku lalu tampak  sibuk menghitung komisi yang bakal diterimanya.


Adegan 5
Muncul Misye Arsita dan Gogon. Misye mengagetkan Parto yang lagi sibuk menghitung keuntungan yang bertebaran di udara. Misye dan Gogon lalu mendesak soal janji Parto mau mempertemukan dengan Dukun Sakti.

Menurut Parto, ketemu orang sakti itu ada aturannya. “Lihat matahari. Setelah dia agak condong ke barat, baru boleh nemuin Mbah Dukun (Kang Ibing).”

Parto lalu Tanya ke Misye maupun Gogon, bagaimana manusia-manusia culun macam mereka berani punya nyali mau jadi pesinden dan dalang top? Misye Arsita lalu pamer soal bakatnya yang luar biasa. Gogon juga, bahkan ia memperagakan kemahirannya mendalang.

Tapi semua yang ditunjukkan ke Parto itu gombal, tidak mutu. “Tunggu saatnya, nanti setelah disentuh oleh mantra sakti Mbah Dukun, kalian pasti tak percaya pada kehebatan yang akan kalian miliki!” kata Parto.

Misye dan Gogon sangat gembira, sehingga hampir saja mereka berpelukan kayak baru aja lolos audisi.


Adegan 6
Muncul Asep dan Manteb. Dengan bahasa Sunda yang medok, Asep mengingatkan Parto bahwa mereka berdua (dan Manteb) juga pingin ketemu Dukun Sakti itu.

Parto pura-pura menggertak, “Emang kalian bisa apa? Mau jadi pelawak top? Emang ngelawak gampang? Ikut API dulu, masuk seleksi audisi dulu, bisa masuk kagak?”

“Tapi Mas Parto,” sahut Manteb, “katanya Dukun Sakti itu bisa menyulap kita jadi pelawak top dalam waktu singkat, makanya kita tertarik banget. Lihat nih! Duit hasil mbobok celengan kerja setahun, nih, cukup, kan buat ongkos?”

Parto blingsatan begitu melihat kemilau duit; ia lalu minta Asep dan Manteb bergantian memperagakan keterampuilan mereka melawak.

Melihat penampilan dua orang udik itu, baik Parto, Misye maupun Gogon tertawa terpingkal-pingkal. Bukan karena lawakannya lucu tapi karena keluguan dan kepolosan  mereka yang bikin penonton ngetawain.

“Sudahlah! Kalian berdua masuk waiting list! Antre kloter berikutnya setelah dua orang cowok dan cewek yang genit itu!” (menunjuk ke Gogon dan Misye). Mereka berempat (Misye, Gogon, Asep dan Manteb) out frame. Parto mengambil kalkulatornya lagi, masih menghitung komisi yang belum rampung dan terganggu kedatangan Misye tadi.


Adegan 7
Muncul Malih dan Kirun. Dari pakaian keduanya ketahuan kalo keduanya mahasiswa. Tasnya gede dan bawa buku tebal-tebal.

“Ini dia biangnya! Dapat mangsa gede ya, To?” Tanya Malih pada Parto dan Kirun menatap Parto  dengan mimik sinis.

“Yah, lumayan. Namanya orang yang lagi daripada nyari nafkah, dst.dst.” jawab Parto.

“Asyik juga ya dengan adanya dukun sakti, orang tidak dapat menyanyi, datang ke sana, asal mau bayar sejumlah uang, diberi mantra dan air putih, tak lama kemudian langsung pintar nyanyi. Tak perlu belajar. Tak perlu kuliah. Tak perlu ikut masuk test perguruan tinggi. Kalo gitu, misalnya aku ke sana pingin pinter kayak professor langsung bisa?” Tanya Kirun dengan nyindir.

Parto tampak blingsatan, “Ya, begitulah…!!! Namanya juga ilmu gaib.”

“Supaya pintar korupsi? Juga langsung bisa?” Tanya Kirun lagi.

Parto makin merasa kalo dirinya disindir. Ia mau mencoba berkelit supaya bisa kabur, tapi Malih dan Kirun terus mendesak dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Parto ketakutan setengah mati.

Apalagi Kirun menyebut-nyebut pasal KUHAP segala. Yang menipulah, yang menyesatkan oranglah.

Malih menegur Kirun, “Urusan gaib mah kagak ada hubungannya ama pasal-pasal begitu, Run. Santet aja ampe sekarang tak bisa dibuktikan di pengadilan!”

