Headlines News :

The Winners Are......???!!!

The Winners Are......???!!!
Caricatures by Amir Taqi, Irak

Latest Post

Memilih Hidup Sebagai Kartunis

Written By Admin on Monday, May 25, 2009 | 2:15 PM


Perjalanan Menuju Dunia di Balik Cakrawala


Dikisahkan oleh GM Sudarta

Rabu Kliwon. Hari itu, malam takbiran menjelang Lebaran, 20 September 1945 dini hari, saya hadir di dunia. Konon, menurut cerita ibu, tamu yang berdatangan menjenguk kelahiran saya adalah barisan makhluk halus seperti genderuwo, pocong, dan glundhung pringis. Tamu-tamu istimewa yang tidak diundang itu membuat ibu pingsan. Entah benar entah tidak cerita itu, yang pasti sampai sekarang saya tidak pernah menjumpai makhluk seperti itu.

Anak yang lahir pada hari Rabu Kliwon, seperti saya, menurut ayah, berdasarkan hitung-hitungan pawukon, nantinya kalau dewasa akan menjadi pendhito. Bukan pendeta, melainkan pendhito dalam bahasa Jawa, misalnya seperti Pendhito Durno.

Tempat tinggal kami tidak begitu jauh dengan rel kereta api. Di masa kecil, saya senang
melihat kereta lewat dan sering main di rel. Bila melihat rel kereta api yang memanjang
dan kemudian hilang di cakrawala, selalu saya bayangkan bahwa di balik cakrawala itu
ada dunia lain. Dan, karena itu, saya sejak kecil berkeinginan untuk melihat dunia di balik
cakrawala itu. Itulah impian masa kecil saya, sehingga saya kepingin sekali menjadi masinis kereta api. Dengan menjadi masinis, saya bisa menikmati perjalanan jauh dan pergi ke dunia di balik cakrawala.

Saya masih ingat, saat Agresi Militer Belanda II yang sering disebut Clash II, tahun 1948, situasi begitu memprihatinkan. Zaman itu adalah zaman "malaise" bagi rakyat. Oleh karena Kota Klaten, tempat keluarga kami tinggal, diduduki tentara Belanda yang masuk kembali ke Indonesia ndompleng Sekutu, kami sekeluarga terpaksa mengungsi ke Desa Bayat, sebuah desa pegunungan yang terletak di sebelah selatan Klaten.

Diiringi dentuman mortir dan rentetan ledakan peluru, kami mengungsi lewat pinggiran desa. Ibu berjalan kaki dan saya naik sepeda roda tiga yang ditarik Ibu dengan menggunakan selen¬dang. Di pengungsian, saya sering melihat lewat lubang pintu para pejuang, bergerilya melintasi depan rumah. Pengalaman itulah yang antara lain mempengaruhi perkembangan imajinasi saya, yang kemudian saya wujudkan dalam gambar.

Setelah perang usai, kami sekeluarga kembali ke rumah di Klaten. Meski sudah kembali ke Klaten, tetapi kondisi sosial ekonomi belum pulih. Waktu itu, tidak jarang kami hanya bisa makan jagung, nasi aking atau tiwul. Tidak jarang pula kami makan nasi jagung yang keras, sehingga membuat saya sering menangis karena rahang kesakitan saat mengunyah nasi jagung yang keras itu. Untuk melupakan perut yang kosong, ke¬laparan, saya suka mencorat-coret tembok rumah dengan arang. Saya berusaha menggambar orang yang tengah berperang dan menggambar kereta api yang penuh penumpang. Kalau tembok sudah penuh dengan coretan gambar saya, yang menjadi tempat pelam¬piasan saya adalah jalan aspal. Saya menggambar dengan menggunakan kapur tulis.

Melihat hal itu, ayah membuat papan tulis dari bekas jendela yang sudah rusak. Papan tulis itu diletakkan di teras rumah. Jadilah saya menggambar apa saja di papan tulis itu. Saya menggambar bintang-¬bintang film yang saya tonton di bioskop (Ayah bersahabat dengan seorang pemilik bioskop. la suka iseng ikut menjaga pintu bioskop, sehingga meski masih di bawah umur, saya bisa nonton bioskop apa saja. Misalnya, Tarzan, Batman, Superman, hingga film "Niagara" yang dibintangi oleh Marilyn Monroe). Bintang-bintang film itulah yang saya gambar di papan tulis, termasuk Marilyn Monroe. Gambar-gambar saya itu banyak menarik perhatian orang, termasuk anak-anak sekolah yang sewaktu pulang sekolah lewat di depan rumah saya. Itulah, pameran lukisan saya yang pertama!!!

"Pinaringan"
Memang luar biasa, ayah yang kejawen dan boleh disebut "wong kuno", sangat mendukung kegemaran saya. menggambar. Sementara, ada anggota keluarga yang menganggap bahwa pekerjaan gambar-menggambar itu tidak akan menjamin masa depan. "Kamu itu, pinaringan," kata ayah, "yang artinya diberkati Tuhan. Kalau kamu laksanakan dengan baik, akan bermanfaat dalam hidupmu."

Dan, ini bukan hanya kebetulan. Mungkin, ini yang namanya "Jalan Tuhan". Oleh karena bisa menggambar, pendidikan formal SD, SMP, SMA bisa saya lalui dengan lancar, meskipun saya tidak pintar dalam berbagai pelajaran kecuali menggambar dan olah raga. Kesadaran akan pinaringan itu mulai terasa benar saat duduk di bangku SMPN I, pada tahun 1957. Guru kesenian saya, Bapak Mawaridi (alm) yang mengajar seni musik dan menggambar, setiap bulan memberi surat pengantar kepada saya untuk diberikan kepada petugas tata usaha sekolah. Surat pengantar itu digunakan untuk mengambil sekotak cat air merek PDK, kuas, dan kertas gambar. Dengan perlengkapan itu saya diberi tugas membuat lukisan apa saja untuk hiasan sekolah.

