Headlines News :

The Winners Are......???!!!

The Winners Are......???!!!
Caricatures by Amir Taqi, Irak

Latest Post

Showing posts with label Tandi Skober's Note. Show all posts
Showing posts with label Tandi Skober's Note. Show all posts

DEBAT PESINDEN, ke Mana Contreng Kualamatkan?

Written By Admin on Saturday, July 4, 2009 | 1:28 PM

Kartun Maulana Wahid Fauzi



Oleh Tandi Skober

Pemred Foeza Hutabarat cuti rindu, Redpel Kardy Syaid hunting ke Kelantan Melayusia. Reni Teratai Air sedang uring-uringan berkolbu keriting. Kantor Bu Letin kosong, nol! Untung ada Raja Joke Darminto M Sudarmo. Aku dikasih tiket kopaja, lima batang rokok jarum coklat dan ‘sego kucing johar’ Terus? “Liput debat Presiden!”perintah Darminto.

Berikut laporanku tanpa suntingan sana-sini oleh Redpel Kardi Syaid.

Kelir membentang panjang dipilari jejer wayang poyang-payingan. Patung Pancasila berada di tengah kelir. Tak jelas kelamin burung garuda itu jantan atau betina. Tapi, konon, sejak adanya burung Gerindra Prabowo, kepala burung Garuda itu kerap manggut-manggut penuh nafsu. Tidak dijelaskan juga, apakah nafsu untuk berantem atau untuk bersenggama. Yang pasti ruang debat iu ditata dalam konsep ‘The Dark Indolence Indonesia’

Sang Moderator mengenakan sarung motip mega mendung cirebonan. Kenapa pakek sarung? “Ini agar Burung Garuda dan Burung Gerinda ngerti betul bahwa dalam kehangatan dan kelonggaran sarunglah pesona Indonesia akan bertebaran hingga ke manca negra. Bandingkan kalau pakek celana panjang ketat gaya Eropah, Burung Garuda akan terjepit, tidak bisa bergerak, lecek, mingslep, meratap sukma. Emang sih, agak sedikit lega, apabila sang pemiliknya, sekali dalam lima tahun, melaksanakan kencing. Kancing dibuka, kencingpun kencang berlari.

”Apa artinya? Inilah inti demokrasi khas sarung!” ucap sang moderator yang di dahinya ada stempel warna hitam sujudi bernama Diding Karyadi.
Tak jauh dari Diding Karyadi terlihat tiga kandidat pesinden yaitu Susilowati, Megawati dan Kalawati. Pesinden nan tiga itu dipastikan berwajah Indonesia. Susilowati, misalnya, terlihat lembut, ada andeng-andeng di dahi sebelah kirinya, tutur tinularnya begitu pelan, ragu tapi terarah. Tiap kali kehilangan kata, matanya kerap melihat ke atas.

Akan halnya Megawati, berwajah keibuan yang melancholis. Andeng-andeng di dagunya menyiratkan rindu surga ada di Indonesia. Matanya nyanyikan sunyi yang jauh. Gerakan tangannya menyiratkan keprihatinan nasionalisme.

Kalawati? Wow! Ini cewe cerewet yang kenes, cerdas, langsing, mengingatkan aku pada Putri Guri Lawang dalam mitos Cirebon Kuno. Konon, siapapun yang menjadi suami putri Guri Lawang, dijamin akan selalu menyediakan gas oksigen di samping tempat tidurnya.
Baiklah, berikut pemaparan masing-masing kandidat.

SUSILOWATI: Kalau saya diberi amanah menjadi pesinden Indonesia, maka akan saya tembangkan lagu-lagu pop cendekia yang enak didengar, enak dilihat dan enak dimakan. Indo Mie itu enak dilihat loh. Juga enak didengar…’indomiiiiii, presidenku.! Juga enak dimakan. Kenapa? Harganya murah…

MEGAWATI: Loh! Piyo toh sampeyan itu. Wong rakyat suka dibohongi. Iklan di televisi yang namanya indo mie itu ada ayamnya, ada telornya ada irisan tomatnya. Rakyat jadi ngiler. Lah pas dibeli di warung, ga ada ayam, ga ada telor, ga ada irisan tomat. Yang ada ya hanya mie keriting ngeringkel tok! Makanya jangan bohongi rakyat dengan iklan.

KALAWATI: Maaf diajeng Susilowati, maaf. Sebagai orang yang berbudi dan bertatasusila yang baik, maaf diajeng, maaf, sebaiknya tidak menyanyikan lagu yang mendayu-dayu …’indomie presidenku,’ Tapi diakhiri dengan bentakan kalimat ‘lanjutkan!!!’ Ini mengagetkan para pemirsa televisi. Maaf, diajengm maaf. Yang tadinya rakyat Indonesia merem-melek mendayu-dayu, mendadak bangun saat maaf diajeng maaf, ada bentakan “Lanjutkan!!!!”

MEGAWATI:Wong sudah habitatnya. Dirayu-rayu diakhiri dengan bentakan.

DIDING: Stoppp dulu. Barangkali Susilowati mau buat sanggahan?

SUSILOWATI: 231 juta rakyat indonesia pasti punya mimpi. Sebagai pesinden harus menyanyikan lagu-lagu agar impian-impian itu terjadi pada saat rakyat Indonesia tertidur. Namanya saja mimpi yah harus mimpi yang enak-enak. Mimpi makan ayam, mimpi makan telor, mimpi makan rendang. Lantas agar tidak larut dalam mimpi maka perlu bentakan ‘Lanjutkan!!!!” Itu agar rakyat tahu bahwa semua itu hanya mimpi…

DIDING: Waktu habis. Sekarang Megawati.

