Headlines News :

The Winners Are......???!!!

The Winners Are......???!!!
Caricatures by Amir Taqi, Irak

Latest Post

The Sinking by Thomdean

Written By Admin on Tuesday, April 28, 2009 | 5:16 AM

Wahai Instan Permata

Oleh Darminto M Sudarmo

Mie instan, minuman instan, gelar instan dan banyak hal instan lain yang berlalu-lalang di sekitar kita, terasa tidak aneh lagi. Sebagian masyarakat bahkan menyikapi gejala itu dengan santai dan masa bodoh. Memang ada instan yang secara temporer dapat menjawab kebutuhan-kebutuhan mendadak kita; namun sebagian lain, kecenderungan instan justru makin menandai semakin merosotnya komitmen kita pada kualitas dan proses. Akan menjadi seperti apa bangsa kita ke depan bila kredo serba mau cepat dan tidak sabaran itu makin menjadi-jadi?

Jawabannya, mari kita lihat bersama-sama!

Dalam beberapa dekade yang lalu masyarakat banyak dikejutkan oleh peristiwa-peristiwa mengagetkan. Dari kasus mie instan yang beracun, penutupan tiga media massa cetak, debt collector yang menggila, ekspor fiktif, kenaikan tarif listrik, sampai gugat-menggugat perkara seputar sosok seorang pahlawan. Media massa ramai. Masyarakat pun, di tempat-tempat yang representatif: restoran, café kedai kopi, pub, kantin, dan lain-lain tak bosan-bosan menggosipkannya.

Salah satu fenomena yang menarik dari kecenderungan ini adalah tampilnya informasi sebagai power yang dapat menggiring tingkah laku dan kebiasaan masyarakat di komunitas tertentu. Lebih-lebih masyarakat metropolitan, yang secara esensial tak dapat "hidup" tanpa aktualisasi informasi.

Masalah satu belum tuntas, masalah-masalah berikutnya sudah timpa-menimpa. Head-line suratkabar, laporan utama majalah berita, silih berganti berteriak saling berebut pembaca. Demikian, terus-menerus, sampai akhirnya secara pelan tapi pasti, sementara masyarakat yang jeli, perlu menempatkan skala prioritas dalam menghadapi sergapan-sergapan informasi itu. Bagian-bagian informasi mana yang dianggap relevan dan perlu diakses. Informasi-informasi mana yang perlu ditempatkan dalam prioritas pelengkap.

Uniknya, dalam bioritme masyarakat informasi yang nyaris sudah terpola itu, ternyata juga dikagetkan oleh "dadakan-dadakan" lain yang tak kalah hebohnya. Yakni, lewat munculnya ledakan popularitas sejumlah "figur" instan yang tiba-tiba juga "berteriak" merampok perhatian masyarakat. Dunia kriminalitas, dikejutkan oleh munculnya kekerasan dan kekejaman yang kadang sampai membuat ngilu rasa sosial masyarakat karena si pelaku adalah orang yang sebelumnya tak pernah punya indikasi atau reputasi di bidang itu. Dunia perbankan dihebohkan oleh kasus kredit macet, yang buntutnya belum tuntas hingga kini. Dunia usaha, dunia kesenian, dunia selibritis, bahkan hingga kemunculan sejumlah "pakar" baru yang begitu mendadak di berbagai bidang dan sesudah itu lalu "lenyap" tak tentu rimbanya, praktis membuat masyarakat jadi cingak dan bingung meletakkan sikap dan tingkah lakunya.


Fenomena di atas adalah fenomena instan. Kecenderungannya serba sekejap dan kurang menggugah kesan mendalam. Makin beragamlah warna tradisi metropolitan. Tak beda dengan kesibukan lalu-lintas yang melintas laju maupun lambat dalam mekanisme keseharian, namun tidak membekaskan kesan berarti bagi warga sekitarnya. Kesan dan perhatian warga baru muncul ketika mekanisme itu tiba-tiba koyak karena adanya tabrakan kendaraan atau distorsi-distorsi temporer lainnya.

Apa sesungguhnya yang tengah terjadi di negeri ini, khususnya di kota metropolitan ini? Setiap hari ribuan orang dalam unit-unit kendaraan bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Pagi, siang, sore, bahkan malam. Semua bergerak dalam mobilitas sebagai manusia ibukota yang selama ini dikenal dinamis dan berdaya hidup tinggi. Apa yang dicarai dan didapatkannya? Mungkin tak penting benar untuk dipertanyakan atau dicari jawabannya. Tradisi ini adalah buah dari kesepakatan, bahkan kebutuhan komunitas masyarakat setempat.