Itulah, pameran lukisan saya yang kedua!!!
Apa yang terjadi saat itu, memberikan kesadaran bagi saya akan "harga" sebuah gambar. Dengan sebuah gambar pemandangan permintaan guru aIjabar, membuat saya tidak masalah dengan nilai aljabar, meskipun saya sungguh sangat bodoh dalam ilmu itu. Waktu itu, saya beranikan diri untuk mengirim gambar ke majalah berbahasa Jawa, Penjebar Semangat, yang terbit di Surabaya. Kemudian ketika sudah duduk di bangku SMA, saya membuat komik dengan cerita Perang Aceh di koran Suluh Indonesia, terbitan Jakarta, dan komik cerita Saijah dan Adinda di Pos Minggu, Semarang.

Hasil dari kegiatan saya itu, bisa membantu untuk membayar uang sekolah. Itu sangat bermanfaat karena memang kondisi perekonomian keluarga saya sangat pas-pasan.

Merasa Menjadi Seniman
Saat duduk di bangku SMP, saya bergabung dengan APIK (Angkatan Pelukis Indonesia Klaten), yang dipimpin oleh pelukis Sri Suharto (alm). Bersama dengan Mas Sujio, pelukis asal Klaten, saya dalam keseharian setelah pulang sekolah pergi membawa map berisi kertas buram, berjalan ke mana saja, termasuk ke pasar untuk membuat sketsa. Saat itu, dada saya membumbung, serasa sudah seperti seorang seniman. Hasil dari latihan membuat sketsa masa itu, sangat bermanfaat di kemudian hari. Saya juga rajin mengunjungi pelukis nasional asal Klaten, Pak Rustamaji (aim). Waktu itu gaya lukisan Pak Rustam banyak yang hiper-realis, yang ternyata sangat mempengaruhi lukisan saya mendatang.

Pada tahun 1960-an, dengan maraknya kegiatan LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) dengan memasang poster-poster berukuran raksasa di tengah kota untuk kampanye politik, saya merasa tertantang. Saya kemudian menyaingi mereka dengan membuat poster berukuran raksasa pula yang digunakan untuk pentas drama teman-teman teater. Saingan saya tidak langsung waktu itu adalah guru menggambar saya sendiri sewaktu SMA. Meskipun kami berada di garis yang berlawanan, tetapi antara guru dan murid, kami tetap sangat bersahabat. Nasihatnya yang selalu saya ingat dan kenang adalah "Kita harus tidak bosan menggambar kapan saja, karena semakin lama, semakin tak terasa bahwa skill tangan akan bertambah terus."
Saya merasa sudah menjadi seniman. Apalagi, ditambah persahabatan saya dengan seniman-seniman seperti Agus Vrisaba, Deddy Sutomo, Arifin C Noer muda, dan WS Rendra muda, lengkaplah sudah dada membusung dengan pongah sebagai seniman tulen. (Bersambung...)

Ancaman Flu Babi, Golput dan Album SBY 2014

Written By Admin on Wednesday, May 13, 2009 | 5:05 PM

Oleh : Bambang Haryanto

Email : humorliner (at) yahoo.com

Numerologi sembilan. Komisi Pemilihan Umum (9/5/2009) sudah mengumumkan hasil pileg 2009. Tercatat sembilan partai yang memperoleh kursi di DPR. Partai Demokrat, partainya Presiden SBY, tampil di puncak. Kemenangan partai berwarna biru ini seolah mengukuhkan perhitungan yang menjadi rumor hot di kalangan paranormal yang menekuni numerologi selama ini.
Bahwa pemilu yang dilaksanakan pada tanggal 9 April (atau bulan ke-4), diumumkan 9 Mei, akhirnya mendaulat partai dari tokoh yang lahir tanggal 9, bulan 9, tahun 1949 dalam posisi nomor 1.
Kebetulan menarik lainnya, partai urutan nomor ke sembilan adalah Partai Hanura, juga partainya pensiunan jenderal, Wiranto. Ucapan negarawan Winston Churchill (1874–1965) dari Inggris memperoleh relevansi di Indonesia saat ini. Ia yang pernah menjabat sebagai perdana menteri Inggris tahun 1940-1945 dan tahun 1951-1955 pernah berujar, “dalam perang Anda hanya dapat terbunuh satu kali. Dalam politik, bisa berkali-kali.”

Ucapan itu mungkin dapat menjadi inspirasi bagi Sutiyoso. Juga tokoh berlatar belakang militer lainnya. Bahwa bila seseorang jenderal purnawirawan ingin maju sebagai calon presiden, haruslah mendirikan partai politik terlebih dulu. Nasehat serupa juga berlaku untuk Jenderal Nagabonar.

Dr. Subharata Singh, pengamat politik dari Universitas Nasional Singapura, memiliki komentar menarik. “Batas atas dan batas bawah penguasaan kursi di parlemen didominasi oleh partai mantan militer. Ini menjadi perkembangan menarik bagi masa depan kehidupan demokrasi di Indonesia . Battle of generals kini merambah ke gedung parlemen. ”

Sementara itu kalangan industri musik berpendapat lain. “Lanskap politik Indonesia kini diwarnai para jenderal yang suka menyanyi. Jenderal SBY begitu menjabat sebagai presiden sudah menelorkan dua album. Hal serupa pasti akan segera diikuti oleh Wiranto. Industri musik kita akan lebih semarak, karena bertaburan artis-artis berbobot penuh bintang,” kata Richardo Salindehoy dari EMBB Records.