MEGAWATI:Begini ya Pak Moderator. Kalau saya jadi pesinden, maka saya akan nyanyikan lagu-lagu kebangsaan. Dimana Indonesia itu dibangun atas dasar substansi kebangsaan itu sendiri. Ibu pertiwi dimana banyak hal yang pernah berjuang untuk menegakkan UUD 45 dengan tetesan darah daripada subsantansi para pejuangangnya. Sebagaimana contoh 1908, 1928, 1945 banyak hal yang dapat dijadikan contoh. Soalnya lagu-lagu kebangsaan itu substansinya akan membangkitkan semangat menjadi mandiri. Jadi kerakyatan yang mandirilah…

SUSILOWATI:Saya setuju dengan diajeng Mega. Rakyat kita perlu mandiri yang dinaungi lagu-lagi heroisme, patriotisme dan tembang kebangsaan. Sebagai pesinden kita semestinya menyanytikan lagu-lagu itu. Maka jadilah orang yang memiliki semangat kebangsaan bukan semangat pedagang..

KALAWATI: Maaf diajeng, maaf. Kalimat itu tidak etis untuk diucapkan. Etos pedagang itu sangat perlu. Sebagai pedagang harus tidak ragu bertindak cepat. Maaf, diajeng, maaf. Diajeng suka ragu. Diajeng masih berpikir begini begitu, sementara orang lain sudah bertindak cepat, segera dan sukses. Artinya, maaf diajeng maaf, pesinden yang ragu untuk menyanyikan sebuah lagu pada akhirnya akan menghasilakan apa yang disebut ketidakpastian. Tapi saya sependapat dengan diajeng Megawati.

DIDING: Waktu habis. Barangkali Megawati mau mengklarifikasi.

MEGAWATI:Baik Susilowati maupun Kalawati esensinya sependapat dengan saya, jadi secara substansial saya yang benar.

DIDING: Kini giliran Kalawati

KALAWATI: Kalau saya menjadi pesinden saya akan nyanyikan lagu-lagu dangdut jazz! Kenapa? Karena dangdut itu menyegarkan, menghibur dan luar biasa. Ingat, 8 dari 5 warga Indonesia suka dangdut. Tapi agar bisa dimengerti bangsa-bangsa lain, yah kita modifikasi dalam format jazz!

Mendadak Susilowati dan Mega mendekati lebih dekat lagi Kalawati. Diding tampak bingung. Apalagi saat Kalawati menyanyikan lagu Fatwa Pujangga karya Said Effendi

T'lah kulihat iklanmu berlalu
Penuh sanjungan kata merayu
Syair dan pantun tersusun indah, sayang
Bagaikan madah fatwa pujangga

Tapi sayang sayang sayang
Seribu kali sayang
Ke manakah pilihan
Nak kualamatkan

Bandung, 3 July 2009
Tandi Skober adalah penulis novel “Pelacur, Politikus dan He He He “




Telor Calon Suami, One Day in Your Live


Oleh Tandi Skober


“Jangan tulis politik,” itu SMS cuti Pemred Foeza Hutabarat. “Edisi Ahad mesti ringan dicerna,”itu SMS hunting Redpel Kardy Syaid. “Gw mo bobo selahat bareng Mikhael Jackson,” itu SMS resah sekretaris redaksi Reni Teratai Air. “Aku lagi kelangan kelingan kenangan sing ilang,” itu SMS kasamaran Pemimpin Umum Darminto M. Sudarmo. Aku? Tepojok di sudut gelap membolak-balik berkas opini yang masuk. Akhirnya aku temui klipng berita seputar kisah kasih tak sampai gara-gara telor calon suami.

Medan, Padang Bulan, 31/4/1980, Bu Letin
Cintaku pada Derisna tak akan lekang hilang ditelan zaman. Pagi itu, aku jadi temanten diiringi Coking Susilo Sakeh,YS Rat, Izharry Agus Jaya, AA Bungga, Nina Zuliani, AS Atmadi, Damiri Mahmud, NA Hadian, D Rifai Harahap, Idris Pasaribu, Atok Ai, Sugeng dkk melangkah menuju pesta nikah di rumah temanten wanita di Pandang Bulan, Medan.

Mataku penuh cinta memandangi mempelai wanita bernama Derisna itu. Derisna baru saja lulus SMP. Aku sudah bekerja di Kantor Perbendaharaan Negara Medan usai lulus SMEA. Ketika Aminuddin Anhar bertanya, “Kenapa kawin muda?” Aku bilang,”Aku sudah mimpi basah. Daripada tiap malam mimpi basah sekalian saja mandi basah.” Ini pas banget dengan ucapan ustad A Rahim Qahhar bahwa kawin muda itu mencegah perbuatan keji yang tak terpuji. Terlebih lagi LSI (Lembaga Sex Indonesia) menyebut angka 7 dari 10 pria berusia antara 20 s/d 25 tahun yang belum beristri, setiap kali mandi menghabiskan waktu lebih dari 23 menit dibandingakan dengan yang sudah beristri yang hanya membutuhkan waktu hanya 13 menit.

Rombongan pengantin pria disambut adat Jawa Deli ‘Sawer Jaran Guyang” ditimpali gamelan pujakesuma pimpinan Choking Susilo Sakeh “Bendrong Alon Centhini Itil” Seorang pesinden buruh pabrik sawit lemah gemulai tetembangan “Yen Bulan Ndadari”.