“Iya kalo gaib beneran, kalo boongan?” balas Kirun. Keduanya berdebat seru.

Kesempatan itu dimanfaatkan Parto untuk kabur dan segera menyusul keempat pasiennya yang udah jalan duluan.

Malih dan Kirun masih berdebat. Setelah mereka menengok, baru sadar kalo Parto berhasil kabur. Maka sambil membuktikan kenyataan yang terjadi, mereka bertekad ingin melihat langsung di lokasi dukun sakti berpraktek. Keduanya pun out frame, menyusul Parto.

Adegan 8
Tiba-tiba terdengar bunyi musik magis yang cukup heboh. Bumi seperti diguncang dan langit seperti kencing.

“Ini pertanda bahwa Mbah Dukun siap ditemui! Kalian sudah siapkan sarat-saratnya?” ujar Parto. Baik Misye maupun Gogon mengangguk dengan gemeteran. Parto ternyata tidak ikut masuk. Ia hanya mengantar. Lalu out frame.

Misye dan Gogon pun menghadap Mbah Dukun. Tapi orang yang pertama menyambut adalah seorang gadis cantik (Bintang Tamu Wanita) yang mengaku sebagai Asisten Mbah Dukun.

Gadis Cantik itu mengajukan beberapa pertanyaan yang tidak lazim, misalnya: berapa kali dalam seminggu melirik ke lawan jenis?

Mengapa tertarik menjadi pesinden dan dalang wayang kulit? Mengapa bukan satpam atau tentara?

Pernahkah waktu lapar makan kembang dan kemenyan?

Bagaimana pendapat mereka tentang kebiasaan orang yang meludah dan kentut di sembarang tempat?

Dst. Dst.

Adegan 9

Mbah Dukun (Kang Ibing) muncul. Ngomongnya ngaco dan seperti orang kesurupan. Kemudian kepada Asistennya ia bertanya, “Apa mereka sudah melengkapi administrasi? Bayar uang, jelasnya!?”

Asistennya dengan gemetar mengatakan sudah.

“Baik! Kesini kalian dua orang sontoloyo! Kalian pengin ngetop? Seberapa ngetop? Nah! Ini ada dua gelas air. Masing-masing minum satu gelas, sampai habis!”

Misye dan Gogon meraih gelas dan meminumnya. Tak lama kemudian keduanya merasa agak pusing, kepala seperti berputar-putar.

Adegan 10

Tak lama kemudian, muncul sosok Nyai Wewe Gombel Jojon; ia mencolek lengan Misye Arsita dan kemudian mengajarkan cara nyanyi/nyinden yang benar.

Dimulai dari do re mi fa sol la si do dan latihan vokal: a i u e o, auoooo, aueeee, auiiiiii, dan seterusnya.

Kepada Gogon, Nyai Wewe Gombel Jojon mengajarkan cara mendalang yang benar, tentu saja dalang wayang Sunda. Semuanya dilakukan secara cepat, tapi kedua orang itu langsung bisa dan percaya diri.

Misye selain mahir nyinden, ternyata juga mahir nyanyi ndangdut. Gogon yang diajari mendalang wayang golek, ternyata malah mahirnya mendalang wayang kulit (Jawa). Keduanya dianggap cukup, lalu dibolehkan out frame. Nyai Gogon, juga sememtara out frame.

Adegan 11

Giliran Asep dan Manteb in frame. Dukun menatap dua orang ini dengan mata melotot. Berkali-kali menggosok-gosok matanya. “Heh! Kalian mau apa sebenarnya?”

“Kami pingin jadi pelawak, Mbah Dukun. Pelawak top. Supaya cepat kaya dan terkenal!” sahut Manteb dengan mantap.

“Puih! Orang-orang sontoloyo macam kalian mana bisa jadi pelawak. Tapi berhubung menurut laporan Asisten saya, sodokan dananya agak kenceng, oke, nih, air putih diminum!”

“Nggak pake racun kayak dukun Iskandar yang di Tegal itu, kan?” Tanya Asep, takut-takut.

“Enak aja! Emang gua dukun apaan? Cepat minum, keburu kesaktiannya habis!”

Keduanya minum air putih; masing-masing satu gelas, langsung habis; maklum kehausan.

Setelah itu mereka merasa kepalanya juga puyeng.

 Adegan 12

Tak lama kemudian, muncul sosok Nyai Wewe Gombel Jojon; ia mencolek lengan Asep dan Manteb, kemudian mengajarkan cara melawak yang benar.