Mutasi genetik. Menjelang pengumuman KPU itu, di Yogya juga muncul bintang yang lain. Bintang politik gerakan pro-demokrasi sejak era Suharto. Sri Bintang Pamungkas. Acara pertemuan nasional yang ia gagas bersama para pendukung gerakan golongan putih (golput), dibubarkan dengan paksa oleh aparat keamanan.

Alasan fihak yang berwajib karena pertemuan itu tidak memiliki ijin polisi. Obrolan yang beredar di milis-milis politik menyatakan bahwa fihak keamanan turun tangan karena mengkuatirkan dampak samping dari gerakan Sri Bintang Pamungkas itu.

“Ia mendirikan Partai Uni Demokrasi Indonesia, pernah mencanangkan sebagai calon presiden, dan kini mengompori kembali gerakan golput di Indonesia. Sebagai negara demokrasi apa yang ia lakukan sebenarnya sah-sah saja. Tetapi kami berpikir dalam skala luas, yaitu mengkuatirkan mutasi genetika dari DNA politiknya tersebut akan menular ke sendi-sendi kehidupan lainnya. Misalnya menjadi gerakan yang bertujuan mendelegitimasi hasil pemilu. Termasuk potensi menyebarluaskan ancaman wabah flu. Kalau ia sedang flu dan berpidato ke mana-mana, apalagi di depan jutaan pendukung golput, apakah bukan berisiko mengancam kesehatan masyarakat?,” tegas seorang aparat keamanan berbintang dua yang tidak mau disebut namanya.

“Lihatlah apa yang terjadi dengan wabah flu babi dewasa ini. Beritanya jauh lebih menular daripada penyebaran penyakitnya sendiri. Kalau Anda membaca bukunya ahli pemasaran digital Seth Godin, The Unleashing IdeaVirus (2001), Anda akan tahu pilihan kami itu. Kami harus mewaspadai virus gagasan Sri Bintang dan kawan-kawan itu yang berpotensi mampu menyebar sebagaimana berita mengenai flu babi,” katanya memberikan alasan.

Proteksionisme terselubung. Begitulah, aparat berbintang dua itu tidak salah. Berita tentang Sri Bintang Pamungkas tersebut memang telah menyebar. BBC menyiarkannya. Yang kuatir berat kini justru pemerintah Meksiko. Beberapa hari yang lalu, terbetik kabar di BBC bahwa pemerintah menyatakan kesanggupan Indonesia untuk membantu Meksiko dalam mengendalikan ancaman flu babi.

Indonesia menurut duta besar Meksiko kepada Menteri Kesehatan RI, dipandang sukses mengendalikan wabah flu yang lebih ganas, yaitu flu burung. Meksiko ingin belajar dari Indonesia dan juga minta bantuan dari Indonesia. BBC mewartakan, bantuan itu bisa meliputi penyediaan masker. Tetapi tentang penyediaan masker tersebut dibantah oleh pejabat dari berwenang. Mexico pun jadi cemas.

Apalagi rumor pun kembali muncul dalam milis-milis politik. Terkait aksi pembubaran pertemuan aktivis golput di Yogyakarta semakin menimbulkan keyakinan kuat di kalangan aparat keamanan bahwa masker-masker tersebut lebih dibutuhkan oleh warga Indonesia saat ini. Demi alasan nasionalisme, demi aksi proteksionisme terselubung dan demi menjaga kestabilan ipoleksosbud dalam negeri.

“Dalam masa krisis ekonomi global dewasa ini, kita mau tak mau harus mendahulukan inward looking policy,” tutur Dr. Sumardiawan Jalingga, pengamat dari lembaga pemikir Hen, Cow & Swine Institute, Jakarta.

“Penguasa Indonesia cerdik. Dalam era pemerintahan Orde Baru yang represif selama 32 tahun, rakyat Indonesia sudah mampu terbungkam mulutnya hanya dengan pidato. Dengan mengangkat isu ekstrim kiri, ekstrim kanan, sampai isu organisasi tanpa bentuk, rakyat pun terdiam,” kembali analisis dari Dr. Subharata Singh, pengamat politik, dari Universitas Nasional, Singapura.

“Kini di era reformasi yang bebas, mereka yang vokal harus dibujuk untuk tutup mulut dengan cara yang lebih kreatif, edukatif, lateral, hieginis dan koersif. Ancaman wabah global flu babi manjur untuk tujuan politis semacam ini,” tegasnya lagi.

Di depan kamera televisi ia secara demonstratif menunjukkan sampul buku bergambar babi sebagai diktator dari novel Animal Farm-nya George Orwell yang diterbitkan pada tahun 1945. “Sama dengan tahun kemerdekaan negara Anda, bukan ?” katanya disambung senyum penuh arti.

Begitulah Indonesia . Sepertinya negara kita terancam tergelincir menjadi negara paradoks. Ketika tokoh yang berpeluang menjadi pemimpin nomor satu dan nomor dua adalah mereka yang suka membuka mulut, dengan menyanyi, rakyat yang kritis secara demonstratif justru terancam untuk menggunakan masker. Agar mereka tidak membuka mulut. Kepentingan untuk menjaga stabilitas politik dan menghindari ancaman wabah flu babi kini berkoalisi menjadi ramuan kimia pengambilan keputusan yang unik, sehingga menarik kajian para analis politik dan kekuasaan dari pelbagai negara..