Kalau di kemudian hari masyarakat menyadari, bahwa mereka telah menjadi "objek" dari permainan informasi, permainan image hasil rekayasa doktrin bisnis atau politis, apa itu perlu benar dipersoalkan. Berondong-bondong ke toko serba ada dan memborong barang sebanyak-banyaknya -- direncanakan atau tidak; dibutuhkan atau tidak -- toh mereka bisa menikmatinya. Semangat super konsumtif terhadap segala macam barang -- dari parfum sampai apartemen -- toh mereka senang, bisa menikmati, mampu dan apa salahnya menggunakan hak sebagai seorang warga negara yang dilindungi undang-undang.

Di banyak jalan, mobil-mobil pribadi yang memuat hanya satu atau dua orang dan masih baru, berderet-deret rela macet. Rela terhambat perjalannya. Toh meskipun macet, mobil ber-AC, jadi apa persoalannya? Apa urusannya dengan anjuran naik kendaraan umum di hari efektif kerja dan berkendaraan pribadi di hari libur? Pemilik mobil tak selamanya karena memiliki banyak uang. Ada yang harus menempuh lewat kredit, lalu mengangsur tiap bulan dengan konsekuensi mulut anak-istri-suami di keluarga harus betul-betul "puasa". Apakah kendaraan umum mampu menjamin keamanan dan gengsi? Sementara "tradisi" yang terlanjur hidup di metropolitan, hanya memandang dengan sebelah mata orang-orang yang penampilan fisik dan sarana mobilitasnya berada di kelas unprofitable

Ini mungkin gila Namun pelan tapi pasti, fenomena-fenomena itu kian mengkristal. Menambah kompleks dan tegangnya nilai-nilai sosial yang berlaku di masyarakat metropolitan, meskipun di sejumlah komunitas etnis tertentu, masih kuat memegang nilai-nilai sosial "lama" yang nyaman dan murah hati.
Andaikata harus dipertanyakan, kecenderungan nilai "baru" yang biasanya bergegas dan serba sekejap itu kian melebar dan mencengkeram tatanan-tatanan "lama", bagaimana masa depan nilai moral sosial dan budaya kota ini? Bagaimana kalau ditiru oleh kota-kota lain, bahkan diidolakan sebagai "proyek percontohan" yang mengundang pesona dan kharisma? Kita tunggu saja, apa yang akan terjadi lagi di ibukota tercinta ini.

Partai-partai instan, politisi-politisi instan, caleg-caleg instan, capres-cawapres instan, makin menambah riuhnya suhu udara yang sudah sangat pengap ini. Ketambahan lagi oleh harapan-harapan instan mereka yang setinggi langit, segede gunung, seluas samodra; lalu kenyataan sebaliknya pun datang mendadak secara instan. Sepertinya kita lagi berada di tahap mencari-cari jati diri, kendati ujung dari semua ujung itu tak lebih tak kurang hanya: mencari penghasilan. Tak peduli penghasilan itu berupa duit atau puji sanjung dan tepukan tangan.
Karena capek, maka mendadak saya tak dapat mengetik lagi. Ini namanya buntu instan!

More About Amir Taqi's World

Written By Admin on Sunday, March 22, 2009 | 8:34 AM









Amir Taqi
Amir Mohammed Taqi Ajam
Date of Birth 28th January 1973
Nationality: Iraq
EDUCATION
Bachelor Degree of Fine Arts � Drawing Faculty - Academy of Fine Arts �
Babylon, Iraq. 1991 - 1995
Training in comic drawing, illustration,
Inking � Disney Academia �
Milan, Italy 2002
FIELDS OF ACTIVITY
Painting, illustrator, cartoonist, caricaturist
Character Design

CAREER HISTORY
Experience:
Freelance Artist
Comics drawing for children's magazines. Portrait drawing for several publications (Newspapers & magazines).
Character Designer and Cartoonist
Disney � Jawa Enterprises � Dubai, UAE Oct 2002 � Jan2005
covers for Magazines and comic
Princess Magazine
Aladdin Magazine
SOFTWARE EXPERIENCE
Corel Painter
Adobe Photoshop
Adobe Illustrator
Adobe In design
Macromedia Flash

Amir Taqi and Doddy Iswahyudi

Written By Admin on Sunday, March 8, 2009 | 4:21 PM



Keunggulan seorang kartunis dapat ditentukan karena beberapa hal; di antaranya karena ide-idenya yang dahsyat dan menyengat. Dapat pula karena kemampuan teknik drawing-nya yang luar biasa dan bercitarasa khas. Luar biasa dalam arti, mencapai stilisasi yang utuh dan tuntas.