Dimulai dari monyongin mulut. Menekuk-nekuk muka, njulingin mata, berjalan seperti orang bego dan lain-lain.

Nyai Jojon juga ngajarin ngomong di depan orang banyak di atas panggung. Dia mulai buka suara, “Saya mo ngomong; mo ngomong saya, saya mo ngomong; ngomong dong, sayang….????!!!!” Sambil monyongin bibir.

Maka Asep dan Manteb menirukan adegan itu; persis seperti iklan Telkom.


Adegan 13
Tepat pada saat Asep dan Manteb latihan ngomong dan ternyata tak juga bisa, masuk  Malih dan Kirun.

Mbah Dukun dan Nyai Jojon sangat kaget, melihat kehadiran dua orang yang selonong boy itu.

Kirun makin curiga melihat kenyataan itu. Kenyataannya, Manteb dan Asep nggak bisa ngelawak.

Kirun bahkan meneliti dengan seksama wajah Mbah Dukun yang tampak diam tak berkutik dan Nyai Jojon yang juga diam beku kagak bisa menghilangkan diri.

Kirun lalu bilang ke Malih, “Nah, kamu lihat sendiri kan? Ternyata dua orang bernama Asep dan Manteb  yang katanya pingin jadi pelawak top itu ternyata tidak becus pidato; apalagi ngomong pake bahasa gaul? Bagaimana mau jadi pelawak top? Padahal keduanya sudah dikasih air putih sama Mbah Dukun. Berarti ini penipuan!”

“Mana mungkin penipuan? Ini pasti gaib benaran. Tadi kita lihat sendiri Misye sudah mahir nyinden dan Gogon juga pinter mendalang!” sahut Malih.

Kang Ibing dan Jojon memanfaatkan situasi itu untuk pelan-pelan kabur.


Adegan 14
Kirun nemu akal. Ia lalu membuka kedok nama-nama: Misye, Gogon, Kang Ibing, Jojon dan dua orang yang bernama Asep dan Manteb.

Kirun kaget, “Siapa? Misye? Terang aja, emang dari dulu Misye udah pinter nyinden dan Gogon selain ngelawak juga pinter mendalang.”

“Tapi…mereka bisa karena minum air putih… Asep dan Manteb belum mahir, mereka kan lagi dilatih ngelawak….” bela Malih dengan tergagap gemas.

Ending

“Alaaaaaa! Itu kan temen-temen kita juga. Sudahlah! Yang pelawak ya ngelawak; yang dalang ya mendalang. Ayo dong Kang Asep dan Mas Manteb, jangan gresek-gresek job sampingan gitu dong, harap kembali ke habitat Anda semula!” teriak Kirun dengan ketawa.

Kang Asep dan Ki Manteb segera bergegas ke tempatnya masing-masing dengan wajah agak tersipu.



TUUUAAAAMMAAAT!!!

 


GAGASAN WAYANG RUMAH

Written By Admin on Sunday, January 16, 2011 | 11:28 AM

Ki Slamet sedang online. Foto: dms


Oleh Ki Slamet Gundono

Rumah sebagai tempat bernaung kita hidup sehari-hari menciptakan aktifitas mulai bangun pagi,mandi , sarapan, bekerja kemudian pergi cari nafkah dan pulang tidur, dst.

Ada kecenderungan rumah menjadi sebuah stagnasi karena kecenderungan pada rutinitas hidup sehari-hari , sehingga ketika ada perubahan rumah sdikit saja misalnya kita merubah letak barang di ruang rumah kita akan temukan nuansa baru .

Wayang Rumah berangkat dari dorongan menciptakan aktifitas baru yang hadirkan moment peristiwa kehidupan dalam balutan estetis untuk menerobos rumah yang terkurung dalam rutinitas ini,di dalam rumah ada cerita ,ada teks, ada persoalan , spiritualitas bahkan realita hidup yang bergerak terus menerus..Wayang Rumah bukan untuk memasuki privacy kehidupan didalam rumah itu namun dia hadir karena permintaan si empunya rumah untuk menciptakan momentum yang beragam yang mungkin dapat jadi sirkulasi baru didalam rumah.