Mataku tak jua berhenti memandangi Derisna. Ia mengenakan kebaya putih, sarung putih berhiaskan melati putih. “Nikah itu sesuatu yang suci ya Kang Tandi,”suaranya lirih saat aku pastikan bahwa hanya Derisna yang dari kemaluannya akan nongol anak-anakku, kelak. Ah! Derisna tersenyum. Senyum yang mengingatkan aku pada lengkung pelangi, usai germis senja membasahi tanah gelisah Padang Bulan, Medan, Sumut.
Aku dan rombongan kini berhenti di depan pelataran rumah Derisna untuk mengikuti prosesi injak telor. “Injak telornya slow motion ya, “ucap Idris Pasaribu juru potret Skh. Analisa merangkap calo karcis bioskop Mayestik Medan”Itu agar aku dapat gambar kaki kau!”

Aku mengangguk hormat.

Syarifuddin Dalimunthe dari pihak mempelai wanita bercerita tentang kandungan falsafah dari prosesi ‘injak tel;or’ itu. “Kenapa yang diinjak telor, bukan kerupuk atau rempeyek? Itu karena dalam telor banyak kandungan gijinya. Seperti tertulis dalam UUD 1945 pasal 7 ayat 2 bahwa diwajibkan atas kamu memakan telor setengah masak sebelum kamu menggasak-nyogok istri-istri kamu. Sementara pasal 8 ayat 9 menjelaskan bahwa para pria yang tidak memiliki dua telor di trijilannya dipastikan termasuk katagori pria terkebiri. Pria jenis ini, seperti termaktub dalam pasal 24 ayat 3 dipastikan mandul. Inilah esensi dari prosesi injak telor.”

Kamipun tepuk tangan. Derisna melihat di bawah pinggangku. Aku meraba anuku. Hmm, ternyata dipastikan aku bukan termasuk jenis pria seperti termaktub dalam pasal 8(9) dan pasal 24(3) UUD 1945.

Di depan kakiku, kini ada sebutir telor di atas talam berwarna putih. Mempelai perempuan duduk membawa ceret antik berisi air. “Seperti djelaskan dalam UU Perkawinan pasal 9, diharuskan mempelai pria menginjak telor dan mempelai wanita membersihkan kaki suaminya dari isi telor itu degan seceret air kembang tujuh warna,”sambung Syarifuddin Dalimunthe,” Maka atas nama kisah-kasih Tandi-Derisna, acara injak telor dimulai!

Derisna tengadah memandangku, tersenyum. Oh! Bibir itu, sekali tempo, pernah ingin aku cium. Tapi ia menolak halus, “Kisah kasih kita, Kang Tandi. Harus seputih telor. Meski warna merah dan putih ada dalam satu telor. Tapi tetep ada barzah! Ada batas yang tidak bisa mencampurnya warna merah dan putih. Kelak, saat kita resmi menjadi suami istri, jangankan bibir atas bibir bawahpun sudah milik kang Tandi,”ucap lirih Derisna.
Maka telapak kakiku menginjak telor.

Telor pecah! Dan? Ternyata dalam telor sudah ada ‘pitik’nya. Telor bungker!

Aku kaget! Derisna kaget! Rombonganku juga kaget!

“Batalkan pernikahan!”teriak Choking.

“Gila! Ini pelecehan!”teriak Sugeng.

“Ini sebagai isyarat bahwa mempelai wanita sudah hamil!”teriak Izharry Agusjaya.

Aku ditarik ke belakang oleh R Mulia Nasution. “Apakah abang sebelumnya pernah menggauli wanita itu?” tanya Mulia.

“Loh ya ndak lah! Wong ciuman saja ga pernah.”jawabku jujur.

Idris Pasaribu langsung tolak pinggang.

“Nikah gagal!”

Syarifuddin Dalimunthe marah besar. “Ini soal teknis! Juga tidak diatur dalam UUD 1945 maupun UU Perkawinan bahwa penikahn dianggap tidak sah dan gagal apabila telor yang diinjak ada pitiknya. Telor bungker!”

“Pukimak semua! Bubar! Bubar! Pulangggggg!” teriak rombongan mempelai pria.

Derisna menangis, pingsan!

SEPI menepi di kaki langit.

Aku tulis gelisahku di lintasan angin.

“Dinda Derisna, sampai saat ini, aku tidak pernah bisa memaafkan diriku sendiri. Pada saat aku membeli telor itu, agar hemat, sengaja aku beli telor yang bungker. Lebih murah dibandingkan telor yang baru ditetaskan…….”