Indonesia bernyanyi. Untung masih ada kabar baik. Richardo Salindehoy dari EMBB Records memberikan bocoran informasi Kalau saja nanti Presiden SBY akan terpilih kembali, tim suksesnya sudah mempersiapkan album lagu-lagu ketiganya. Album ini direncanakan diluncurkan pada tahun 2014, sebagai album kenangan untuk menandai akhir dari dua kali masa pemerintahan SBY.

Sebagai penggemar fanatik kelompok musik The Bee Gees di masa mudanya, SBY telah memilih salah satu lagu yang akan direkam dari milik kelompok Gibbs Bersaudara asal Australia itu. Judulnya : Swan Song. Memang lagu perpisahan.

Tetapi agar tidak mudah didakwa sebagai menjiplak, sebagaimana berita panas seputar lagu-lagu kelompok DeMassive dan Changcutters saat ini, lagu itu akan memperoleh intrepretasi, lirik, dan bahkan judul baru. Sayangnya, di negeri yang kaya pembajak ini, nomor lagu indah tersebut sekarang sudah beredar di luas masyarakat.

Bahkan ada kelompok musik baru The Fake Changcutters merilis parodi dari lagu itu dan ditayangkan di situs berbagi video YouTube. Salah satu bintang tamunya adalah Miss Piggy-nya Jim Henson. Kermit Si Kodok Hijau tidak nongol, konon sedang sakit flu babi. Lihatlah, judul lagu parodi tersebut sungguh aktual dengan realitas masa kini : Swine Song.

Siapa saja boleh secara gratis mengunduh video itu. Demi menghindari kejadian penularan virus flu babi yang bermutasi menjadi virus komputer, maka komputer dan penggunanya harus tetap mengenakan masker. Juga harus mengaktifkan peranti lunak anti virus yang mutakhir.

Ada sedikit warning tetapi simpatik : seluruh warga Indonesia dianjurkan bisa menyanyikan lagu itu bersama-sama. Asal, dan asal, tetap mengenakan masker yang menutupi mulut-mulut mereka.

Wonogiri, 9 Mei 2009

Tangga Langit by Zerinski

Written By Admin on Monday, May 11, 2009 | 6:23 AM

Pelawak dan Daerah Bebas Pretensi

Oleh Atin Supriyatin


SEBUAH bangsa boleh tidak punya koruptor, penjahat, debt collector, penipu dan lain-lain; tapi pelawak, harus punya. Bangsa yang tidak memiliki pelawak, akan terkena malapetaka. Demikian salah satu "gurauan" budayawan Emha Ainun Nadjib ketika menjadi pemandu "Saresehan Lawak" di Ancol, pertengahan Oktober '94 mendampingi Mensesneg Moerdiono (waktu itu), sang pembicara tunggal.

Pelawak dalam pengertian comedian menurut tradisi rasa dan pemahaman orang luar negeri (baca: barat), berbeda dengan badut, sang penggeli hati. Di Indonesia, dalam etnis Jawa, dikenal istilah punakawan atau pembantu -- biasanya berjumlah dua, tiga atau empat -- yang selain melayani tuannya; juga bertugas menghibur dengan cara berlelucon atau membuat dagelan. Tidak berhenti sampai di sini, punakawan juga mengemban fungsi penasihat, pembimbing dan kontrol sosial terhadap setiap kebijakan para tuannya (bendara).

Empat punakawan yang sangat populer adalah Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Dalam makna mistis-filosofis, para punakawan ternyata juga menyimpan energi instrinsik yang amat dahsyat. Mereka bukan saja pembantu namun juga sekaligus dewa yang turun ke bumi. Artinya, bila para tuan atau bendara yang mereka abdi mulai menyimpang dari garis-garis keutamaan seorang satria dan tak mempedulikan lagi nasihat dan piweling (peringatan) yang diisyaratkan, maka tak segan-segan lagi para punakawan berunjuk gigi.

Berbagai model unjuk gigi dilakukan. Adakalanya dengan cara tiba-tiba melakukan "desersi" atau mbalelo. Kala lain menyaru sebagai raja atau tokoh dadakan yang kontroversial. Yang intinya melakukan suatu "gerakan" untuk memberi pelajaran kepada para penentu atau pengambil keputusan kerajaan. Ending dari friksi atau situasi yang seakan mencekam ini, baik fisik maupun argumen, selalu diakhiri dengan terbukanya, siapa "biang" di balik setiap "kekacauan" itu. Pada saat itulah, para punakawan itu membuka tabir motivasinya. Bukan mau melawan atau menjadi "oposan", namun semata-mata memberi pelajaran. Mereka siap membantu dan mendukung para satria, asal para satria segera memperbaiki kelalaian yang dibuatnya. Lalu para satria dan penentu negeri meminta maaf karena telah mengabaikan asas-asas keutamakan yang pernah diisyaratkan kepada mereka. Karena faktanya, kebijakan yang diluncurkan itu membawa keruncingan-keruncingan yang bisa mengancam persatuan dan kesatuan negeri.