Sekadar contoh, dua orang kartunis dengan karyanya masing-masing, yaitu Amir Taqi dari Irak, yang menggambar wajah Steven Spielberg dan Doddy Iswahyudi dari Indonesia dengan gambar mobil, yang dalam kasus ini memiliki daya tarik tersendiri karena teknis pengolahan gambarnya sangat memikat; dua kartun tersebut dapat menjadi bagian dari model; bahwa dalam bekerja seorang kartunis juga punya tanggung jawab mengantarkan visual hingga titik tinta paling akhir. (Odios)

Tsunami dan Peniup Seruling by Zerinski, Ukraina

Written By Admin on Sunday, March 1, 2009 | 2:30 AM




Pojok Media, Dari Lucu ke Somasi Analogi

Written By Admin on Thursday, February 26, 2009 | 3:18 AM

Setuju atau tidak, pojok dari sebuah media memiliki arti yang sangat khusus bagi pembaca bergegas. Sifatnya yang ringkas, lengkap, dan aktual menjadi salah satu rujukan isi. Sementara guyonan, sindiran, kritik sebagai respons atau komentar dari media bersangkutan terhadap satu peristiwa menjadi pengikat bagi pembaca media tersebut.

Pojok sering juga disebut sebagai karikatur dalam bentuk kata-kata. Ada yang menggiring istilah karikatur kata-kata tersebut sebagai ’karikata’—sayang isitilah ini kurang bergaung. Ada yang menggolongkan pojok sebagai tajuk singkat sebuah media.

Apa pun istilah yang sepatut dan seharusnya disandang, hal paling penting dari sebuah pojok ialah kemampuan memilih topik dan komentar yang menyertainya. Ada media yang lebih suka memilih topik-topik besar dan klise (misalnya soal tokoh-tokoh politisi atau pemerintah). Ada pula yang lebih suka memilih peristiwa-peristiwa khas dan menarik perhatian publik. Dan, tak kurang pula yang lebih memilih komentar-komentar para ahli yang menyentak perhatian.

Pembaca yang cermat, hanya dengan membaca pojok, akan sangat paham ke mana visi dan misi media yang bersangkutan bertiup. Nyaris, hal sama dirasakan oleh pembaca saat menyimak editorial atau karikatur. Ekspresi yang muncul itu menggambarkan garis-garis global tentang yang do (boleh dilakukan) dan do not (tidak boleh dilakukan) media bersangkutan.

Apakah itu ada kaitannya dengan masalah ideologis atau masalah yang kadang hanya teknis, segala sesuatunya dapat saja terjadi. Apa yang berkaitan dengan masalah ideologis, tentu pembaca semua sudah sangat maklum. Namun, yang berkaitan dengan masalah teknis terkadang bisa saja justru lebih rumit dan lebih katro daripada masalah ideologis. Misalnya, yang berkaitan dengan power atau citra (politik). Pemegang saham, penyantun finance, atau siapa pun yang secara etik internal, the real atau the invisible man tersebut dianggap sakral kedudukannya.

Pada akhirnya, bagi penulis pojok, bila perspektif dan jam terbangnya terbatas, ditambah lagi memiliki kekhawatiran menulis salah, dijamin komentar yang muncul pasti tidak lucu alias klise. Atau, cenderung berkomentar yang asman (asal aman). Inilah, kalau diizinkan, saya akan membuat semacam ’tipologi pojok’ berbagai media dalam merespons atau memberi komentar kasus yang sama.

Tipologi pojok media

Pertama, misalnya Media A mengangkat topik: "MK putuskan, calon perseorangan dapat ikut pilkada…."; Komentar yang muncul: ditunggu realisasinya…! Kedua, misalnya Media B mengangkat topik: "MK putuskan, calon perseorangan dapat ikut pilkada…."; Komentar yang muncul: yang bernyali besar dan berduit!

Ketiga, misalnya Media C mengangkat topik: "MK putuskan, calon perseorangan dapat ikut pilkada…."; Komentar yang muncul: partai enggak dapat setoran dong! Keempat, misalnya Media D mengangkat topik: "MK putuskan, calon perseorangan dapat ikut pilkada…."; Komentar yang muncul: independen, murah, tak perlu tim sukses! Kelima, semisal Media E mengangkat topik: "MK putuskan, calon perseorangan dapat ikut pilkada…."; Komentar yang muncul: wah, pasti ada yang enggak rela dan kebakaran jenggot!