Bandung,5 July 2009 @ 09:43:01


Tiga Tulisan Gila Tandi Skober

Written By Admin on Wednesday, June 17, 2009 | 11:22 PM




LSI, SBY-BERBUDI DAN DARMINTO
Sebuah Investigasi Juranlistik ke Papua

Presiden Republik Humor Indonesia berkelamin lelaki bernama Darminto M.Sudarmo mendadak sidak ke Bu Letin. Ada apa? “Ini soal LSI,”ucap beliau,”Dari berbagai survey menempatkan Susilo Bambang Budiono menjadi nomor satu! Angka 70% angka fantastis! Tapi kenapa pada akhirnya tidak begitu? Ada apa dengan LSI?”
“Maaf, Tuan Presiden,”ujar Kardy Syaid,”Menganalisa hasrat hajat rakyat tidak bisa cuma melalui kuis, matrik dan bernara sumber telpon. Itulah sebabnya LSI…”
“Iya tapi kenapa Papua yang akhirnya menjadi pemenang?”potong Darminto,”Kenapa Jayapura? Kenapa Wamena? Kenapa tidak Persik Kediri? Kenapa tidak Persija Jakarta? Kenapa tidak Persib Bandung? Lah malah PSIS Semarang terpurukkkkkkk? Kenapaaaaaa?”
“Nuwun sewu, Tuan Presiden,”ucap Reni Teratai Air seraya menyodorkan sego kucing pasar Johar Semarang kesukaan Darminto,”Survey LSI itu emang menempatkan SBY Budiono di tempat yang terbaik. Pilpres cukup sekali putaran saja. Langsung jreng SBY jadi presiden. Lah, kalau hasilnya ternyata lain, ternyata Jayapura berjaya! Bahkan Wamena juga kalahkan Medan 5-0 singkirkan Persib….ini semata-mata soal ndilalah kersaning Gusti Allah.”
Darminto mengekrenyitkan dahinya. “Jadi benar bola itu bundar? Lain di atas kertas, lain pula di atas sajadah shalat.”ucap Darminto, lega.
Darminto kini melirik Foeza Hutabarat.
“Foezaaaaaaa,”tiba-tiba Darminto berteriak,”Adakan investigasi kultural antropoligialisme di Papua! Ada apa dengan jiwa manusia Papua.”
“Punten maaf, Tuan Presiden,”potong Kardy Syaid,” Kalau namanya masih Irian Barat, memang pantas yang invenstigasi Foeza Hutabarat. Sekarang namanya Papua….jadi gimana kalau Paitua Tandi Skober yang terbang ke Papua?”
Berikut laporan Tandi Skober langsung dari puncak Gunung Kebar, Manokwari Papua!

AIR MATA PAPUA
Fafisu saswar ku bena ro Pasir Putih, syambilab isyof fioro imnisra bom Umsini. Na byekakop beyuser ro wamo Manokwari, Ifar maimnis rusa bero abris Rendani.
(Kisah kasih kita di Pasir Putih,
teguh abadi seperti Gunung Umsini.
Akan terukir lintas angin Manokwari,
berlari bagai rusa di rumput datar Rendani.)

SUARA ini meski samar selalu hadir di telinga Karel Yewun. Lirih. Mengalir dan sendu. Dan ini amat dinanti Karel setiap kali bulan purnama melintasi lengkung langit pantai pasir putih Papua- Manokwari. Seperti malam ini, dan juga ratusan malam sebelumnya, Karel Yewun, lelaki berusia senja itu tetap duduk di hamparan pasir putih, menatap bulan purnama yang merangkak
di kaki langit malam, mencahayai pulau kecil Marsinam. Ia kumpulkan pasir, menatanya lantas berteriak: "Kitorang hilang! Laut telan saya punya maitua! Derisna kembalilah ke Tanah Papua."
Itu nama istrinya. Dan itu pula yang ia teriakkan ulang di istana pasir itu, terus-menerus. Di sini ada derita dan penantian panjang yang meletihkan. Meski begitu Karel percaya bahwa Derisna itu masih ada di suatu tempat, entah di mana. "Tuhan tentu tidak tidur," bisiknya seraya pelan-pelan menabuh tifa, "Suatu saat Derisna pasti dilepas dari persembunyian takdir."
Karel tengadah mencari Tangan Tuhan. Tapi, seperti ratusan malam sebelumnya, ia cuma melihat kesunyian bulan purnama. Dan didekapnya tifa, ditabuhnya amat teratur mengiringi nyanyian sunyi lelaki tua di tepi laut: "Fafisu saswarku bena ro Pasir Putih, syambilab isyof fiaro imnisra bon Umsini, Na byekakop beyuser ro wamo Manokwari, ifrar maimnis rusa bero abris Rendani."