CONTOH di atas hanya ingin menampilkan sisi banding sekilas mengenai latar belakang budaya, tradisi, dan pemahaman rasa antara pelawak (baca: komedian) di luar negeri dan pelawak (baca: punakawan) di salah satu etnis kita; yang seakan-akan sulit dilacak di mana titik persamaannya. Namun, bila diusut soal fungsi dan peran mereka dalam beraktualisasi diri, akan ditemukan beberapa kesamaan menarik. Keduanya sama-sama mengemban kewajiban -- dalam refleksi profesi -- sebagai penghibur. Sama-sama pemantul fenomena yang terjadi di masyarakat. Sama-sama mengemban fungsi kontrol sosial. Sama-sama punya komitmen perlunya menjunjung muatan daya didik dan kobaran wabah optimisme di masyarakat.

Dalam konteks ini, pelawak, lepas dari rujukan sosio terminologinya: luar negeri atau bukan luar negeri, tetap saja menampilkan sosok yang mengemban fungsi luhur. Ia mampu menyampaikan kebenaran dengan ketawa. Mampu berdiri dalam garis bebas pretensi. Mampu menjadi jembatan antara rakyat dan penguasa; betapa posisi yang amat langka dan spesifik. Kepemilikan akses untuk bisa "berlalu-lalang" di dua wilayah yang amat istimewa.

Jadi, rasanya amat kurang bisa diterima akal kalau belakangan ini tumbuh semacam "kekhawatiran" sejumlah pelawak yang seakan sedang "goyah" kepercayaan dirinya dengan mengeluhkan, bahwa pelawak itu malang karena tidak punya pensiun di hari tuanya; tidak punya asuransi kesehatan; menjadi warga negara kelas dua; tidak punya pelindung birokrasi; dan lain-lain. Bukankah ini sangat bertolak belakang dengan fakta yang sebenarnya, bahwa saat ini pelawak sangat disukai, digemari, dan dicintai penggemarnya -- dari kalangan mana pun.

Menjadi pelawak adalah sebuah pilihan. Seperti halnya menjadi aktor/aktris, seniman, karyawan swasta, atau profesi lain yang kenyataannya belum tentu masa tuanya terjamin, belum tentu dapat pensiun. Apakah masalah -- yang menurut hemat saya -- sangat "intern" dan hanya soal keterampilan hidup ini layak diangkat sebagai tema mayor dalam isyu-isyu pertemuan dan saresehan berikutnya?

Upaya pertemuan dan saresehan -- yang melibatkan baik birokrat maupun bukan -- tetap saja penting dan sangat bermanfaat sejauh targetnya menuju pada penajaman dan peningkatan aspek instrinsik maupun ekstrinsik bidang keprofesian. Dengan demikian, upaya-upaya itu jadi relevan bagi masyarakat, baik dari kalangan birokrasi maupun bukan birokrasi. Ini bukan meragukan iktikad baik penyelenggara pertemuan maupun pihak yang menjadi pembicara, namun lebih dari itu adalah upaya mendudukkan posisi dan proporsi yang sebenarnya, bahwa pelawak adalah tetap saja salah satu agen kontemplasi. Bukan agen praktis dari kepentingan apa pun.

Ia tetap harus berdiri dengan adil. Memihak kepada garis yang sudah difitrahkan kepadanya: sebuah atmosfir yang bebas dari kepemihakan praktis. Dengan demikian fungsinya terasa optimal baik bagi penguasa maupun rakyat. Toh, dua-duanya memiliki peluang untuk benar dan khilaf (termasuk pelawaknya sendiri). Tak lucu lagi kalau pelawak harus "memohon-mohon" proteksi birokrasi atau "menebak-nebak" posisinya ditempatkan sebagai warga kelas dua oleh masyarakat.

Semangat independensi pelawak dan upaya membangun rasa percaya diri yang sewajarnya adalah satu-satunya harta berharga untuk bisa tetap survive dalam meniti tangga profesionalisasi karier. Seperti halnya seniman yang lain, pelawak akan membuat kursi, kerajaan, dinasti atau "konglomerasi" sekalipun semata-mata atas upayanya sendiri. Bukan jatuh dari langit, bukan anugerah sebuah SK. Bing Slamet, Johny Gudel, Gepeng, Bagyo, dan lain-lain nama yang tak dapat disebutkan satu persatu adalah barisan sejarah pelawak yang inspiratif untuk dikaji dan direnungkan tahap-tahap perjalanan kariernya.

Atin Supriyatin, pengamat sosial budaya, tinggal di Jakarta.

The Sinking by Thomdean

Written By Admin on Tuesday, April 28, 2009 | 5:16 AM

Wahai Instan Permata

Oleh Darminto M Sudarmo

Mie instan, minuman instan, gelar instan dan banyak hal instan lain yang berlalu-lalang di sekitar kita, terasa tidak aneh lagi. Sebagian masyarakat bahkan menyikapi gejala itu dengan santai dan masa bodoh. Memang ada instan yang secara temporer dapat menjawab kebutuhan-kebutuhan mendadak kita; namun sebagian lain, kecenderungan instan justru makin menandai semakin merosotnya komitmen kita pada kualitas dan proses. Akan menjadi seperti apa bangsa kita ke depan bila kredo serba mau cepat dan tidak sabaran itu makin menjadi-jadi?

Jawabannya, mari kita lihat bersama-sama!

Dalam beberapa dekade yang lalu masyarakat banyak dikejutkan oleh peristiwa-peristiwa mengagetkan. Dari kasus mie instan yang beracun, penutupan tiga media massa cetak, debt collector yang menggila, ekspor fiktif, kenaikan tarif listrik, sampai gugat-menggugat perkara seputar sosok seorang pahlawan. Media massa ramai. Masyarakat pun, di tempat-tempat yang representatif: restoran, café kedai kopi, pub, kantin, dan lain-lain tak bosan-bosan menggosipkannya.