Tipologi untuk kasus-kasus pojok di atas adalah tipologi dari kemungkinan-kemungkinan penulis pojok dalam mewakili sikap medianya, mengambil posisi dan di mana ia menempatkan diri. Anggap saja contoh di atas adalah fiktif, tetapi hal paling dirasakan oleh pembaca setelah menyimak komentar pojok adalah: ke mana angin visi dan misi sebuah media bertiup. Ada media yang lebih condong membela pemerintah; ada yang lebih condong membela kaum pemodal; meskipun tak kurang pula yang gigih membela kaum duafa (masyarakat yang tak berdaya, miskin, rakyat yang terpinggirkan).

Di bagian lain terkadang muncul kendala dalam memunculkan komentar pojok yang cerdas, lucu, dan bernas. Tidak selalu karena faktor-faktor do dan do not tadi, tetapi bisa jadi karena masalah yang sangat elementer: belum menemukan orang yang tepat.

Wawasan yang luas dan rasa humor yang baik tidak dapat diperoleh dari diklat yang hanya tiga bulan, misalnya. Lugasnya, tugas itu harus diserahkan kepada redaktur senior yang memiliki jam terbang memadai, kreatif, dan memiliki rasa humor yang bagus.

Ternyata, pilihan secara intuitif seperti ini belum juga menyelesaikan masalah. Dari catatan yang ada, menulis lucu (lelucon) itu bukan pekerjaan mudah. Selain kompetensi intuitif tadi, masih diperlukan kemampuan teknis (strategi) agar pilihan kata-katanya tepat, nuansa dan kejutan yang ingin dicapai pas.

Teori Arthur Koestler yang sangat tua mengatakan, "The essence of recreation is re-creation". Makna sebenarnya dari rekreasi adalah penciptaan kembali. Arti lugasnya, bila pembaca juga dilibatkan dalam penciptaan lelucon di pojok, komentar yang muncul di pojok itu akan menjadi bagian dari karya pembaca. Dengan kata lain, pembaca juga ditantang untuk ikut memikirkan kata-kata yang muncul agar intelegensi dan imajinasi pembaca merasa dilibatkan dalam proses penciptaan itu. Komentar-komentar pojok yang justifikatif, memastikan kemungkinan dialog, berkemungkinan kurang memberikan kesan apa-apa bagi pembaca.

Harus baru dan beda

Ada teori yang menganjurkan agar penulis lelucon membebaskan diri dari belenggu pengertian tentang benar dan salah. Agar muara karyanya menuju pada lucu atau tidak lucu. Bukan, benar dan tidak benar.

Pencetus teori yang yang lebih galak dan lugas justru menganjurkan supaya mencapai efek kejut dan surprised yang prima, tulisan itu harus baru dan beda! Dalam peta wacana nasional, salah seorang tokoh yang suka berkomentar (lisan) baru dan beda ialah Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid).

Teori yang berkembang di negeri kita melarikan seluruh persoalan ke dunia analogi. Di sana ada dunia yang aman bagi kreativitas dan kenakalan-kenakalan. Tak heran, bila "Republik BBM" sampai "News dot Com" cukup mengguncang publik. Namun, pihak yang tersindir tak dapat berbuat apa-apa, apalagi menuntut. Dan, menyomasi dunia analogi merupakan kekonyolan yang sama sekali tidak lucu. Delik hukum mensyaratkan bukti-bukti faktual otentik. Lha, bukti dari dunia analogi? Hanya mungkin dibenarkan jika pengadilannya juga dari dunia analogi.

Sementara itu, teori yang melihat seni menulis lelucon dari kacamata kreatif murni lebih cenderung menganjurkan si penulis mengasah diri pada teori Mind Map (Peta Pemikiran). Teori ini dapat mengembangkan sebuah obyek atau terminologi menjadi tak terbatas dari aspek kuantitas.

Terminologi tentang ’karet’, misalnya, dapat menjadi ban mobil, sendal jepit, perkebunan, dan sebagainya. Hal yang perlu diperhatikan ialah saling adanya relasi topik dan logis. Teori ini memungkinkan pekerja kreatif, tak terkecuali penulis pojok, kehilangan atmosfit dan perspektifnya. Dengan demikian, ibarat dalang, dia tidak kekurangan lakon!

Darminto M Sudarmo Penulis dan Mantan Pemred Majalah Humor

Amir Taqi's Works

Amir Taqi's Works

Popular Posts

Related Blog or Site

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kostum - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger | Distributed by Rocking Templates