***

ITULAH deret kalimat yang kutulis atas nama negeri sunyi Kasuari. Mungkin sebuah catatan kecil. Tapi selalu saja imajinasiku macet. Dan tak pernah bisa saya selesaikan, meski cuma dalam format cerita pendek. Soalnya, "Karel Yewun itu tidak sekadar cerpen," laporanku ke Darminto M.Sudarmo, "Ini sejenis nestapa manusia ketika jembatan kinasih ambruk dan trauma prahara tanah Papua masih melintas-lintas."
Benar, Karel Yewun tak sekadar cerpen! Adalah lelaki berusia senja yang dengan cara aneh memasuki garis nasibku dan menggiringku pada perumitan lakon kisah kasih yang tidak kumengerti.
Awalnya cuma saling pandang di dermaga pelabuhan Manokwari, Papua.
Sore itu sorot matanya tajam. Menatapku hangat. Ia memanggul pohon pisang dan berkali-kali menepuk bahuku. "Bapak apa lihat saya punya maitua-kah?"tanyanya, "Namanya Derisna. Kapal ini pasti membawa Derisna. Bapak bisa tolong saya bawa ke atas kapal. Nanti Bapak boleh ambil saya punya pisang."
Sesaat saya terhenyak. Hari pertama di bumi Papua menjadi amat spesial.
Saya mengangguk. Dan kubawa lelaki tua itu ke atas kapal. Tapi, nihil!
Perempuan itu tidak ia dapatkan. "Ah, Tuhan belum melepaskan maitua-ku,"ucap lelaki tua itu lesu. Dan dengan langkah lunglai ia tinggalkan saya begitu saja.
Tentu saja saya kecewa. "Ah, tak mesti kecewa, Skober," ucap Inyo Koirewa, temanku dari Cendrawasih Post, "Karel Yewun memang aneh. Setiap kali kapal berlabuh dipastikan ia ada di dermaga kapal. Ia yakin kapal itu membawa istrinya pulang."
Saya manggut-manggut. Tidak cuma di Papua, di hampir semua negeri kadang didapatkan orang-orang aneh. Tapi, Karel tidak cuma aneh juga cenderung absurd. Ini saya ketahui minggu siang, di sebuah bukit Jipang. Di sini saya lihat Karel duduk di akar pohon matoa. Matanya sunyi menatap dua tiang bendera yang dibuat dari bambu.
Saya terkejut. Soalnya bendera yang dikibarkannya itu adalah Bendea Bintang Kejora dan satu laginya bendera Republik Indonesia. Dua bendera itu meski lusuh dan kumal tapi masih memiliki pesona kultural.
Karel Yewun juga terkejut ketika bahunya saya tepuk. "Apa kabar Paitua?"sapaku.
Lelaki itu berdiri. Tubuhnya gemetar. Mulutnya terkatup rapat. Menggigil ketakutan. Ia segera mundur, membuat jarak denganku. Saya saksikan matanya menyiratkan rasa takut yang luar biasa. Ia cepat-cepat mencabut dua tiang bendera itu sekaligus. Usai itu. Karel memeluk kakiku, erat-erat.
Meratap, "Ampun, Bapak. Derisna itu maituaku. Ini cuma bendera kami punya cinta. Betul, Bapak. Saya adalah Irian, ikut Republik Indonesia, anti Nederland. Biarkan kami hidup. Ampun, Bapak. Ini bendera Bintang Kejora tapi juga Merah Putih, Bapak."
Bah! Apa sebenarnya yang terjadi? Ini membuatku terbingung-bingung.
Saya duduk berhadap-hadapan. Saya pandang amat dalam matanya itu.
Ia menunduk, memegang erat dua bendera itu. Saya sadar, dalam diri lelaki ini ada trauma masa lalu. Trauma dan rasa takut yang tidak bisa ia taklukkan.
"Tolonglah, Bapak," ucapnya lagi, "Derisna itu hidup saya. Bapak boleh ambil saya punya pisang, tapi beri kami hidup, Bapak."
Saya menghela napas dalam-dalam. Ada duka yang sulit saya tulis dengan tinta berdarah sekalipun. Terlebih lagi ketika lelaki tua itu menciumi selendang mega mendung. Ia menangis. Meratap. Menyebut nama Derisna terpatah-patah.
Saya pegang kedua tangannya, "Pandang mata saya, Paitua," ucapku, "Nama saya Tandi Skober. Saya dari Jurnalisme Gerr, Bapak... Paitua tidak usah takut."
"Bapak itu pendatang? Jawa-kah?"
Saya mengangguk. Tapi, Karel mundur beberapa meter. Saya makin tak mengerti. Saya coba merogoh kantong celanaku, berniat mengambil rokok. Anehnya, ia terbelalak. Ia melihat kantong celanaku. Dan ketika mancis korek api bentuk pistol-pistolan itu saya keluarkan, lelaki itu langsung
lari,seraya berteriak, "Ampun Bapakkkkkkk!"
Lari, lari, dan terus lari!
Ini aneh!
"Itu tak aneh," ucap Robert Kawer suatu sore seraya memandang pantai pasir putih Manokwari. "Sudah dua puluh sembilan tahun Karel ditelikung trauma masa lalunya."
"Sudah tiga puluh sembilan tahun?"
"Betul, Bapak. Tepatnya sejak 1969."
Saya sedot kretek dalam-dalam. Kulayangkan pandang merayapi pantai indah ini. Dan astaga, di ujung selatan Pantai Marsinam saya lihat Karel Yewun.
"Itu Karel, kan?"
"Betul. Di kota ini cuma ada satu lelaki tua yang selalu membawa tiang bendera, ke mana pun pergi. Istrinya itu anak tentara Jawa."
Saya mengangguk. Dan pelan-pelan saya melangkah mendekati Karel. Di sini, ternyata ia sedang membuat rumah-rumahan dari tumpukan pasir. Dua tiang bendera ia jadikan pilar pembatas `istana pasir` itu. Ia tampak ceria. Saya dekati tapi ia tak peduli. Bahkan kini dituturkan menolog sunyi. "Kisah kasih kita, Derisna adalah pasir putih tanah Papua. Laut akan menjadi pengikat cinta, dan ombak menjadi tikar harapan masa depan kita."
Sesaat ia tersenyum. Ia sepertinya sedang membelai anak-anak rambut Derisna. "Ah, tidak," ucapnya lagi, "Mustahil Abang tinggalkan tanah ini. Negeriku adalah pasir putih. Indah setiap kali disentuh cahaya matahari. Kukuh bagai deret Pegunungan Arfak. Dan? Ah, kamu salah, Derisna.
Ini istana pasirku. Kamu lihat kan?"
Karel tertawa. Ia kumpulkan pasir sebanyak-banyaknya. Dan dengan amat cekatan tumpukan pasir itu dibentuk sedemikian rupa laksana istana mewah.
"Lihat istana ini, Derisna. Kita akan membangun rumah mewah di tepi laut. Hingga setiap bangun pagi kita akan melihat batas langit, mendengar suara ombak dan merasakan sentuhan angin pantai dari Pulau Marsinam. Lihat, Derisna."
Kini lelaki itu merenggangkan tangan lebar-lebar. "Lihat ini Papua, Derisna. Luar biasa, indah. Tuhan menciptakan Papua dari permadani hijau Nirwana. Maka kabarkan pada orang tua kamu bahwa kamu dipersunting lelaki surga bernama Karel MP Yewun!"
Saya hela napasku, dalam-dalam. Ekspresi wajah Karel amat impresif. Tapi itu cuma sesaat. Pada saat lainnya, lelaki itu mendadak tengadah. Pesawat Merpati dari Bandara Rendani melintas meninggalkan suara gemuruh yang deras. Karel Yewun cemas. Dan, menutup telinganya rapat-rapat. "Pesawat iblis!" Karel berteriak. Ia cabut tiang bendera dan berlari amat kencang.
Saya geleng-geleng kepala. Masih sempat saya dengar teriakan Karel, "Lari, Derisna! Lari! Ayo lari! Itu pesawat setan! Itu pesaweat tentara Jawa yang bom bom bom! Biarkan istana pasir itu hancur. Kita harus lari! Kita tidak boleh mati. Lariiiii!"
Ketika saya ikuti, ternyata Karel bersembunyi di sebuah terowongan peninggalan tentara Jepang. Ia ketakutan. Dan ia memeluk sesuatu yang tak jelas. "Abang akan memelukmu, Derisna. Sampai kita tidak lagi mendengar suara maut itu. Iya, sayang. Abang akan tetap memelukmu. Duduk kamu agak ke kiri, Derisna. Nah, di sini. Aman."
Hingga malam hari saya tidak bisa melupakan trauma psikomotik Karel itu.
Ada apa dalam diri Karel?
"Sudahlah, kamu lupakan kisah kasih pasir putih itu, Tandi," ucap Dikcy Gedy, "Kamu laporkan saja soal lainnya ke boss kamu di Jurnalisme Gerr itu.”
Ternyata sulit untuk dilupakan.
Sinar mata sunyi lelaki tua itu, ketakutan-ketakutan itu, dan menolog cinta itu mustahil saya lupakan. Saya ingin mempertemukan Derisna dengan Karel Yewun. Ini pun bila Derisna masih hidup. Caranya?
Saya kirim draft investigasi ke Foeza Hutabarat dalam bentuk cerpen bertajukl "Deritamu, Derisna" Dua hari kemudian, telepon HP berdering. Saya angkat kop telepon.
"Ini08170215628, Manokwari, rumah Bapak Tandi Skober?"
"Ya, saya sendiri," jawabku.
"Nama saya Frederich," ucapnya bersemangat, "Kapten Infanteri Frederich MF Yewun. Saya baca investigasi Bapak di Buletin Gerr. Saya yakin Karel Yewun itu ayah saya. Ibu saya bernama Derisna."
Bah! Luar bisa. Ini angin surga. "Ibu Derisna masih hidup kan?" tanyaku.
"Ibu sehat, Pak. Dan tetap menanti ayah." Suara itu agak tersendat. "Saya akan menjemput ayah."