Salah satu fenomena yang menarik dari kecenderungan ini adalah tampilnya informasi sebagai power yang dapat menggiring tingkah laku dan kebiasaan masyarakat di komunitas tertentu. Lebih-lebih masyarakat metropolitan, yang secara esensial tak dapat "hidup" tanpa aktualisasi informasi.

Masalah satu belum tuntas, masalah-masalah berikutnya sudah timpa-menimpa. Head-line suratkabar, laporan utama majalah berita, silih berganti berteriak saling berebut pembaca. Demikian, terus-menerus, sampai akhirnya secara pelan tapi pasti, sementara masyarakat yang jeli, perlu menempatkan skala prioritas dalam menghadapi sergapan-sergapan informasi itu. Bagian-bagian informasi mana yang dianggap relevan dan perlu diakses. Informasi-informasi mana yang perlu ditempatkan dalam prioritas pelengkap.

Uniknya, dalam bioritme masyarakat informasi yang nyaris sudah terpola itu, ternyata juga dikagetkan oleh "dadakan-dadakan" lain yang tak kalah hebohnya. Yakni, lewat munculnya ledakan popularitas sejumlah "figur" instan yang tiba-tiba juga "berteriak" merampok perhatian masyarakat. Dunia kriminalitas, dikejutkan oleh munculnya kekerasan dan kekejaman yang kadang sampai membuat ngilu rasa sosial masyarakat karena si pelaku adalah orang yang sebelumnya tak pernah punya indikasi atau reputasi di bidang itu. Dunia perbankan dihebohkan oleh kasus kredit macet, yang buntutnya belum tuntas hingga kini. Dunia usaha, dunia kesenian, dunia selibritis, bahkan hingga kemunculan sejumlah "pakar" baru yang begitu mendadak di berbagai bidang dan sesudah itu lalu "lenyap" tak tentu rimbanya, praktis membuat masyarakat jadi cingak dan bingung meletakkan sikap dan tingkah lakunya.


Fenomena di atas adalah fenomena instan. Kecenderungannya serba sekejap dan kurang menggugah kesan mendalam. Makin beragamlah warna tradisi metropolitan. Tak beda dengan kesibukan lalu-lintas yang melintas laju maupun lambat dalam mekanisme keseharian, namun tidak membekaskan kesan berarti bagi warga sekitarnya. Kesan dan perhatian warga baru muncul ketika mekanisme itu tiba-tiba koyak karena adanya tabrakan kendaraan atau distorsi-distorsi temporer lainnya.

Apa sesungguhnya yang tengah terjadi di negeri ini, khususnya di kota metropolitan ini? Setiap hari ribuan orang dalam unit-unit kendaraan bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Pagi, siang, sore, bahkan malam. Semua bergerak dalam mobilitas sebagai manusia ibukota yang selama ini dikenal dinamis dan berdaya hidup tinggi. Apa yang dicarai dan didapatkannya? Mungkin tak penting benar untuk dipertanyakan atau dicari jawabannya. Tradisi ini adalah buah dari kesepakatan, bahkan kebutuhan komunitas masyarakat setempat.

Kalau di kemudian hari masyarakat menyadari, bahwa mereka telah menjadi "objek" dari permainan informasi, permainan image hasil rekayasa doktrin bisnis atau politis, apa itu perlu benar dipersoalkan. Berondong-bondong ke toko serba ada dan memborong barang sebanyak-banyaknya -- direncanakan atau tidak; dibutuhkan atau tidak -- toh mereka bisa menikmatinya. Semangat super konsumtif terhadap segala macam barang -- dari parfum sampai apartemen -- toh mereka senang, bisa menikmati, mampu dan apa salahnya menggunakan hak sebagai seorang warga negara yang dilindungi undang-undang.

Di banyak jalan, mobil-mobil pribadi yang memuat hanya satu atau dua orang dan masih baru, berderet-deret rela macet. Rela terhambat perjalannya. Toh meskipun macet, mobil ber-AC, jadi apa persoalannya? Apa urusannya dengan anjuran naik kendaraan umum di hari efektif kerja dan berkendaraan pribadi di hari libur? Pemilik mobil tak selamanya karena memiliki banyak uang. Ada yang harus menempuh lewat kredit, lalu mengangsur tiap bulan dengan konsekuensi mulut anak-istri-suami di keluarga harus betul-betul "puasa". Apakah kendaraan umum mampu menjamin keamanan dan gengsi? Sementara "tradisi" yang terlanjur hidup di metropolitan, hanya memandang dengan sebelah mata orang-orang yang penampilan fisik dan sarana mobilitasnya berada di kelas unprofitable

Ini mungkin gila Namun pelan tapi pasti, fenomena-fenomena itu kian mengkristal. Menambah kompleks dan tegangnya nilai-nilai sosial yang berlaku di masyarakat metropolitan, meskipun di sejumlah komunitas etnis tertentu, masih kuat memegang nilai-nilai sosial "lama" yang nyaman dan murah hati.
Andaikata harus dipertanyakan, kecenderungan nilai "baru" yang biasanya bergegas dan serba sekejap itu kian melebar dan mencengkeram tatanan-tatanan "lama", bagaimana masa depan nilai moral sosial dan budaya kota ini? Bagaimana kalau ditiru oleh kota-kota lain, bahkan diidolakan sebagai "proyek percontohan" yang mengundang pesona dan kharisma? Kita tunggu saja, apa yang akan terjadi lagi di ibukota tercinta ini.