DIVINE MADNESS: Sketsa Biografi Sastrawan “Gila”

Written By Admin on Monday, June 28, 2010 | 9:56 AM

Apa yang membuat orang-orang jenius begitu mempesona? Ada banyak, sebenarnya, dan salah satunya adalah “kegilaan” mereka, “kenyentrikan” atau kekenthiran mereka. Kita orang awam tampaknya sangat terpikat pada orang-orang besar yang unik, dengan perjalanan hidup yang tak lazim, yang mengalami banyak persoalan hidup dan kejiwaan, namun tetap mampu menghasilkan karya besar. Masih ingat betapa larisnya kisah jenius matematika John Nash dalam cerita “Beautiful Mind” atau penggalan kisah sedih Virginia Woolf dalam “The Hours”? Kesuksesan buku dan film semacam itu membuktikan bahwa publik begitu tertarik dengan cerita orang-orang kreatif yang sembari berusaha mengatasi gangguan dalam jiwanya, menaklukkan “setan” dalam dirinya, namun tetap mampu produktif dan menghasilkan karya besar. Kisah-kisah ini memberi kita harapan bahwa sesungguhnya kita bisa mengatasi kesulitan dan keterbatasan diri kita, meski di sisi lain juga menunjukkan kerapuhan diri kita. Barangkali, inilah paradoks yang paling menarik:

GUNUNG MAKRIFAT: A Sufi Novel

Novel ini lahir dari pengembaraan dan pengalaman di jalan tarekat Sufi. Ia lahir dari perenungan dan dialog batin yang tak usai-usai. Kisah ini sederhana, namun ia penuh dengan perbincangan tentang hidup dan Tuhan, tentang keruhanian, tentang perjalanan intelektual, tentang pergolakan batin dan pengorbanan diri ke-aku-an; tentang dialog mengenai ajaran kesufian dari para syekh sufi agung seperti Muhyiddin Ibn ‘Arabi, Maulana Rumi, Syekh Manshur al-Hallaj, Syekh Fariduddin Atthar, dan sebagainya; serta tentang misteri-misteri mistis yang kental, yang selalu hadir dalam setiap perjalanan ruhani. Plotnya memang dibuat sederhana, agar pembaca lebih fokus pada muatan pemikiran dan lanskap-lanskap batin, pada ‘rasa’ ruhani (zawq), yang tak kasat mata. Sang pendaki gunung, tokoh novel ini, tak sekadar berkisah, namun ia mengajak pembacanya untuk melihat sisi lain dari duka dan kepedihan – tepatnya, sisi yang indah dari kesedihan di jalan spiritual, yang akan menghantarkan sang salik pada cinta dan pencerahan.

Setelah mengalami sebuah kejadian yang membuatnya guncang, sang pendaki berusaha melupakannya dengan kembali mendaki gunung. Dalam pengembaraannya sang pendaki bertemu teman dialog yang misterius di Gunung Merbabu, dan sejak itu ia bertemu dengan kejadian-kejadian dan pertemuan-pertemuan yang tampak ‘kebetulan.’ Pada akhirnya

Pekerjaan Rumah Indonesia

Written By Admin on Monday, March 22, 2010 | 5:44 AM



Gus Dur dan Bola-bola Jenaka

Written By Admin on Thursday, January 7, 2010 | 2:24 PM



Dinamika Karikatur Wajah

Written By Admin on Tuesday, November 17, 2009 | 2:19 PM



Oom Pasikom, Sang Perekam Zaman

Written By Admin on Monday, November 2, 2009 | 2:10 PM


Oleh Kuss Indarto

Menyimak karya-karya GM Sudarta serasa menyimak orang Jawa (atau Timur?) menuturkan kritik. Karya-karya kartun editorialnya (atau yang secara salah kaprah lebih diakrabi sebagai karikatur), dengan Oom Pasikom sebagai maskotnya, seperti memberi representasi yang melekat atas modus orang Jawa dalam menyampaikan kritik.

Pada sebagian besar karyanya, terasa kuat gejala eufemisme atau kramanisasi yang bertolak dari ungkapan dalam bahasa Jawa sebagai titik pijak ketika berolah kritik: Ngono ya ngono, ning aja ngono. Begitu ya begitu, tapi jangan begitu. Ungkapan ini, yang telah mengental sebagai ideologi, memberi semacam garis demarkasi bagi hadirnya sebuah kritik. Dua kata ngono pada bagian awal mengindikasikan kemungkinan dan peluang akan hadirnya sebuah kritik dalam pergaulan sosial kemasyarakatan.

Amir Taqi's Works

Amir Taqi's Works

Popular Posts

Related Blog or Site

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kostum - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger | Distributed by Rocking Templates