***

KAREL Yewun menatap lurus kapal Rinjani yang bersandar di pelabuhan Manokwari. Sorot matanya tajam. Dan dari ketinggian bukit Jipang, lelaki tua bertelanjang dada itu tiarap. Lantas merayap di antara deret pohon Arokakia di atas tanah becek menuju bibir bukit. Setiap kali melewati akar-akar pohon raksasa itu, ia mendongakkan kepala menatap laut, kapal, dan deret Pegunungan Arfak. Persis di bibir bukit, Karel memeluk akar pohon besar matoa. Di ujung atas pohon itu ada anggrek
hutan eucaolitus. Ia ingin raih anggrek itu. Tapi mustahil. Sesaat Karel menghela napas. Tapi pada saat lain ia kembali menatap laut, kapal, dan deret Pegunungan Arfak.
Hingga ketika sirene stoom kapal memuncratkan suara khas, menyentak memasuki gendang telinganya, Karel pun berdiri dan berteriak: "Saya punya anak pulang!"
Teriakan lelaki tua, hitam keriting itu diucapkan berkali-kali. Ia lebarkan tangan seraya berteriak, "Ooooi.Fioro kwar kamam iwape. Romawa ayeja ibur ma dun ori" (Sudah lama ayah menanti. Kini anakku pulang membawa matahari). Dan Karel lari makin kencang bagai kijang. Menuruni bukit,
menerobos hutan, menuruni bukit, memasuki Kota Manokwari. Di setiap langkahnya itu ia nyanyikan lagu "Madun Ori".
Di dermaga pelabuhan, saya jabat erat Karel Yewun. Ia menatapku.
Dahinya berkerut.
"Bapak Tandi Skober? “
“Hmm…yah. Tadinya mau meliput sepak bola..”
“Bapak orang baik. Tuhan memberkati Bapak. Apakah Bapak mau jemput Bapak punya istri?"
Saya tersenyum. Ia juga tersenyum. "Bapak bisa bawa saya naik ke kapal lagi kan?" pintanya, "Kapal ini pasti membawa saya punya maitua dan anak."
Saya mengangguk. Soalnya di belakang Karel ada wanita setengah baya, berkebaya batik motif mega mendung yang dipadu dengan selendang motif tifa Papua. Wanita itu adalah Derisna. Saya pegang bahu Karel.
"Coba Bapak lihat siapa di belakang Bapak," ucapku.
Karel Yewun membalikkan tubuhnya. Ia terpana. Derisna menunduk, menangis. Detik waktu berdetak. Dan? Ah, saya saksikan kisah kasih teramat manis untuk disimak. Kedua manusia yang terpisah 29 tahun itu berpelukan, berbisikan dan saling melepaskan rindu.
Sementara Kapten Infanteri Frederich MF Yewun yang berseragam tentara lengkap dengan
senjata laras panjangnya, juga menunduk. Ia saksikan temu kasih kedua orang tuanya.
Frederich melangkah mendekati ayahnya.
Karel Yewun menatap Frederich seraya masih memegangi wajah istrinya.
Frederich menghela napas panjang. Ia ingin memeluk erat ayahnya itu. Itulah sebabnya ia menempatkan senjata laras panjangnya di belakang punggung. Melihat senjata itu, Karel ketakutan. Tubuhnya gemetar. Keringat mengucur deras. Lantas, terduduk ambruk, memeluk kaki Frederich seraya meratap, "Ampun Bapak tentara. Ampun Bapak Tentara Jawa. Kami mau masih hidup, Bapak. Ampun. Bapak jangan tembak kami! Bapak boleh ambil pisang kami. Bapak boleh ambil kami punya banyak sagu. Tapi jangan tembak kami! Bapak lihat saya punya istri juga orang Jawa. Bapak…ampun…bapak. "
Air mata lelaki tua itu mengalir membasahi sepatu lars Frederich. Mengalir, menetes di tanah Papua.
Usai itu sunyi. Tak ada ratapan Karel Yewun. Lelaki tua di tepi laut itu dijemput pemilik kehidupan. Mati.
Senyap.
Saya kesal. "Seharusnya Frederich tidak berseragam tentara saat menjemput ayahnya itu," ucapku lirih.