Partai-partai instan, politisi-politisi instan, caleg-caleg instan, capres-cawapres instan, makin menambah riuhnya suhu udara yang sudah sangat pengap ini. Ketambahan lagi oleh harapan-harapan instan mereka yang setinggi langit, segede gunung, seluas samodra; lalu kenyataan sebaliknya pun datang mendadak secara instan. Sepertinya kita lagi berada di tahap mencari-cari jati diri, kendati ujung dari semua ujung itu tak lebih tak kurang hanya: mencari penghasilan. Tak peduli penghasilan itu berupa duit atau puji sanjung dan tepukan tangan.
Karena capek, maka mendadak saya tak dapat mengetik lagi. Ini namanya buntu instan!

More About Amir Taqi's World

Written By Admin on Sunday, March 22, 2009 | 8:34 AM









Amir Taqi
Amir Mohammed Taqi Ajam
Date of Birth 28th January 1973
Nationality: Iraq
EDUCATION
Bachelor Degree of Fine Arts � Drawing Faculty - Academy of Fine Arts �
Babylon, Iraq. 1991 - 1995
Training in comic drawing, illustration,
Inking � Disney Academia �
Milan, Italy 2002
FIELDS OF ACTIVITY
Painting, illustrator, cartoonist, caricaturist
Character Design

CAREER HISTORY
Experience:
Freelance Artist
Comics drawing for children's magazines. Portrait drawing for several publications (Newspapers & magazines).
Character Designer and Cartoonist
Disney � Jawa Enterprises � Dubai, UAE Oct 2002 � Jan2005
covers for Magazines and comic
Princess Magazine
Aladdin Magazine
SOFTWARE EXPERIENCE
Corel Painter
Adobe Photoshop
Adobe Illustrator
Adobe In design
Macromedia Flash

Amir Taqi and Doddy Iswahyudi

Written By Admin on Sunday, March 8, 2009 | 4:21 PM



Keunggulan seorang kartunis dapat ditentukan karena beberapa hal; di antaranya karena ide-idenya yang dahsyat dan menyengat. Dapat pula karena kemampuan teknik drawing-nya yang luar biasa dan bercitarasa khas. Luar biasa dalam arti, mencapai stilisasi yang utuh dan tuntas.

Sekadar contoh, dua orang kartunis dengan karyanya masing-masing, yaitu Amir Taqi dari Irak, yang menggambar wajah Steven Spielberg dan Doddy Iswahyudi dari Indonesia dengan gambar mobil, yang dalam kasus ini memiliki daya tarik tersendiri karena teknis pengolahan gambarnya sangat memikat; dua kartun tersebut dapat menjadi bagian dari model; bahwa dalam bekerja seorang kartunis juga punya tanggung jawab mengantarkan visual hingga titik tinta paling akhir. (Odios)

Tsunami dan Peniup Seruling by Zerinski, Ukraina

Written By Admin on Sunday, March 1, 2009 | 2:30 AM




Pojok Media, Dari Lucu ke Somasi Analogi

Written By Admin on Thursday, February 26, 2009 | 3:18 AM

Setuju atau tidak, pojok dari sebuah media memiliki arti yang sangat khusus bagi pembaca bergegas. Sifatnya yang ringkas, lengkap, dan aktual menjadi salah satu rujukan isi. Sementara guyonan, sindiran, kritik sebagai respons atau komentar dari media bersangkutan terhadap satu peristiwa menjadi pengikat bagi pembaca media tersebut.

Pojok sering juga disebut sebagai karikatur dalam bentuk kata-kata. Ada yang menggiring istilah karikatur kata-kata tersebut sebagai ’karikata’—sayang isitilah ini kurang bergaung. Ada yang menggolongkan pojok sebagai tajuk singkat sebuah media.

Apa pun istilah yang sepatut dan seharusnya disandang, hal paling penting dari sebuah pojok ialah kemampuan memilih topik dan komentar yang menyertainya. Ada media yang lebih suka memilih topik-topik besar dan klise (misalnya soal tokoh-tokoh politisi atau pemerintah). Ada pula yang lebih suka memilih peristiwa-peristiwa khas dan menarik perhatian publik. Dan, tak kurang pula yang lebih memilih komentar-komentar para ahli yang menyentak perhatian.

Pembaca yang cermat, hanya dengan membaca pojok, akan sangat paham ke mana visi dan misi media yang bersangkutan bertiup. Nyaris, hal sama dirasakan oleh pembaca saat menyimak editorial atau karikatur. Ekspresi yang muncul itu menggambarkan garis-garis global tentang yang do (boleh dilakukan) dan do not (tidak boleh dilakukan) media bersangkutan.

Apakah itu ada kaitannya dengan masalah ideologis atau masalah yang kadang hanya teknis, segala sesuatunya dapat saja terjadi. Apa yang berkaitan dengan masalah ideologis, tentu pembaca semua sudah sangat maklum. Namun, yang berkaitan dengan masalah teknis terkadang bisa saja justru lebih rumit dan lebih katro daripada masalah ideologis. Misalnya, yang berkaitan dengan power atau citra (politik). Pemegang saham, penyantun finance, atau siapa pun yang secara etik internal, the real atau the invisible man tersebut dianggap sakral kedudukannya.

Pada akhirnya, bagi penulis pojok, bila perspektif dan jam terbangnya terbatas, ditambah lagi memiliki kekhawatiran menulis salah, dijamin komentar yang muncul pasti tidak lucu alias klise. Atau, cenderung berkomentar yang asman (asal aman). Inilah, kalau diizinkan, saya akan membuat semacam ’tipologi pojok’ berbagai media dalam merespons atau memberi komentar kasus yang sama.