Bandung, 11 June 2009 09:24:41



ISTRI LEBIH DARI SATU, WAY NOT?

Dua wanita di FB ini, dua hari ini, Nana dan Sanny Andari, luncurkan opini poligami. (Hmmm, sajak berakhiran huruf /i/ he he he puitis banget aku ini) Bagi manusia berkelamin lelaki, seperti redpel Kardy, reporter Tandi dan esais AS Atmadi, membuat ingin berlari, mengejar obsesi, yang kerap hadir dalam mimpi, untuk punya istri lebih dari sati. “Tandi, “ucap lirih Pemimpin Redaksi Foeza Hutabarat,”Kamu harus bisa bikin investigasi soal poligami. Sebelumnya kamu baca dulu opini Nana Zain dan Sanny. Ngerti?”
Aku mengangguk. Seperti makan obat, opini dua wanita itu aku baca sehari tiga kali. Hasilnya? Luar biasa! Tiba-tiba saya ingin punya istri lagi. Berikut hasil investigasi dalam bentuk wawancara saya dengan diri saya.

Tandi : Ok, Skober… ini pikiran yang diparkir di tempat yang salah.
Skober: Loh! Apa salah? Allah SWT merekomendasikan untuk beristri 2,3 dan 4 dalam Surah An Nisa ayat 3? “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan (yatim) maka nikahilah yang kamu senangi dari wanita-wanita (lain): dua, tiga atau empat. Lalu jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka seorang saja, atau hamba sahaya wanita yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniyaya.”
Tandi: Ayat itu amat jelas informasikan ” nikailah apa yang kamu senangi.” Bukan “nikailah siapa yang kamu senangi.” Apa artinya? Beda betul antara kata ‘apa’ dan ‘siapa’! Apa lebih dimaknai sebagai sesuatu yang melekat pada eksitensi seseorang. Bisa bermakna kata sifat, propesi, status dll dll. Orang bertanya ‘Apa kerjaan SBY?’ maka iklan menjawab “Bekerja untuk Rakyat” Lantas kalau dibalik “Siapa yang bekerja untuk rakyat” Maka dijawab “ Mantri suntik bernama Nina Zuliani yang tak pernah lelah melayani rakyat berobat ke puskesmas.”
Skober: Tapi tetep kan bisa beristri 2,3,4 ?
Tandi: Tidak dianjurkan untuk itu! Itu sudah jelas! Kata tuqsithu dan ta’dilu bermakna adil. Apa itu adil? Sebuah abstraksi gelap dalam sebuah kamar tanpa cahaya yang tidak bisa terdifinasikan. Dan ingat! Infomasi 2,3,4 itu dikaitkan dengan tuntutan keadilan terhadap anak yatim.
Skober:Artinya aku bisa nikahi para ibu dari sekian anak yatim? Seperti kata penyanyi Faiz Alatas “Banyak janda kuik-kuik dunia belum kiamat”
Tandi : Jangan buat joke! Ini seriu!
Skober: Maksud aku begini. Pria tidak pernah mengalami manopause. Syahwat pria jauh lebih panjang tak berbaras usia. Fakta menunjukan wanita seperti pohon karet yang pada usia tertentu tidak lagi keluarkan getah kenikmatan. Fakta mengatakan usia wanita lebih panjang dari lelaki. Fakta bicara bahwa manusia kawin antara lain dibutuhkan agar terjadinya temu kelamin….
Tandi: Itulah sebabnya Islam tidak melarang juga mengharuskan poligami! Dalam bahasa sederhana begini wahai Skober. Kamu berpenyakit kolestrol. Di atas meja makan ada 4 wanita bernama rendang daging, opor kambing, empal gentong, sambel goreng ati. Maka aku berkata “Kalau kamu takut tidak sakit kolestrol, maka ayo makan rendang, opor kambing, empal gentong, sambel goreng ati…..” Nah loh? Apa artinya? Ini gaya bahasa memerintah untuk tidak dilaksanakan.
Skober: Jadi? Aku makan apa?
Tandi: Makan yang biasa kamu makan. Kamu biasanya makan apa?
Skober: Istriku selalu masak daun ubi tumbuk. Emang sih ada ikan. Tapi ikan itu cukup dicelupkan sekitar tiga menit. Terus diangkat lagi. Disimpan lagi. Untuk dicelupkan lagi ke esokan harinya. Terus menerus begitu menu makananku.
Tandi:Yah sudah! Itu takdir kamu. Coba kalau kamu dulu jadi kawin dengan wanita padang pasti kamu disuguhi tiap hari ikan kepala kakap. Atau kamu kawin dengan perempuan Manado menu tiap harinya bubur, bubur dan terus bubur. Atau kamu kawin dengan cewek sensual Madura, kamu pasti dimasakin tongkat madura dan jamu sari rapet.

Skober diam. Ia pandangi istrinya bernama Nuriah Daulay. Lama dan amat lama. Ada alur cahaya subuh menerobos masuk dari kisi-kisi jendela menyentuh kacamata istrinya. Ia dengar suara risau istrinya membacakan Surah An Nisa ayat 129 “ Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat belaku adil di antara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian…….”
Skober membuka kacamata istrinya.
“Masih tetep keukeh ingin beristri lagi?” sapa istriku.
Skober mencium lembut kain mukenah yang dipakek istrinya. “Angan-angan manusia cenderung liar melebihi batas usianya, Nur,”ucap Skober lirih.
“Artinya kamu meyakini anagn-angan itu sebuah pembenaran untuk kawin lagi?”
Skober menggelengkan kepalanya.”Nur, ada tidak informasi dari Al Quraan yang khabarkan di surga kelak, tiap pria akan mendapatkan bidadari prawan suci lebih dari satu dan tetap prawan meski dipakek jutaan kali?”
“Insya Allah ada.”balas pendek Nuriah,
“Dan kamu?”tanya Skober.
“Insya Allah, aku ,istrimu ini, salah satu dari bidadari itu.”
Skober memeluk istrinya erat dan amat erat! Ia elusi alis mata istrinya……..

Bandung,10 June 20090 9:27:16




GAJI KE 13 PNS/ABRI: SIAPA YANG UNTUNG SBY. MEGA ATAWA JK?

Dari Redaksi
Indonesia, hari ini, masih diharu-biru berita-berita seputar Manoarah, Heli Gug Gug Jatuh, Kunjungan Anggota DPR RI ke Malaysia, Ambalat, juga persiapan peresmian jembatan Sarimadu. Berikut berita pilihan redaksi. Monggo pinarak………

Wassalam
Pemimpin Redaksi
ttd/cap jempol
FOEZA HUTABARAT

Monas Jakarta (09/06), Meski PNS kerap diakronimkan sebagai Pegawai Negeri Soliter disebabkan lebih suka main game soliter dibandingkan kerja main-main, toh pemerintah tutup mata dan keukeuh merencanakan memberikan gajih ke 13. Tapi hingga berita ini diturunkan, gajih ke 13 itu tak jua kunjung datang. Kenapa? “Loh, sekarang kan masih bulan ke-6,”komentar Menteri Duwit Sri Mulyasari kepada Kardy Syaid di dalam bus antarkota Mulya Bakti,”Namanya saja gajih ke 13 yah nanti setelah bulan ke-12.” Tidak dijelaskan oleh Sri apa memang ada bulan ke 13 setelah bulan Desember. Tapi dapat dipastikan kalender 2009 di beberapa negara masih menganut paham satu tahun itu 12 bulan.
Dari sumber lan, yang layak tidak dipercaya konon tak jua turunnya gajih ke 13 ini disebabkan LSI belum melaporkan hasil survey “Kandidat mana yang diuntungkan apabila Gajih ke 13 diluncurkan 15 hari sebelum Pilpres.”
Tim Sukses JK kepada Bu Letin berujar,”JK Win akan diuntungkan! Kau tengok Iklan, Kardy,”ujar Surya,” Orang tahu dan ngerti betul bahwa sukses swasembada beras berkat JK kan? Demikian juga gajih ke 13. Siapa yang mati-matian mempertahankan agar PNS/ABRI/Pensiunan dapat gaji ke-13? Yah JK! JK kan singkatn dari Janjikan Kesejahteraan.”
Sementara di tempat lain, Tim sukses SBY lebih andap asor, “Begini, Tandi,”ucap Andi Malahriang,” Pak SBY itu tahu betul gajih aparatur negara masih jauh panggang dari api. Maka bagaimana caranya agar panggang dan api itu dekat? Yah diberi gaji ke 13. Ini insisiatip asli SBY! Kamu kan tahu apa itu singkatran SBY? Sejahtera Bahagia hingga ke Yanakcucu!”
Gaji ke 13 juga ditunggu tim sukses Mega Pro. “Ohhhhh, bukan SBY atau JK, DPR lah yang menentukan adanya gaji ke 13 itu! “ucap Effendi Naibaho kepada Reni Teratai Air,”Sama seperti BLT. Lihat saja nanti! Pas gajih ke 13 turun, akan kami bentuk tim peneliti kantong PNS/Pensiunan/ABRI. Apa gajih ke 13 itu utuh diterima atau potong sanah-sinih.”
Lantas siapa yang diuntungkan bila gajih ke 13 turun pra pilpres? “Yah Prabowo! “ungkapTyas RSPD kepada Bu Letin,”Kenapa? Anak begawan ekonomi bernama Prabowo itu tahu betul bahwa tingkat penghasiln PNS yang dijewantahkan dalam gajih ke 13 akan berbadning lurus dengan tingkat kenaikan pulsa prabayar….”

Amir Taqi's Works

Amir Taqi's Works

Popular Posts

Related Blog or Site

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kostum - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger | Distributed by Rocking Templates