Tipologi pojok media

Pertama, misalnya Media A mengangkat topik: "MK putuskan, calon perseorangan dapat ikut pilkada…."; Komentar yang muncul: ditunggu realisasinya…! Kedua, misalnya Media B mengangkat topik: "MK putuskan, calon perseorangan dapat ikut pilkada…."; Komentar yang muncul: yang bernyali besar dan berduit!

Ketiga, misalnya Media C mengangkat topik: "MK putuskan, calon perseorangan dapat ikut pilkada…."; Komentar yang muncul: partai enggak dapat setoran dong! Keempat, misalnya Media D mengangkat topik: "MK putuskan, calon perseorangan dapat ikut pilkada…."; Komentar yang muncul: independen, murah, tak perlu tim sukses! Kelima, semisal Media E mengangkat topik: "MK putuskan, calon perseorangan dapat ikut pilkada…."; Komentar yang muncul: wah, pasti ada yang enggak rela dan kebakaran jenggot!

Tipologi untuk kasus-kasus pojok di atas adalah tipologi dari kemungkinan-kemungkinan penulis pojok dalam mewakili sikap medianya, mengambil posisi dan di mana ia menempatkan diri. Anggap saja contoh di atas adalah fiktif, tetapi hal paling dirasakan oleh pembaca setelah menyimak komentar pojok adalah: ke mana angin visi dan misi sebuah media bertiup. Ada media yang lebih condong membela pemerintah; ada yang lebih condong membela kaum pemodal; meskipun tak kurang pula yang gigih membela kaum duafa (masyarakat yang tak berdaya, miskin, rakyat yang terpinggirkan).

Di bagian lain terkadang muncul kendala dalam memunculkan komentar pojok yang cerdas, lucu, dan bernas. Tidak selalu karena faktor-faktor do dan do not tadi, tetapi bisa jadi karena masalah yang sangat elementer: belum menemukan orang yang tepat.

Wawasan yang luas dan rasa humor yang baik tidak dapat diperoleh dari diklat yang hanya tiga bulan, misalnya. Lugasnya, tugas itu harus diserahkan kepada redaktur senior yang memiliki jam terbang memadai, kreatif, dan memiliki rasa humor yang bagus.

Ternyata, pilihan secara intuitif seperti ini belum juga menyelesaikan masalah. Dari catatan yang ada, menulis lucu (lelucon) itu bukan pekerjaan mudah. Selain kompetensi intuitif tadi, masih diperlukan kemampuan teknis (strategi) agar pilihan kata-katanya tepat, nuansa dan kejutan yang ingin dicapai pas.

Teori Arthur Koestler yang sangat tua mengatakan, "The essence of recreation is re-creation". Makna sebenarnya dari rekreasi adalah penciptaan kembali. Arti lugasnya, bila pembaca juga dilibatkan dalam penciptaan lelucon di pojok, komentar yang muncul di pojok itu akan menjadi bagian dari karya pembaca. Dengan kata lain, pembaca juga ditantang untuk ikut memikirkan kata-kata yang muncul agar intelegensi dan imajinasi pembaca merasa dilibatkan dalam proses penciptaan itu. Komentar-komentar pojok yang justifikatif, memastikan kemungkinan dialog, berkemungkinan kurang memberikan kesan apa-apa bagi pembaca.

Harus baru dan beda

Ada teori yang menganjurkan agar penulis lelucon membebaskan diri dari belenggu pengertian tentang benar dan salah. Agar muara karyanya menuju pada lucu atau tidak lucu. Bukan, benar dan tidak benar.

Pencetus teori yang yang lebih galak dan lugas justru menganjurkan supaya mencapai efek kejut dan surprised yang prima, tulisan itu harus baru dan beda! Dalam peta wacana nasional, salah seorang tokoh yang suka berkomentar (lisan) baru dan beda ialah Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid).

Teori yang berkembang di negeri kita melarikan seluruh persoalan ke dunia analogi. Di sana ada dunia yang aman bagi kreativitas dan kenakalan-kenakalan. Tak heran, bila "Republik BBM" sampai "News dot Com" cukup mengguncang publik. Namun, pihak yang tersindir tak dapat berbuat apa-apa, apalagi menuntut. Dan, menyomasi dunia analogi merupakan kekonyolan yang sama sekali tidak lucu. Delik hukum mensyaratkan bukti-bukti faktual otentik. Lha, bukti dari dunia analogi? Hanya mungkin dibenarkan jika pengadilannya juga dari dunia analogi.

Sementara itu, teori yang melihat seni menulis lelucon dari kacamata kreatif murni lebih cenderung menganjurkan si penulis mengasah diri pada teori Mind Map (Peta Pemikiran). Teori ini dapat mengembangkan sebuah obyek atau terminologi menjadi tak terbatas dari aspek kuantitas.

Terminologi tentang ’karet’, misalnya, dapat menjadi ban mobil, sendal jepit, perkebunan, dan sebagainya. Hal yang perlu diperhatikan ialah saling adanya relasi topik dan logis. Teori ini memungkinkan pekerja kreatif, tak terkecuali penulis pojok, kehilangan atmosfit dan perspektifnya. Dengan demikian, ibarat dalang, dia tidak kekurangan lakon!

Darminto M Sudarmo Penulis dan Mantan Pemred Majalah Humor

Amir Taqi's Works

Amir Taqi's Works

Popular Posts

Related Blog or Site

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kostum - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger | Distributed by Rocking Templates